Anemia pada ibu hamil beserta penyebab, gejala, bahaya, dan pencegahannya

Morinaga Platinum ♦ 20 Oktober 2020
Anemia pada ibu hamil beserta penyebab, gejala, bahaya, dan pencegahannya

Anemia pada ibu hamil adalah kondisi saat kadar hemoglobin (Hb) dalam darah turun di bawah batas normal kehamilan, yaitu di bawah 11 g/dL pada trimester pertama dan ketiga, serta di bawah 10,5 g/dL pada trimester kedua (World Health Organization [WHO], 2024). Kondisi ini umum terjadi karena kebutuhan zat besi Bunda meningkat tajam selama hamil.

Anemia saat hamil cukup sering ditemui di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar 3 dari 10 ibu hamil mengalami anemia (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan [BKPK], 2024), sementara secara global WHO memperkirakan angkanya 37 persen pada 2019 (WHO, 2025). Kondisi ini bisa dikenali sejak awal lewat pemeriksaan darah sederhana saat kontrol kehamilan, dan sebagian besar kasusnya bisa ditangani bila ketahuan lebih dini.

Kenapa ibu hamil mudah mengalami anemia?

Selama hamil, volume darah Bunda bertambah untuk mencukupi kebutuhan rahim, plasenta, dan janin yang terus tumbuh. Cairan darah biasanya bertambah lebih banyak daripada sel darah merahnya, sehingga kadar Hb ikut turun walaupun tubuh sedang bekerja normal. WHO menyebut pertambahan volume darah ibu sebagai salah satu penyebab anemia di masa kehamilan (WHO, 2025).

Kebutuhan zat gizi juga naik seiring membesarnya rahim, payudara, dan plasenta, serta pertumbuhan janin dari bulan ke bulan. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, ibu hamil berisiko mengalami anemia, dan anemia yang sudah ada bisa bertambah berat (Kementerian Kesehatan RI [Kemenkes], 2023). Kekurangan zat besi adalah penyebab gizi yang paling sering, disusul kekurangan asam folat, vitamin B12, dan vitamin A, sedangkan infeksi seperti malaria dan cacingan serta kelainan darah bawaan seperti thalassemia juga bisa berperan (WHO, 2025; Kemenkes, 2023).

Cadangan zat besi sebelum hamil ikut menentukan. Kemenkes mencatat pola makan masyarakat Indonesia rata-rata masih kurang sumber zat besi, dan menstruasi yang lama serta banyak sebelum hamil bisa menguras cadangan tersebut (Kemenkes, 2023). Jarak kehamilan yang dekat juga sering dibahas dokter, karena tubuh punya waktu lebih singkat untuk mengganti zat besi yang terpakai dan hilang saat hamil serta bersalin sebelumnya.

Gejala anemia saat hamil yang sering dianggap biasa

Anemia ringan sering tidak terasa, atau gejalanya mirip keluhan hamil pada umumnya. Kemenkes menyebut keluhan awal ini sebagai 5L, yaitu lesu, letih, lemah, lelah, dan lalai (mudah lupa serta sulit berkonsentrasi) (Kemenkes, 2023). Karena hampir semua ibu hamil pernah merasa capek, gejala ini mudah dianggap wajar dan dibiarkan.

WHO mencatat gejala umum anemia berupa rasa lelah, pusing atau kepala terasa ringan, tangan dan kaki dingin, sakit kepala, serta sesak napas saat beraktivitas. Pada anemia yang lebih berat, kulit, kuku, dan bagian dalam kelopak mata tampak pucat, napas serta detak jantung menjadi cepat, kepala pusing saat berdiri, dan kulit mudah memar (WHO, 2025). Napas yang tersengal setelah menaiki satu lantai tangga, padahal dulu biasa saja, adalah contoh perubahan yang layak Bunda ceritakan ke bidan atau dokter.

Dalam percakapan sehari-hari, anemia sering disebut darah rendah, padahal istilah yang sama juga dipakai untuk tekanan darah rendah (hipotensi). Keduanya kondisi yang berbeda. Anemia diketahui dari kadar Hb lewat pemeriksaan darah, sedangkan tekanan darah diukur dengan tensimeter, jadi hasil tensi yang normal belum tentu berarti Hb Bunda juga normal.

Anemia ringan, sedang, dan berat pada ibu hamil

WHO membagi anemia kehamilan menjadi tiga tingkat berdasarkan kadar Hb. Pada trimester pertama dan ketiga, anemia ringan berarti Hb 10 sampai 10,9 g/dL, anemia sedang 7 sampai 9,9 g/dL, dan anemia berat di bawah 7 g/dL. Pada trimester kedua, batasnya sedikit lebih rendah, yaitu 9,5 sampai 10,4 g/dL untuk anemia ringan, 7 sampai 9,4 g/dL untuk anemia sedang, dan di bawah 7 g/dL untuk anemia berat (WHO, 2024).

Gejalanya biasanya makin jelas seiring turunnya Hb. Pada anemia sedang, jantung mulai sering berdebar, Bunda lebih cepat lelah saat aktivitas biasa, napas terasa sesak, dan wajah tampak lebih pucat. Anemia berat bisa disertai kelelahan berkepanjangan, menggigil, jantung berdebar cepat, nyeri dada, dan gangguan fungsi organ lain (Kemenkes, 2023).

Tingkat anemia ditentukan oleh dokter atau bidan berdasarkan hasil laboratorium, dan penanganannya menyesuaikan tingkat tersebut. Jadi angka Hb di lembar hasil sebaiknya dibicarakan langsung dengan tenaga kesehatan, terutama bila Bunda belum yakin masuk kategori yang mana.

Bahaya anemia bagi Bunda dan janin

Anemia selama hamil berhubungan dengan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan kematian ibu (WHO, 2025). Kemenkes menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi pada kehamilan meningkatkan risiko komplikasi perdarahan yang berujung pada naiknya risiko kematian ibu, serta dapat menghambat pertumbuhan janin sehingga bayi lahir prematur, dengan berat badan lahir rendah, atau dengan panjang badan lahir rendah (Kemenkes, 2023).

Dampaknya juga bisa berlanjut setelah bayi lahir. Bayi yang lahir prematur atau dengan BBLR punya risiko stunting yang lebih tinggi, sehingga anemia saat hamil ikut diperhitungkan dalam upaya menurunkan angka stunting serta kematian ibu dan bayi di Indonesia (Kemenkes, 2023). Bagi Bunda sendiri, dampak jangka pendeknya terasa sehari-hari, misalnya produktivitas, kebugaran, dan daya tahan tubuh yang menurun.

Risiko ini bukan kepastian, dan sebagian besar dapat ditekan bila anemia ditemukan dan ditangani sejak awal. Pemeriksaan rutin dan konsumsi tablet tambah darah yang teratur adalah dua langkah yang paling banyak membantu.

Efek Hb rendah di trimester ketiga

Trimester ketiga adalah masa menjelang persalinan, dan perdarahan saat atau setelah melahirkan termasuk penyebab anemia pada ibu (WHO, 2025). Bunda yang memasuki persalinan dengan Hb rendah punya cadangan darah yang lebih tipis bila perdarahan terjadi. Pemeriksaan Hb di trimester ketiga sesuai panduan Kemenkes memberi kesempatan bagi bidan atau dokter untuk memperbaiki kondisi ini sebelum hari persalinan tiba.

Pemeriksaan Hb saat kontrol kehamilan

Kemenkes menganjurkan pemeriksaan Hb minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada trimester pertama dan trimester ketiga, sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) (Kemenkes, 2023). Pemeriksaan ini tersedia di puskesmas, praktik bidan, maupun dokter kandungan, dan biasanya disertai konseling tentang gizi serta bahaya anemia.

Melalui ANC, ibu hamil juga mendapat tablet tambah darah (TTD) yang berisi zat besi setara 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat. Kemenkes memberikan TTD kepada semua ibu hamil tanpa melihat status anemia, dengan dosis 1 tablet setiap hari selama kehamilan, dan TTD tetap dianjurkan walaupun hasil Hb Bunda normal (Kemenkes, 2023). Bila pemeriksaan menunjukkan anemia, dosisnya disesuaikan oleh tenaga kesehatan berdasarkan tata laksana anemia.

Langkah mencegah anemia selama hamil

Pola makan bergizi seimbang adalah dasar pencegahannya. Kemenkes menganjurkan makanan kaya zat besi dengan protein hewani yang cukup, seperti daging, ikan, dan unggas, ditambah buah dan sayur sumber vitamin C seperti jeruk dan tomat untuk membantu penyerapan zat besi (Kemenkes, 2023). NUTRISI harian yang terjaga sejak awal kehamilan membantu TTD bekerja lebih baik.

Waktu minum juga perlu diperhatikan. Teh, kopi, susu, tablet kalsium, dan pereda maag sebaiknya diminum dua jam sebelum atau sesudah TTD, karena bisa mengurangi penyerapan zat besi (Kemenkes, 2023). Kebiasaan menutup makan siang dengan segelas teh manis, misalnya, bisa digeser ke sore hari supaya tidak berbarengan dengan tablet.

Sebagian ibu hamil merasa kurang nyaman di perut setelah minum TTD, dan tinja bisa berwarna hitam. Kemenkes menyebut tinja hitam sebagai hal normal karena zat besi yang tidak terpakai dibuang tubuh, dan menyarankan TTD diminum satu jam sesudah makan malam sebelum tidur untuk mengurangi keluhan (Kemenkes, 2023).

Kapan Bunda perlu segera ke dokter?

Segera periksakan diri bila Bunda mengalami sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar cepat, pusing hingga hampir pingsan, atau wajah dan kuku tampak makin pucat. Keluhan ini termasuk tanda anemia sedang sampai berat yang perlu dinilai langsung oleh dokter atau bidan (Kemenkes, 2023).

Bicarakan juga dengan tenaga kesehatan bila keluhan setelah minum TTD membuat Bunda sulit meminumnya setiap hari. Hindari berhenti atau menambah dosis sendiri, karena dokter atau bidan bisa membantu mencari cara minum yang lebih nyaman atau pilihan lain yang sesuai. Bila ada riwayat thalassemia dalam keluarga, sampaikan sejak kunjungan pertama, karena anemia jenis ini tidak berasal dari kekurangan zat besi dan penanganannya berbeda.

Referensi

  • World Health Organization. (2024). Guideline on haemoglobin cutoffs to define anaemia in individuals and populations. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240088542
  • Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2024, 13 Juni). Pemanfaatan data SKI 2023 untuk evaluasi program. Kementerian Kesehatan RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/pemanfaatan-data-ski-2023-untuk-evaluasi-program/
  • World Health Organization. (2025, 10 Februari). Anaemia [Fact sheet]. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/anaemia
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Buku saku pencegahan anemia pada ibu hamil dan remaja putri. Kemenkes RI. https://ayosehat.kemkes.go.id/pub/files/197ed157db03c65a4d1be68182613638.pdf