Apa itu preeklamsia dan apa dampaknya bagi Bunda dan janin?

Morinaga Platinum ♦ 1 Januari 2020
Apa itu preeklamsia dan apa dampaknya bagi Bunda dan janin?

Preeklamsia adalah gangguan tekanan darah tinggi dalam kehamilan yang biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, dengan tensi 140/90 mmHg atau lebih dan sering disertai protein dalam urin. Kondisi ini dapat memengaruhi ginjal, hati, otak, dan plasenta, sehingga berisiko bagi Bunda maupun janin bila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini (World Health Organization, 2026; RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Banyak ibu hamil tidak merasakan apa pun ketika tensinya mulai naik, dan karena itu setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan selalu dimulai dengan pengukuran tekanan darah. Sampel urin yang diminta bidan di beberapa kunjungan juga dipakai untuk mencari protein, tanda lain dari kondisi yang sama. Preeklamsia termasuk kelompok gangguan hipertensi pada kehamilan, bersama hipertensi gestasional dan eklamsia (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Apa penyebab preeklamsia pada ibu hamil?

Penyebab pastinya sampai sekarang belum diketahui. Para ahli mengaitkan preeklamsia dengan gangguan pembentukan pembuluh darah di plasenta, organ yang menyalurkan oksigen dan nutrisi dari Bunda ke janin. Ketika pembuluh darah ini tidak berkembang dengan baik, aliran darah ke plasenta berkurang, dan kondisi itulah yang dikaitkan dengan munculnya preeklamsia (Fazona, 2023).

Beberapa kondisi membuat risikonya lebih tinggi. Kehamilan pertama, kehamilan kembar, riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya atau pada keluarga dekat, usia ibu di bawah 18 tahun atau di atas 35 tahun, dan obesitas termasuk di dalamnya (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025). Penyakit yang sudah ada sebelum hamil, seperti hipertensi kronis, diabetes, penyakit ginjal, serta lupus atau penyakit autoimun lain, juga ikut menaikkan risiko (NHS, 2026).

Punya satu atau dua faktor risiko tidak berarti Bunda pasti mengalami preeklamsia. Yang berubah adalah tingkat pemantauannya, karena dokter atau bidan perlu mengawasi lebih ketat sejak awal kehamilan (World Health Organization, 2026). Ceritakan riwayat kesehatan Bunda dan keluarga selengkap mungkin pada kunjungan pertama, termasuk tekanan darah tinggi yang pernah muncul di kehamilan sebelumnya.

Ciri-ciri preeklamsia yang perlu Bunda kenali

Dua tanda utamanya, tekanan darah tinggi dan protein dalam urin, biasanya tidak terasa sama sekali. Keduanya baru ketahuan lewat pemeriksaan rutin, dan sebagian ibu hamil memang tidak mengalami gejala apa pun sampai kondisinya cukup lanjut (World Health Organization, 2026).

Ketika gejala muncul, yang paling sering dilaporkan adalah sakit kepala hebat yang tidak membaik dengan pereda nyeri, pandangan kabur atau melihat kilatan cahaya, serta nyeri di bawah tulang rusuk atau di ulu hati yang kadang terasa seperti maag yang tidak kunjung reda. Gejala lain yang perlu dicatat adalah bengkak mendadak di wajah, tangan, atau kaki, mual dan muntah, badan terasa sangat tidak enak, dan sesak napas (NHS, 2026; Fazona, 2023). Kenaikan berat badan yang tiba-tiba dan jumlah urin yang berkurang juga termasuk tanda yang perlu diperhatikan (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Soal bengkak, banyak Bunda yang ragu, karena kaki sedikit bengkak di sore hari cukup umum di trimester ketiga. Yang perlu diwaspadai adalah bengkak yang datang tiba-tiba, terutama di wajah dan tangan, misalnya cincin yang mendadak terasa sesak atau wajah yang tampak sembab saat bangun tidur. Untuk bengkak kaki yang biasa, Bunda bisa membaca tips mengatasi kaki bengkak saat hamil tua, tetapi bengkak mendadak yang disertai sakit kepala atau gangguan penglihatan perlu diperiksakan hari itu juga.

Dampak pada janin jika ibu hamil mengalami preeklamsia

Sebagian besar dampak pada janin berawal dari plasenta yang tidak bekerja optimal. Aliran darah yang berkurang membuat pasokan oksigen dan nutrisi ke janin ikut terbatas, sehingga pertumbuhannya bisa terhambat (kondisi yang disebut pertumbuhan janin terhambat) dan bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah (World Health Organization, 2026; Fazona, 2023).

Risiko berikutnya adalah kelahiran prematur. Preeklamsia sering mengharuskan bayi dilahirkan lebih awal demi keselamatan Bunda dan janin, sehingga bayi lahir sebelum cukup bulan. Bila persalinan perlu dimajukan, dokter dapat memberikan kortikosteroid untuk membantu mematangkan paru-paru janin sebelum lahir (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Komplikasi yang paling mendesak adalah solusio plasenta, yaitu lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan mengurangi pasokan oksigen ke janin secara mendadak (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025). Pada kasus berat yang tidak tertangani, preeklamsia juga dapat berujung pada kematian janin dalam kandungan (World Health Organization, 2026).

Risiko preeklamsia bagi kesehatan Bunda

Preeklamsia yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi eklamsia, yaitu kejang pada ibu hamil yang termasuk keadaan gawat darurat. Pada preeklamsia berat, dokter di rumah sakit biasanya memberikan magnesium sulfat untuk menurunkan risiko kejang tersebut (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Komplikasi lain yang perlu Bunda ketahui adalah sindrom HELLP, singkatan dari hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelets. Pada sindrom ini terjadi pecahnya sel darah merah, naiknya enzim hati yang menandakan gangguan fungsi hati, dan jumlah trombosit yang rendah. Preeklamsia juga dapat merusak ginjal, hati, dan otak, dan pada kasus terberat dapat mengancam nyawa ibu (World Health Organization, 2026).

Daftar ini memang terdengar menakutkan, tetapi sebagian besar komplikasi tersebut muncul ketika preeklamsia terlambat dikenali. Karena itu, deteksi dini lewat pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat waktu adalah langkah yang paling menentukan (Fazona, 2023).

Cara dokter mendeteksi preeklamsia saat pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaannya sendiri cukup sederhana. Tenaga kesehatan mengukur tekanan darah dan memeriksa kadar protein dalam urin. Bila hasilnya mencurigakan, dokter dapat meminta tes darah untuk melihat fungsi hati, fungsi ginjal, dan jumlah trombosit, serta USG untuk memantau pertumbuhan janin dan aliran darah ke plasenta (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Kemenkes menganjurkan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, yaitu dua kali di trimester pertama, satu kali di trimester kedua, dan tiga kali di trimester ketiga, dengan setidaknya dua kunjungan dilakukan oleh dokter (Fazona, 2023). Angka tensi di setiap kunjungan tercatat di buku KIA, jadi Bunda dan bidan bisa melihat bila angkanya mulai merangkak naik dari bulan ke bulan.

Bila preeklamsia terdiagnosis, penanganannya bergantung pada tingkat keparahan dan usia kehamilan. Pemantauan ketat, pemeriksaan tensi dan laboratorium berkala, serta pemberian penurun tekanan darah dari dokter termasuk langkah yang umum dilakukan (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025).

Bisakah preeklamsia dicegah?

Belum ada cara yang pasti untuk mencegah preeklamsia, tetapi risikonya dapat ditekan. WHO merekomendasikan aspirin dosis rendah yang dimulai sebelum usia kehamilan 20 minggu atau sejak pemeriksaan kehamilan pertama untuk ibu yang dinilai berisiko, serta suplementasi kalsium bagi ibu hamil yang asupan kalsium hariannya rendah (World Health Organization, 2026).

Keduanya adalah keputusan medis. NHS menyebut ibu hamil dengan risiko tinggi dapat diresepkan aspirin harian mulai minggu ke-12, dan menegaskan agar ibu hamil tidak mulai mengonsumsi aspirin atau suplemen kalsium sendiri tanpa saran bidan atau dokter (NHS, 2026). Dosis dan waktu mulainya ditentukan dokter berdasarkan faktor risiko masing-masing, jadi tanyakan hal ini pada kunjungan berikutnya bila Bunda punya salah satu faktor risiko di atas.

Pola hidup sehat ikut membantu, seperti makan bergizi seimbang, membatasi garam, tetap aktif bergerak, dan mengonsumsi suplemen kehamilan yang diresepkan (Fazona, 2023). Memberi ATENSI pada sinyal tubuh sendiri, dari angka tensi di buku KIA sampai sakit kepala yang terasa berbeda dari biasanya, juga bagian dari menjaga janin.

Tanda bahaya yang perlu segera dibawa ke IGD

Segera ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat bila Bunda mengalami sakit kepala hebat yang tidak reda, pandangan kabur atau berkunang-kunang, nyeri hebat di ulu hati atau di bawah tulang rusuk, bengkak mendadak di wajah dan tangan, sesak napas, atau muntah terus-menerus. Gejala ini perlu diperiksa saat itu juga, tanpa menunggu jadwal kontrol berikutnya (NHS, 2026).

Kejang pada ibu hamil adalah keadaan gawat darurat, dan keluarga perlu segera membawa Bunda ke rumah sakit (RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, 2025). Ada baiknya pasangan atau anggota keluarga di rumah juga tahu daftar tanda bahaya ini, karena saat sakit kepala hebat datang, Bunda mungkin tidak sempat menjelaskan apa yang terjadi.

Kewaspadaan ini berlanjut setelah melahirkan. NHS mengingatkan bahwa gejala yang sama dalam beberapa minggu setelah persalinan juga perlu segera diperiksakan (NHS, 2026). Simpan nomor bidan atau rumah sakit tempat Bunda kontrol di ponsel, supaya bila salah satu tanda ini muncul tengah malam, Bunda tahu harus menghubungi siapa.

Referensi

  • World Health Organization. (2026, 6 Oktober). Pre-eclampsia. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pre-eclampsia
  • RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2025, 4 September). Mengenal preeklampsia. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/4194/mengenal-preeklampsia
  • Fazona, R. (2023, 28 Juli). Kenali tanda bahaya preeklampsia. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/2655/kenali-tanda-bahaya-preeklampsia
  • NHS. (2026). Pre-eclampsia. https://www.nhs.uk/conditions/pre-eclampsia/