Cara Mengatasi Tantrum pada Anak dan Mencegahnya

Morinaga Platinum ♦ 1 Mei 2017
Cara Mengatasi Tantrum pada Anak dan Mencegahnya

Cara mengatasi tantrum pada anak dimulai dengan tetap tenang, memastikan anak aman, dan mengakui perasaannya tanpa membentak. Gunakan kalimat singkat dan hentikan perilaku berbahaya, seperti memukul atau melempar. Setelah Si Kecil tenang, ajak ia membicarakan keinginannya dan cara menyampaikannya. Memahami perasaan anak bukan berarti harus menuruti semua permintaannya.

Tantrum adalah luapan emosi yang bisa berupa tangisan keras, teriakan, atau berguling di lantai. Kondisi ini umum terjadi pada usia 1–3 tahun, saat kemampuan bahasa dan pengendalian emosi masih berkembang. Tantrum bukan berarti anak nakal atau Bunda salah mengasuh. Si Kecil mungkin sedang lapar, lelah, atau kesulitan menyampaikan kebutuhan. Mengenali pemicunya membantu Bunda menentukan respons yang tepat.

Penyebab Anak Mengalami Tantrum

Pemicu tantrum bisa berbeda dari satu kejadian ke kejadian lain. Kadang anak kesal karena keinginannya ditolak, tetapi pada kesempatan lain ia sedang lelah atau kewalahan. Beberapa pemicu yang sering muncul antara lain:

  • Sulit menyampaikan kebutuhan: Anak belum menemukan kata-kata untuk menjelaskan keinginannya.
  • Lapar atau lelah: Kondisi tubuh yang tidak nyaman membuat anak lebih sulit menghadapi kekecewaan.
  • Ingin melakukan sesuatu sendiri: Anak kesal ketika belum mampu memakai baju atau membuka wadah.
  • Pergantian kegiatan mendadak: Anak diminta berhenti bermain atau pulang tanpa persiapan.
  • Lingkungan terlalu ramai: Suara, keramaian, dan banyaknya aktivitas dapat membuat anak kewalahan.

Bunda dapat mencatat kapan tantrum paling sering terjadi, misalnya menjelang makan atau setelah melewatkan tidur siang. Catatan sederhana ini membantu menyesuaikan rutinitas dan mengantisipasi situasi serupa. Untuk memahami perilaku yang berkaitan, baca juga penyebab anak mudah marah dan cara menghadapinya.

Cara Mengatasi Tantrum pada Anak

Saat anak sedang menangis atau berteriak, penjelasan panjang biasanya sulit diterimanya. Fokuskan respons pada keamanan dan membantu suasana tetap tenang. Berikut langkah yang bisa Bunda lakukan:

  1. Tenangkan diri terlebih dahulu: Tarik napas dan rendahkan suara sebelum merespons. Jika kewalahan, minta orang dewasa lain mengambil alih sementara.
  2. Pastikan anak aman: Jauhkan benda yang bisa dilempar atau melukai. Pindahkan anak dengan hati-hati jika berada di tempat berbahaya.
  3. Akui perasaannya: Katakan singkat, “Adik kecewa karena belum boleh bermain lagi, ya.”
  4. Tetapkan batas perilaku: Perasaan marah boleh muncul, tetapi memukul atau menggigit harus dihentikan. Misalnya, “Bunda tidak membiarkan Adik memukul.”
  5. Beri waktu untuk mereda: Tetap awasi dan tawarkan kedekatan tanpa memaksa pelukan. Hindari berdebat atau mengubah keputusan hanya untuk menghentikan tangisannya.
  6. Bicarakan setelah tenang: Bantu anak menyebutkan perasaannya dan mencoba cara lain untuk meminta bantuan.

Mengakui perasaan tidak berarti menyetujui semua permintaan. Bunda bisa mengatakan, “Bunda tahu Adik ingin mainan itu, tetapi hari ini kita tidak membelinya.” Setelah anak lebih tenang, tawarkan pilihan yang memang dapat diterima, seperti berjalan di samping Bunda atau duduk di kereta belanja.

Menghadapi Tantrum dalam Situasi Sehari-hari

Tantrum dapat terasa lebih sulit ketika terjadi di tempat umum atau saat Bunda sedang terburu-buru. Meski begitu, tujuan penanganannya tetap sama, yaitu menjaga keamanan dan membantu anak menenangkan diri. Sesuaikan langkahnya dengan situasi berikut:

Situasi Respons yang Bisa Dicoba
Di tempat umum Ajak ke area yang lebih tenang dan aman. Sampaikan batasan dengan singkat tanpa berdebat di depan orang lain.
Menjelang tidur Kurangi kegiatan yang ramai dan beri tahu urutan berikutnya, seperti membaca satu buku lalu tidur. Perhatikan apakah anak sudah terlalu lelah.
Saat makan Tawarkan porsi kecil dan hindari memaksa. Jika anak melempar makanan, hentikan perilakunya dengan tenang dan beri jeda bila diperlukan.
Saat harus berhenti bermain Beri pemberitahuan sebelumnya dan pilihan sederhana, misalnya, “Setelah satu putaran lagi, kita pulang. Adik mau membawa bola atau topinya?”

Hindari membawa anak ke tempat yang justru berisiko, seperti mobil yang panas atau area dekat jalan. Jika anak tidak mau disentuh, beri sedikit ruang sambil tetap mengawasi. Pelukan dapat ditawarkan ketika ia bersedia, bukan dipaksakan untuk menghentikan tangisannya.

Kebiasaan yang Membantu Mengurangi Tantrum

Tidak semua tantrum dapat dicegah. Namun, rutinitas yang sesuai kebutuhan anak dapat mengurangi pemicu seperti lapar, kelelahan, dan perubahan mendadak. Cobalah beberapa kebiasaan berikut:

  • Atur waktu makan dan camilan: Sediakan makanan bergizi pada jadwal yang cukup teratur agar jeda lapar tidak terlalu panjang.
  • Jaga waktu tidur: Usahakan jadwal tidur dan bangun konsisten, termasuk tidur siang sesuai kebutuhan.
  • Beri pilihan terbatas: Tawarkan dua pilihan yang sama-sama bisa diterima, seperti buah potong atau roti.
  • Siapkan pergantian kegiatan: Beri aba-aba sebelum berhenti bermain, mandi, atau pulang.
  • Kenali tanda lelah: Jika anak mulai mengucek mata, merengek, atau tampak kewalahan, kurangi kegiatan dan beri waktu istirahat.
  • Apresiasi perilaku yang diharapkan: Sebutkan usahanya secara jelas, misalnya, “Terima kasih sudah meminta bantuan dengan kata-kata.”

Menurut American Academy of Sleep Medicine, anak usia 1–2 tahun membutuhkan tidur 11–14 jam sehari, termasuk tidur siang. Untuk usia 3–5 tahun, kebutuhannya sekitar 10–13 jam. Gunakan rentang ini sebagai panduan sambil memperhatikan kebiasaan dan kondisi anak.

Penuhi pula kebutuhan NUTRISI melalui makanan yang beragam. Makan teratur membantu mengurangi rasa lapar sebagai salah satu pemicu tantrum, tetapi tidak ada makanan atau susu yang dapat menghilangkan tantrum. Kemampuan mengelola emosi tetap perlu dilatih melalui interaksi sehari-hari.

Bantu Anak Mengenali dan Menyampaikan Perasaan

Kenalkan perasaan saat anak sedang tenang melalui kata sederhana, seperti senang, sedih, marah, dan kecewa. Beri contoh, “Bunda kecewa barangnya rusak, jadi mau tenang dulu.” Bunda juga bisa mengajak anak membahas perasaan tokoh cerita atau bermain boneka untuk mencontohkan cara meminta bantuan.

Sepakati aturan sederhana bersama Ayah, Kakek, Nenek, atau pengasuh, termasuk waktu menggunakan gawai. Samakan respons ketika anak memintanya sambil menangis. Sikap yang konsisten membantu Si Kecil memahami batasan tanpa menerima keputusan yang berbeda-beda.

Kapan Tantrum Perlu Dikonsultasikan?

Cari bantuan jika tantrum sering terjadi, sulit mereda, atau mengganggu keseharian. Perhatikan pula kondisi anak saat tidak sedang tantrum. Konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak jika:

  • Anak melukai diri sendiri atau orang lain.
  • Tantrum berlangsung lama dan sulit ditenangkan.
  • Ledakan emosi mengganggu pertemanan, belajar, atau kegiatan keluarga.
  • Tantrum tetap sangat intens seiring bertambahnya usia.
  • Kemampuan bahasa atau perilakunya mengalami kemunduran.

Tanda tersebut perlu dinilai oleh tenaga profesional, bukan untuk menentukan diagnosis sendiri. Catat pemicu, durasi, dan respons yang sudah dicoba sebagai bahan konsultasi. Bunda juga boleh meminta bantuan saat kewalahan, tanpa menunggu kondisi memburuk.

Mendampingi tantrum membutuhkan waktu dan latihan. Respons yang baik tidak selalu membuat anak langsung tenang, tetapi memahami emosinya dapat membantu Bunda memilih pendekatan yang sesuai. Yuk, pelajari selengkapnya di artikel ini: Fase Tantrum pada Anak dan Cara Mengatasinya.

Referensi

  • American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. (2025, June). Temper tantrums and outbursts (Facts for Families No. 136). https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Temper_Tantrums-136.aspx
  • Paruthi, S., Brooks, L. J., D’Ambrosio, C., Hall, W. A., Kotagal, S., Lloyd, R. M., Malow, B. A., Maski, K., Nichols, C., Quan, S. F., Rosen, C. L., Troester, M. M., & Wise, M. S. (2016). Recommended amount of sleep for pediatric populations: A consensus statement of the American Academy of Sleep Medicine. Journal of Clinical Sleep Medicine, 12(6), 785–786. https://doi.org/10.5664/jcsm.5866
  • Promosi Kesehatan, Tim Kerja Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2025, February 21). Tantrum pada anak dan ketahui apa saja penyebabnya. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3995/tantrum-pada-anak-dan-ketahui-apa-saja-penyebabnya
  • Swanson, W. S. (2021, April 21). Top tips for surviving tantrums. HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/english/family-life/family-dynamics/communication-discipline/pages/temper-tantrums.aspx