Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.
dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.
Sore di mini market dekat rumah, Si Kecil menarik tangan Bunda ke rak minuman kemasan dengan gambar buah warna-warni. Labelnya menulis sari buah asli, sebagian bahkan menampilkan ilustrasi anak ceria yang siap berlari. Sekilas tidak ada yang salah. Padahal, satu kotak minuman seperti itu bisa menyumbang pemanis tambahan dalam jumlah yang melebihi separuh batas harian Si Kecil.
Pemicu utama diabetes tipe 2 pada anak adalah pola konsumsi pemanis tambahan yang berlebih, dipadu dengan gaya hidup yang minim gerak. Makanan dan minuman yang paling sering menyumbang asupan manis berlebih justru terlihat ramah anak: minuman buah kemasan, sereal sarapan dengan rasa manis, jus kemasan, biskuit berlapis krim, dan sebagian besar fast food yang dimasak dengan karbohidrat olahan.
Banyak yang mengira diabetes hanya menyerang orang dewasa. Kenyataannya, kasus
diabetes pada anak terus meningkat. Ada dua jenis utama: diabetes tipe 1 dan tipe 2. Jika
tipe 1 terkait sistem imun, tipe 2 sangat erat kaitannya dengan gaya hidup dan konsumsi
gula berlebih. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor utama:
Sukrosa dan pemanis tambahan lain memaksa pankreas terus melepas insulin untuk menjaga kadar glukosa darah. Saat pola ini berlangsung setiap hari, sel-sel tubuh perlahan menjadi kurang responsif terhadap insulin, sebuah kondisi yang disebut resistensi insulin. Malik dkk. (2010) menunjukkan, lewat meta-analisis dari beberapa kohort besar, bahwa konsumsi minuman manis berkaitan dengan peningkatan kejadian sindrom metabolik dan diabetes tipe 2.
Hal yang sering luput, pemanis tambahan tidak hanya ada di permen. Saus tomat botol, susu kemasan beraroma cokelat, sereal pagi yang gurih, sampai roti tawar manis bisa menyumbang gram demi gram setiap kali Si Kecil makan. Vos dkk. (2017) merekomendasikan batas konsumsi pemanis tambahan kurang dari 25 gram per hari untuk anak usia 2 tahun ke atas, dan tidak ada pemanis tambahan sama sekali untuk anak di bawah 2 tahun.
Gaya hidup yang banyak duduk membuat otot Si Kecil membakar lebih sedikit glukosa, sehingga kadar glukosa darah lebih sulit terjaga stabil. Layar gadget berjam-jam dan jadwal main yang minim ruang gerak fisik menjadi kombinasi yang paling sering bersanding dengan asupan manis berlebih. Aktivitas fisik harian yang teratur, sekecil apa pun bentuknya, membantu otot menyerap glukosa lebih efisien.
Kelebihan berat badan, terutama yang terkumpul di area perut, berkaitan erat dengan resistensi insulin pada anak. Pateda dan kolega (2016) menemukan kaitan signifikan antara penampakan acanthosis nigricans (penggelapan kulit di area leher dan lipatan) dengan riwayat keluarga diabetes tipe 2 pada anak-anak dengan berat badan berlebih. Tanda kulit ini sering jadi sinyal awal yang sebaiknya Bunda perhatikan.
Anak dengan orang tua atau keluarga dekat berdiagnosis diabetes memang punya kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Tapi faktor keturunan bukan vonis. Justru dengan informasi ini, Bunda punya kesempatan paling besar untuk menyiapkan kebiasaan makan dan gerak yang protektif sejak hari pertama Si Kecil mengenal makanan.
Daftar berikut adalah kelompok produk yang paling sering luput dari pemeriksaan label, padahal menyumbang asupan pemanis tambahan terbesar pada anak Indonesia.
| Kategori Makanan/Minuman | Jenis Contoh | Mengapa Berisiko Memicu Diabetes? |
|---|---|---|
| Minuman Kemasan Manis | Soda, teh kotak, minuman rasa buah | Gula cair sangat cepat diserap tubuh karena tidak ada serat, memicu lonjakan gula darah seketika. |
| Sereal Sarapan Bergula | Sereal berlapis gula atau cokelat | Sering diklaim sehat, padahal mengandung kadar gula tambahan sangat tinggi dan rendah serat. |
| Jus Buah Kemasan | Sari buah dalam kotak atau botol | Proses pengolahan menghilangkan serat alami, menyisakan konsentrat gula yang membebani pankreas. |
| Camilan Ultra-Proses | Biskuit manis, wafer krim, donat | Mengandung lemak trans dan berbagai jenis gula tambahan untuk menjaga rasa dan keawetan. |
| Makanan Cepat Saji | Burger, kentang goreng, pizza | Kaya karbohidrat olahan yang cepat berubah menjadi glukosa serta memicu obesitas pada anak. |
Saat membaca daftar bahan, perhatikan nama-nama berikut. Semuanya mengandung pemanis tambahan, hanya disebut dengan istilah teknis yang berbeda. Foto daftar ini dan simpan di galeri ponsel Bunda agar mudah dicek saat belanja.
Bunda tidak perlu mengganti seluruh isi dapur dalam semalam. Pendekatan paling tahan lama justru bertahap. Mulai dari mengganti satu minuman kemasan per hari dengan air putih atau infused water. Pindahkan sereal manis di pantry ke rak yang lebih sulit dijangkau, lalu sediakan oatmeal polos di tempat yang gampang diraih. Sediakan stok buah segar yang sudah dipotong di kulkas agar Si Kecil punya pilihan camilan yang siap diambil sendiri.
Masak sendiri lebih sering, walau hanya dua hari dalam seminggu, sudah memberi efek besar pada pola makan keluarga. Libatkan Si Kecil di dapur. Anak yang ikut memilih dan menyiapkan sayur cenderung lebih mau mencicipinya.
Sebagai pelengkap, kenali juga sinyal awal yang sebaiknya tidak Bunda abaikan: Si Kecil lebih sering haus dari biasanya, frekuensi pipis meningkat, mudah lelah meski sudah cukup tidur, atau berat badan turun tanpa sebab jelas. Untuk panduan lebih lengkap mengenai tanda-tanda awal yang perlu Bunda waspadai, ketahui selengkapnya di sini: Ciri Diabetes pada Anak. Deteksi dini hampir selalu memperbesar peluang penanganan yang efektif.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Makanan Penyebab Diabetes pada Anak yang Sering Bunda Anggap Aman
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?