Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.
dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.
Si Kecil yang energik dan sulit diam tidak otomatis hiperaktif. Banyak Bunda yang khawatir ketika anaknya bermain tanpa henti, lalu membandingkannya dengan label medis yang sering muncul di media sosial. Padahal, antara anak aktif yang sehat dan anak dengan kecenderungan hiperaktif ada perbedaan nyata yang patut dipahami.
Si Kecil yang aktif masih mampu mengontrol gerak dan fokus pada situasi tertentu. Ia bisa duduk tenang saat makan, mengikuti instruksi sederhana, dan tampak rileks setelah jam bermain. Si Kecil dengan kecenderungan hiperaktif kesulitan mengontrol energi dan konsentrasi secara konsisten, di rumah maupun di luar, dan kondisi ini sering berkaitan dengan kondisi ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder).
Untuk memudahkan Bunda, berikut adalah tabel panduan cepat untuk membedakan keduanya:
| Indikator Perilaku | Si Kecil yang Aktif (Normal) | Si Kecil yang Hiperaktif (ADHD) |
|---|---|---|
| Kontrol Fokus | Bisa fokus saat mendengarkan cerita atau makan. | Mudah buyar oleh gangguan kecil di sekitarnya. |
| Tingkat Energi | Energi menurun alami saat lelah atau mengantuk. | Terus bergerak seolah tidak bisa kehabisan energi. |
| Kepatuhan | Mampu memahami dan mengikuti instruksi sederhana. | Sering bertindak spontan tanpa berpikir panjang. |
| Situasi Kondisi | Bisa tenang di tempat tertentu (seperti tempat ibadah). | Pola hiperaktif muncul di mana saja (rumah, sekolah, dll). |
Karakteristik Si Kecil yang aktif secara wajar konsisten muncul dalam panduan tumbuh kembang anak:
Keaktifan seperti ini adalah tanda bahwa motorik dan fisik Si Kecil berkembang dengan baik. Anak aktif sehat butuh ruang gerak, bukan label.
Kondisi hiperaktif yang mengarah pada ADHD berkaitan erat dengan masalah pada sistem saraf yang membuat anak sulit mengontrol dirinya sendiri. Berdasarkan penelitian global yang dirangkum oleh Polanczyk et. al. (2015), angka kejadian nyata anak yang benar-benar mengalami ADHD di seluruh dunia sebenarnya hanya sekitar 3,4%. Artinya, dari 100 anak, hanya sekitar 3 atau 4 anak saja yang benar-benar hiperaktif secara medis. Jadi, sebagian besar anak yang lincah di sekitar kita sebenarnya adalah anak aktif yang normal.
Pola hiperaktif ini akan selalu muncul di berbagai situasi, bukan cuma di rumah saja. Tanda-tanda utamanya meliputi:
Si Kecil dengan kecenderungan hiperaktif biasanya punya rentang perhatian yang lebih pendek dibanding teman seusianya. Mudah melamun, sulit mempertahankan perhatian dalam waktu lama, sering meninggalkan tugas sebelum selesai, dan konsentrasinya mudah teralihkan oleh rangsangan kecil seperti suara atau gerakan.
Di era digital saat ini, Bunda juga perlu lebih waspada karena George & Odgers (2015) mengingatkan bahwa kebiasaan menggunakan gawai secara berlebihan atau sering berpindah-pindah aktivitas (multitasking) bisa memperparah kondisi anak yang sejak awal sudah memiliki masalah konsentrasi . Akibatnya, tingkat kecerobohan Si Kecil bisa meningkat dan fokusnya akan menjadi jauh lebih mudah buyar saat sedang belajar .
Impulsivitas adalah bagian inti dari perilaku hiperaktif karena fungsi kendali di otak Si Kecil belum berjalan optimal. Akibatnya, ia selalu bertindak secara spontan tanpa sempat memikirkan dampak buruk dari tindakannya tersebut. Kondisi ini terlihat nyata saat ia sering memotong pembicaraan orang lain atau tidak sabar menunggu giliran.
Tidak hanya fisik, emosi Si Kecil dengan kecenderungan hiperaktif juga sering kali meledak-ledak. Ia memiliki toleransi yang sangat rendah saat merasa kecewa atau ketika keinginannya tidak langsung terpenuhi. Hal ini memicu fase tantrum yang terasa jauh lebih intens dan membutuhkan kesabaran ekstra dari Bunda.
Satu hal paling mendasar yang membedakan antara anak aktif dan anak hiperaktif (ADHD) adalah ada atau tidaknya hambatan fungsional, yaitu gangguan nyata pada fungsi hidup anak sehari-hari.
Data dari Polanczyk et. al. (2015) membuktikan bahwa jika kita hanya melihat anak-anak dari gejalanya saja (seperti anak yang lincah atau sulit fokus), angkanya terlihat sangat tinggi, yaitu mencapai 27,1% di masyarakat . Namun, ketika dokter memeriksa lebih ketat menggunakan kriteria hambatan fungsional, apakah perilaku tersebut sampai mengacaukan atau mengganggu kegiatan sehari-hari si anak, angkanya langsung turun drastis menjadi sekitar 9% saja .
Oleh karena itu, Bunda disarankan untuk membawa Si Kecil berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter tumbuh kembang jika perilaku lincahnya sudah memicu hambatan nyata berikut:
Perlu Bunda ketahui bahwa diagnosis ADHD adalah proses medis yang panjang dan membutuhkan evaluasi mendalam dari para ahli, serta umumnya baru bisa ditegakkan setelah Si Kecil berusia minimal 4 tahun.
Bunda juga tidak perlu takut atau buru-buru cemas Si Kecil akan langsung diberikan obat-obatan medis saat berkonsultasi. Wolraich et al. (2019) menjelaskan bahwa untuk anak usia prasekolah (usia 4 hingga sebelum 6 tahun), langkah pertama yang sangat direkomendasikan oleh dunia medis adalah pelatihan manajemen perilaku untuk orang tua (Parent Training in Behavior Management), bukan pemberian obat. Dokter justru akan membantu Bunda terlebih dahulu untuk merancang stimulasi, aktivitas fisik, dan pola pengasuhan yang tepat di rumah.
Makanan dan minuman yang dikonsumsi Si Kecil sehari-hari memiliki pengaruh langsung terhadap kestabilan energi dan perilakunya. Konsumsi pemanis tambahan yang berlebihan bisa memicu lonjakan energi sesaat yang membuat Si Kecil mendadak menjadi sangat aktif dan sulit diam, yang kemudian diikuti oleh penurunan energi secara drastis sehingga anak menjadi rewel atau tantrum. Pola naik-turun energi akibat gula (sugar rush dan crash) ini sering kali salah dikira sebagai tanda hiperaktif, padahal sebenarnya itu hanyalah reaksi metabolisme tubuh yang biasa.
Oleh karena itu, memilih gizi seimbang yang rendah pemanis tambahan akan sangat membantu menjaga kestabilan energi serta konsentrasi Si Kecil sepanjang hari. Untuk panduan lengkap dalam memilih susu pertumbuhan yang aman bagi kestabilan energi anak, Bunda bisa membaca artikel: Susu Pertumbuhan dengan Kadar Manis Terkontrol.
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Perbedaan Si Kecil Aktif dan Hiperaktif yang Perlu Bunda Pahami
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?