Menjadi orang tua baru di era modern adalah perjalanan luar biasa yang penuh tantangan. Di tengah usaha Ayah dan Bunda memberikan awal terbaik untuk si Kecil, ada satu fase yang sering kali memicu kecemasan, yaitu fase tantrum. Melihat anak yang biasanya ceria tiba-tiba menangis histeris, menjerit, atau berguling di lantai tempat umum pasti membuat Bunda merasa bingung dan panik.
Namun, sebelum merasa bersalah, tarik napas dalam-dalam. Tantrum adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang emosi anak usia 1–4 tahun. Menurut para ahli, cara mengatasi anak tantrum yang paling efektif dimulai dengan sikap Bunda yang tetap tenang dan memvalidasi perasaannya. Pastikan lingkungan di sekitarnya aman, temani ia hingga emosinya mereda, dan jangan membalas dengan teriakan atau paksaan. Setelah anak merasa tenang, barulah ajak ia berkomunikasi dengan lembut untuk mencari solusi bersama.
Penting untuk memahami bahwa struktur otak anak yang mengatur emosi (sistem limbik) belum berkembang sempurna layaknya orang dewasa. Tantrum terjadi bukan karena anak ingin menjadi "nakal" atau memanipulasi orang tua, melainkan karena dua faktor utama berikut:
Si Kecil sudah memiliki segudang keinginan, namun kemampuan bahasanya belum cukup matang untuk merangkai kalimat. Frustrasi akibat tidak bisa menyampaikan "Bunda, aku tidak mau pakai sepatu ini karena sempit" akhirnya meledak dalam bentuk tangisan atau teriakan.
Pernahkah Bunda mudah tersinggung saat lapar atau kurang tidur? Hal yang sama terjadi pada si Kecil dengan skala yang lebih intens. Pola makan yang tidak teratur, kurangnya asupan NUTRISI, atau transisi susu yang kurang tepat bisa memengaruhi kenyamanan pencernaan dan tingkat energi anak, sehingga ia rentan mengalami tantrum.
Bunda juga bisa membaca panduan medis mengenai perilaku emosional anak di sini: Mengenal Penyebab Anak Pemarah dan Cara Mengatasinya.
Kestabilan emosi anak sangat dipengaruhi oleh kenyamanan fisiknya. Berikut adalah langkah antisipasi yang bisa Bunda terapkan di rumah:
Saat badai tantrum datang, respons pertama Bunda akan menentukan seberapa cepat badai tersebut berlalu. Berdasarkan pendekatan psikologi positif, berikut panduan tindakan yang sebaiknya dilakukan dan dihindari:
| Apa yang Harus Dilakukan (Do's) | Apa yang Harus Dihindari (Don'ts) |
|---|---|
| Tetap Tenang & Tarik Napas: Ketenangan Bunda adalah jangkar bagi emosi anak yang sedang terombang-ambing. | Ikut Berteriak/Membentak: Ini hanya mengajarkan anak bahwa kemarahan harus dibalas dengan agresi. |
| Validasi Perasaannya: Gunakan kalimat pendek yang menunjukkan empati, bukan ceramah panjang yang sulit dicerna. | Menuruti Keinginan Manipulatif: Jika Bunda melarang anak membeli mainan, tetaplah konsisten agar ia belajar batasan. |
| Pastikan Lingkungan Aman: Singkirkan benda tajam atau keras dari sekitar anak jika ia mulai melempar barang. | Merasa Malu/Menghakimi Diri: Semua orang tua di tempat umum tersebut kemungkinan besar pernah berada di posisi Bunda. |
| Berikan Pelukan Setelah Tenang: Dekap si Kecil saat tangisnya mereda karena terbukti menurunkan hormon stresnya. | Meninggalkan Anak Sendirian: Tetap berada di dekatnya agar ia merasa aman dan tahu Bunda tidak membencinya. |
Bunda bisa memvalidasi perasaan Si Kecil dengan kalimat yang menangkan, seperti "Bunda tahu Adik kecewa karena kita harus pulang dari taman bermain. Menangis boleh kok, Bunda tunggu di sini ya sampai Adik merasa lebih nyaman." Setelah emosinya turun, barulah ajak Si Kecil berdiskusi ringan tentang apa yang terjadi dengan bahasa logis namun sederhana.
Menangani tantrum membutuhkan kekompakan tim di rumah. Jika Bunda sudah menerapkan metode disiplin yang suportif, pastikan Ayah, Kakek, Nenek, atau pengasuh menerapkan aturan yang sama.
Jika terjadi inkonsistensi, misalnya anak dilarang bermain gawai oleh Bunda, tetapi langsung diberikan oleh Nenek saat ia menangis, anak akan mengalami kebingungan emosi dan fase tantrumnya justru akan bertahan lebih lama. Ingin tahu lebih detail mengenai tahapan emosi anak berdasarkan usianya? Yuk, pelajari selengkapnya di artikel ini: Fase Tantrum Pada Anak dan Cara Mengatasinya.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Cara Mengatasi Tantrum pada Anak serta Pencegahannya
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?