Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Jadwal Imunisasi Bayi Lengkap Anjuran IDAI Terbaru

Morinaga Platinum ♦ 2 Februari 2023

 Jadwal Imunisasi Bayi Lengkap Anjuran IDAI Terbaru

Imunisasi bayi merupakan langkah penting untuk melindungi Si Kecil dari berbagai penyakit serius seperti hepatitis B, polio, difteri, pertussis, tetanus, dan lainnya. Pemberian vaksin dilakukan secara bertahap sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dengan mengikuti jadwal imunisasi yang telah ditetapkan, bayi mendapatkan perlindungan optimal sejak dini terhadap berbagai infeksi yang dapat dicegah.

Penting bagi Bunda untuk tidak melewatkan jadwal imunisasi agar daya tahan tubuh Si Kecil dapat terbentuk dengan baik. Beberapa vaksin harus diberikan dalam rentang waktu tertentu untuk memastikan efektivitasnya. Oleh karena itu, memahami jadwal imunisasi serta manfaatnya sangat diperlukan untuk memberikan perlindungan maksimal kepada bayi.

Tujuan Imunisasi Dasar

Imunisasi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh bayi terhadap berbagai penyakit yang berpotensi membahayakan kesehatannya. Vaksin bekerja dengan merangsang sistem imun tubuh untuk mengenali dan melawan virus atau bakteri tertentu. Dengan imunisasi, bayi dapat memiliki perlindungan yang lebih baik sehingga risiko terkena penyakit dapat diminimalkan.

Manfaat utama dari imunisasi adalah mencegah penyakit menular yang dapat berakibat fatal, mengurangi penyebaran penyakit dalam masyarakat, serta menekan angka kematian bayi akibat infeksi yang dapat dicegah. Selain itu, imunisasi juga mengurangi kebutuhan pengobatan dan rawat inap akibat penyakit serius, sehingga membantu menghemat biaya perawatan medis jangka panjang.

Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI

Sejak tahun 2023, IDAI telah memperbarui pedoman imunisasi untuk anak-anak. Jadwal imunisasi ini mencakup vaksin yang diberikan sejak bayi baru lahir hingga anak berusia 18 tahun. Berikut ini adalah jadwal lengkap imunisasi bayi dan anak berdasarkan kategori usia.

Imunisasi Bayi Usia 0-8 Bulan

Pada usia ini, bayi harus mendapatkan beberapa vaksin dasar seperti Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Hib, PCV, Rotavirus, dan Influenza. Imunisasi Hepatitis B diberikan segera setelah bayi lahir dan sebelum 24 jam untuk mengurangi risiko infeksi. Vaksin Polio juga diberikan sejak lahir dalam bentuk oral poliovirus vaccine (OPV) dan inactive poliovirus vaccine (IPV) yang diberikan secara bertahap hingga usia 4 bulan.

Imunisasi BCG diberikan untuk melindungi bayi dari tuberkulosis dan sebaiknya diberikan sebelum usia 1 bulan. Vaksin DPT yang melindungi dari difteri, tetanus, dan pertusis diberikan pertama kali saat bayi berusia 2 bulan dan diulang pada usia 3 dan 4 bulan. Imunisasi Hib yang melindungi dari meningitis dan pneumonia diberikan dalam kombinasi dengan DPT.

Bunda perlu mengetahui gejala TB paru atau flek paru-paru agar memahami betapa pentingnya imunisasi BCG. Mari baca tentang TB ini di sini ya, Bun: Gejala dan Cara Mengobati Flek Paru-paru pada Anak.

Selanjutnya, imunisasi PCV bertujuan untuk mencegah infeksi bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan pneumonia dan meningitis. Vaksin ini diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dengan dosis tambahan antara 12-15 bulan. Vaksin Rotavirus diberikan untuk mencegah diare berat akibat infeksi rotavirus, dengan dosis pertama diberikan pada usia 6 minggu dan dilanjutkan sesuai jenis vaksin yang digunakan. Imunisasi Influenza dianjurkan sejak bayi berusia 6 bulan dan diulang setiap tahun untuk memberikan perlindungan maksimal.

Nah, bagaimana cara pemberian vaksinnya? Mari simak penjelasannya di sini, Bunda: Apa Itu Imunisasi PCV, dan untuk Apa Diberikan?

Imunisasi Bayi Usia 9-24 Bulan

Setelah usia 9 bulan, bayi mulai mendapatkan vaksin tambahan yang melindungi dari campak, rubella, dan penyakit lainnya. Vaksin MR diberikan pertama kali pada usia 9 bulan, diulang pada usia 15-18 bulan, dan terakhir pada usia 5-7 tahun. Jika bayi belum mendapat vaksin MR hingga usia 12 bulan, vaksin MMR dapat diberikan mulai usia 12-15 bulan dengan dosis kedua pada usia 5-7 tahun.

Vaksin Japanese Encephalitis (JE) diberikan pada usia 9 bulan untuk bayi yang tinggal atau bepergian ke daerah endemis seperti Bali dan Yogyakarta. Vaksin Varisela diberikan mulai usia 12-18 bulan untuk mencegah cacar air. Anak-anak yang belum pernah terkena varisela dianjurkan mendapatkan dua dosis vaksin dengan jarak 6 minggu hingga 3 bulan.

Namun, bagaimana jika ia terlanjur mengalami cacar air sebelum sempat divaksin? Tenang ya Bun, ada beberapa hal yang dapat Bunda lakukan untuk menghadapinya. Untuk mendapatkan penjelasan lengkapnya, yuk baca artikel ini: Gejala Cacar Air Pada Anak dan Cara Mencegahnya.

Selanjutnya, imunisasi Hepatitis A diberikan pada usia 1 tahun dengan dosis kedua setelah 6-18 bulan untuk perlindungan jangka panjang. Selain itu, vaksin Pneumokokus dan Meningokokus dapat diberikan untuk meningkatkan perlindungan terhadap infeksi serius yang menyerang sistem pernapasan dan sistem saraf.

Imunisasi Anak Usia 2-18 Tahun

Pada usia di atas 2 tahun, vaksinasi tetap diperlukan untuk memperpanjang perlindungan terhadap penyakit tertentu. Vaksin Tifoid diberikan pada usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun untuk mencegah demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri salmonella. Vaksin HPV diberikan untuk mencegah infeksi human papillomavirus yang dapat menyebabkan kanker serviks, vulva, vagina, dan penis. Pemberian vaksin HPV dianjurkan untuk anak perempuan dan laki-laki berusia 9-14 tahun dalam dua dosis dengan jarak 6-15 bulan.

Vaksin Dengue diberikan pada anak usia 9-16 tahun dalam tiga dosis dengan interval 6 bulan untuk mencegah infeksi demam berdarah yang disebabkan oleh virus dengue. Selain itu, vaksin Influenza tetap dianjurkan setiap tahun, terutama bagi anak-anak dengan kondisi medis tertentu yang berisiko mengalami komplikasi akibat flu.

Apakah Imunisasi Harus di Tanggal yang Sama?

Idealnya, imunisasi diberikan sesuai dengan jadwal yang telah direkomendasikan oleh IDAI. Namun, ada beberapa keadaan di mana imunisasi bisa ditunda atau dijadwalkan ulang, seperti jika bayi sedang sakit atau mengalami kondisi medis tertentu. Jika imunisasi tertunda, penting untuk segera menghubungi dokter anak untuk menentukan jadwal vaksinasi yang tepat agar Si Kecil tetap mendapatkan perlindungan optimal.

Penundaan imunisasi tidak berarti vaksin menjadi tidak efektif, tetapi semakin lama tertunda, semakin besar risiko bayi terkena penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Oleh karena itu, segera selesaikan jadwal imunisasi yang tertunda agar bayi tetap mendapatkan perlindungan maksimal.

Dampak Jika Bayi Tidak Imunisasi

Tidak memberikan imunisasi pada bayi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit berbahaya seperti campak, polio, hepatitis, dan meningitis. Penyakit-penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian. Selain itu, bayi yang tidak divaksinasi juga berisiko menyebarkan penyakit ke orang lain, terutama kepada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Ketika sebagian besar anak telah mendapatkan imunisasi, akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity) yang dapat melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit menular. Namun, jika banyak bayi tidak divaksinasi, maka risiko wabah penyakit akan meningkat. Oleh karena itu, imunisasi tetap menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan anak dan mencegah penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi.

Bunda, jangan khawatir jika Si Kecil mengalami demam setelah mendapatkan imunisasi. Ini merupakan reaksi normal tubuh dalam membentuk kekebalan. Jika Si Kecil mengalami demam ringan, Bunda dapat mengatasinya dengan cara yang tepat. Simak langkah-langkah mengatasi demam setelah imunisasi di sini: Cara Mengatasi Bayi Demam Setelah Imunisasi.

Referensi:
CDC. Child and Adolescent Immunization Schedule by Age. Diakses pada 15 Desember 2023. https://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/child-adolescent.html

IDAI. Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2023. Diakses pada 15 Desember 2023. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-anak-idai