Terapkan Pola Asuh Anak Positif agar Si Kecil Tumbuh Optimal

Morinaga Platinum ♦ 13 Februari 2025

Terapkan Pola Asuh Anak Positif agar Si Kecil Tumbuh Optimal

Setiap Bunda tentu ingin melihat putra-putrinya tumbuh menjadi pribadi yang santun dan bahagia. Salah satu kunci penting yang perlu diperhatikan adalah cara merancang pola asuh anak. Pendekatan yang tepat akan memberikan dampak positif bagi perkembangan mental, emosional, dan sosial Si Kecil.

Pemahaman menyeluruh tentang pola asuh anak dapat membantu Bunda menghindari kebiasaan mendidik yang kurang tepat. Banyak orang tua mungkin tidak menyadari betapa kuatnya efek pola asuh negatif terhadap karakter buah hati. Terkadang, Bunda dan Ayah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi langkah-langkah yang diambil justru bisa membuat Si Kecil merasa tidak aman atau ragu pada kemampuannya. 

Berikut beberapa hal penting yang perlu diketahui dan dihindari agar Si Kecil berkembang dengan sehat, penuh percaya diri, dan memiliki hubungan yang harmonis dengan orang tuanya.

Hindari Membandingkan Si Kecil dengan Anak Lain

Membandingkan prestasi atau kemampuan Si Kecil dengan teman sebayanya sering dianggap biasa. Ada yang berpendapat bahwa pendekatan ini memicu semangat Si Kecil untuk lebih giat. Namun, praktik tersebut ternyata mampu merusak rasa percaya dirinya. Anak yang sering dibandingkan bisa merasa tidak mampu memenuhi harapan Bunda, hingga tumbuh rasa minder yang terus terbawa hingga dewasa.

Ketika Bunda menilai Si Kecil berdasarkan pencapaian orang lain, anak cenderung kehilangan kepercayaan terhadap potensinya sendiri. Ia mungkin meyakini bahwa apa pun yang ia lakukan tidak akan cukup baik di mata orang tua. Pola asuh anak yang kurang peka semacam ini pada akhirnya memunculkan kekecewaan dan stres di sisi anak. Membandingkan akan memicu rasa iri atau cemburu terhadap anak lain, yang semakin memperkeruh suasana dan mengganggu perkembangan emosionalnya.

Pendekatan yang lebih bijak adalah mengenali keunikan masing-masing anak. Ada anak yang mahir di bidang musik, sementara yang lain lebih berbakat dalam olahraga atau sains. Daripada menyoroti kelemahan Si Kecil dengan membandingkan, Bunda dapat memfokuskan energi pada hal-hal yang menjadi kekuatan utamanya. Dukungan, pujian yang tulus, dan kesempatan untuk bereksplorasi akan menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih kokoh. Jika Bunda ingin mendampingi Si Kecil agar semakin percaya diri, ikuti panduan selengkapnya di artikel berikut, Jadikan Si Kecil Lebih Percaya Diri.

Batasi Sikap Otoriter agar Si Kecil Bertumbuh Mandiri

Sikap otoriter sering muncul saat orang tua membuat aturan yang sangat ketat dan kaku. Si Kecil diperintahkan untuk patuh, tanpa diberikan kesempatan untuk berdiskusi atau menyampaikan pandangan. Dalam pola asuh anak yang otoriter, Ayah dan Bunda menetapkan berbagai larangan dan ketentuan yang tidak bisa digugat. Penekanan pada disiplin memang penting, tetapi apabila dilakukan secara berlebihan, dampaknya akan mengekang kemandirian Si Kecil.

Anak dengan orang tua otoriter cenderung merasa takut berbuat kesalahan, sehingga sulit mencoba hal-hal baru. Ia mungkin akan menurut untuk menghindari hukuman, bukan karena betul-betul memahami nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan. Keadaan ini bisa menyulitkan anak saat beranjak dewasa. Di satu sisi, ketaatan yang berlebihan membuatnya bergantung pada instruksi orang lain. Di sisi lain, ia menjadi kurang luwes dalam mengelola emosi dan mengambil keputusan.

Melibatkan Si Kecil dalam pengambilan keputusan sesuai usianya bisa menumbuhkan jiwa mandiri. Misalnya, Bunda bisa memintanya memilih pakaian sekolah atau membantu merencanakan menu makan pagi. Cara ini tidak hanya membuat anak merasa dihargai, tetapi juga melatih tanggung jawabnya. 

Saat anak melakukan kesalahan, diskusikan penyebabnya dan berikan pemahaman bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dengan demikian, pola asuh anak yang dulu cenderung otoriter bisa bertransformasi menjadi pola asuh yang mendorong kemandirian dan kedewasaan emosional.

Waspadai Pola Asuh Permisif dan Dampaknya

Beberapa orang tua mengekspresikan kasih sayang dengan memenuhi semua keinginan anak. Di satu sisi, Si Kecil merasa gembira karena setiap permintaan langsung terpenuhi. Pola asuh anak seperti ini sering disebut permisif, karena Bunda tidak menerapkan batasan yang jelas. Sayangnya, kebiasaan ini berisiko membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang tangguh dan mudah menyerah saat menghadapi tantangan.

Anak yang dibesarkan dalam suasana serba dibiarkan sering kali kesulitan memahami bahwa ada aturan, norma, dan kewajiban yang perlu dipatuhi di dalam masyarakat. Saat dewasa, anak mungkin merasa dunia akan selalu menuruti semua kehendaknya. Akibatnya, ketika ia berhadapan dengan penolakan atau kegagalan, ia akan merasa marah atau kecewa. Tidak jarang timbul sifat egois, sebab ia terbiasa mengutamakan kepentingan pribadi tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain.

Bunda tidak perlu langsung khawatir jika pernah bersikap terlalu longgar. Setiap perubahan bisa dilakukan secara bertahap. Contohnya, ajarkan Si Kecil menunda keinginan dan memahami sebab-akibat. Beri pemahaman bahwa cinta orang tua tidak selalu diwujudkan melalui hadiah atau pemenuhan permintaan, melainkan lewat perhatian yang konsisten. Pola asuh anak yang bijak menuntut keseimbangan antara memberi kebebasan dan menanamkan disiplin. Bunda juga dapat mempelajari pendekatan lain di artikel Pola Asuh Anak yang Baik untuk Tumbuh Kembang Si Kecil.

Sikap Konsisten antara Ayah dan Bunda

Saat Bunda dan Ayah menetapkan aturan yang berbeda, anak akan merasa bimbang. Pengasuhan yang tidak sinkron memicu ketidakpastian pada diri Si Kecil, terutama ketika kedua orang tua bersikeras bahwa metode masing-masing adalah yang terbaik. Pola asuh anak yang berjalan di dua jalur berbeda ini bisa menciptakan celah bagi anak untuk memilih aturan yang paling menguntungkan baginya. Pada akhirnya, hal ini membentuk karakter yang tidak konsisten dan bingung akan batasan.

Perbedaan pendapat memang wajar terjadi dalam rumah tangga. Namun, upayakan untuk menyelesaikan ketidaksepakatan saat Si Kecil tidak mendengarnya, lalu cari titik temu terbaik. Bunda dan Ayah perlu memahami bahwa kebutuhan setiap anak tidak selalu sama, sehingga pendekatan pun bisa bervariasi. 

Akan tetapi, prinsip dasar disiplin, rasa hormat, dan kasih sayang mesti dijaga oleh kedua belah pihak. Komunikasi yang lancar antara Bunda dan Ayah akan membantu anak memahami bahwa meski pendekatan bisa berbeda, tujuannya tetap selaras: kebaikan dan perkembangan optimal bagi Si Kecil.

Interaksi sehari-hari di depan anak juga perlu harmonis. Perdebatan panjang di depan Si Kecil, apalagi yang melibatkan emosi tinggi, berpotensi mengurangi rasa aman. Anak bisa menyerap ketegangan tersebut, lalu mengalami stres atau kebingungan. Usahakan agar diskusi mengenai aturan dan tanggung jawab dilakukan pada waktu yang tepat, sehingga Bunda dan Ayah bisa mencapai keputusan bersama. Langkah sederhana ini berpengaruh besar dalam menjaga stabilitas pola asuh anak.

Pahami Risiko Pola Asuh yang Mengandalkan Hadiah

Mengiming-imingi Si Kecil dengan hadiah mungkin dirasa ampuh untuk membujuknya berbuat baik atau patuh. Ada kalanya pemberian hadiah berguna sebagai bentuk apresiasi. Namun, penggunaan hadiah materi yang berlebihan justru kurang menyehatkan bagi karakter anak. Pola asuh anak seperti ini memunculkan anggapan bahwa kebaikan hanya pantas dilakukan jika ada keuntungan yang bisa diperoleh.

Anak yang terlalu sering mendapatkan hadiah akan cenderung kesulitan memahami esensi perilaku positif itu sendiri. Perbuatan yang benar menjadi bersyarat, seakan tidak ada nilai moral yang menjadi landasan. Saat tidak ada hadiah, ia bisa kembali bersikap semaunya. Kondisi tersebut bisa merugikan perkembangan emosional, karena Si Kecil tidak terbiasa berempati atau membantu sesama tanpa pamrih.

Menerapkan pola asuh anak yang seimbang dalam hal hadiah memerlukan kesabaran. Apresiasi yang tak melulu berupa barang akan membantu anak merasakan kebanggaan batiniah. Berikan pujian tulus ketika ia berhasil menghadapi tantangan. Biarkan Si Kecil merayakan keberhasilan dengan menyadari upayanya sendiri, bukan sekadar menantikan benda fisik yang ia terima. Bunda bisa sesekali memberi hadiah spesial untuk pencapaian tertentu, tapi tetap tekankan bahwa kebaikan dan tanggung jawab adalah hal penting yang tak tergantung imbalan.

Bunda dapat membantu Si Kecil meraih Potensi terbaiknya dengan memberi Atensi yang tepat dan memantau tumbuh kembangnya secara berkala. Fitur Parenthings di situs Morinaga memudahkan Bunda mencatat berat, tinggi, dan lingkar kepala Si Kecil mulai dari usia lahir hingga lima tahun. 

Informasi ini membantu mendeteksi perubahan tumbuh kembang dan memastikan nutrisi terpenuhi sesuai tahapan usianya. Perhatian yang konsisten, diiringi 3 Pilar Penting (Atensi, Nutrisi, dan Stimulasi), membuat Si Kecil lebih percaya diri saat bersosialisasi dan siap menggapai mimpi besarnya. Pantau tumbuh kembang Si Kecil sekarang melalui Parenthings: Cek Tumbuh Kembang Bersama Morinaga.

Sumber:

  • American SPCC. What the Research Says about Bad Parenting: 8 Profoundly Negative Effects. Diakses pada 12 Februari 2025. https://americanspcc.org/effects-bad-parenting-child/ 
  • Psych Central. How 'Negative' Parenting Styles Can Affect Your Child. Diakses pada 12 Februari 2025. https://psychcentral.com/health/negative-parenting-style-contributes-to-child-aggression