Aktivitas & Stimulasi Aktivitas & Stimulasi

Growth mindset adalah apa? Arti dan cara menanamkannya pada Si Kecil

Morinaga ♦ 6 Februari 2025
Growth mindset adalah apa? Arti dan cara menanamkannya pada Si Kecil

Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan seseorang bisa berkembang lewat kerja keras, strategi yang tepat, dan masukan dari orang lain (Dweck, 2016). Lawannya adalah fixed mindset, yaitu anggapan bahwa kecerdasan dan bakat sudah tetap sejak lahir. Pola pikir berkembang ini bisa mulai ditanamkan sejak Si Kecil berusia batita, terutama lewat cara orang tua memuji dan menyikapi kesalahan.

Istilah ini sering muncul di soal ujian guru, materi seminar parenting, sampai obrolan grup orang tua murid, dan maknanya kadang jadi kabur, padahal intinya sederhana. Anak dengan growth mindset melihat tugas yang sulit sebagai sesuatu yang bisa ia pelajari, sedangkan anak dengan fixed mindset cenderung melihatnya sebagai bukti bahwa ia memang tidak mampu.

Apa bedanya growth mindset dan fixed mindset?

Perbedaannya paling terlihat ketika anak menghadapi kesulitan. Anak dengan fixed mindset menganggap kecerdasan sebagai sifat bawaan yang jumlahnya sudah pasti, sehingga kegagalan terasa seperti penilaian atas dirinya. Ia lebih suka memilih tugas yang aman supaya tetap terlihat mampu. Anak dengan growth mindset lebih tertarik pada proses belajarnya, karena ia percaya hasil yang belum bagus masih bisa diperbaiki.

Penelitian klasik Claudia Mueller dan Carol Dweck memperlihatkan bahwa pola pikir ini bisa terbentuk dari hal sekecil cara memuji. Dalam enam studi pada anak kelas 5 SD, anak yang dipuji karena kecerdasannya lebih jarang bertahan dan kurang menikmati tugas setelah mengalami kegagalan, dan mereka lebih sering menggambarkan kecerdasan sebagai sifat yang tetap. Anak yang dipuji atas usahanya cenderung memilih tugas yang memberi kesempatan belajar dan melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang bisa berkembang (Mueller & Dweck, 1998).

Satu hal yang sering terlewat adalah bahwa tidak ada orang yang sepenuhnya growth atau sepenuhnya fixed, karena menurut Dweck (2016) setiap orang punya campuran keduanya dan campuran itu terus berubah seiring pengalaman. Jadi wajar kalau Si Kecil tampak gigih saat menyusun balok, lalu langsung menyerah ketika belajar menulis huruf.

Kenapa growth mindset penting sejak usia dini?

Usia batita dan prasekolah adalah masa ketika anak mulai membangun gambaran tentang dirinya sendiri, termasuk soal apa yang ia rasa bisa dan tidak bisa. Sebuah studi merekam interaksi orang tua dan anak di rumah saat anak berusia 1, 2, dan 3 tahun, lalu memeriksa anak yang sama di usia 7 sampai 8 tahun. Makin besar porsi pujian proses yang diterima anak (pujian untuk usaha, strategi, atau tindakannya), makin positif sikapnya terhadap tantangan, makin banyak strategi yang ia temukan untuk mengatasi kesulitan, dan makin kuat keyakinannya bahwa kemampuan bisa berkembang (Gunderson dkk., 2013).

Cara orang tua menyikapi kegagalan ternyata ikut terbaca oleh anak. Haimovitz dan Dweck (2016) menemukan bahwa orang tua yang memandang kegagalan sebagai hal yang melemahkan cenderung lebih fokus pada nilai dan kemampuan anak dibanding proses belajarnya, dan anak-anak mereka lebih condong menganggap kecerdasan itu tetap. Menariknya, anak lebih mudah menangkap sikap orang tua terhadap kegagalan dibanding keyakinan orang tua soal kecerdasan.

Bunda juga perlu tahu bahwa growth mindset tidak otomatis membuat nilai anak melonjak. Dua meta-analisis besar menemukan bahwa hubungan rata-rata antara growth mindset dan prestasi akademik itu lemah, begitu juga efek rata-rata program pelatihan mindset, meski siswa dari keluarga berpenghasilan rendah atau yang berisiko tertinggal di sekolah tampak lebih banyak terbantu (Sisk dkk., 2018). Karena itu, growth mindset lebih tepat dipandang sebagai bekal sikap dalam belajar, yaitu keberanian mencoba dan kesediaan bangkit setelah gagal, yang tumbuh bersama banyak faktor lain dalam tumbuh kembang Si Kecil.

Cara menanamkan growth mindset pada anak sesuai usia

Prinsipnya sama di semua usia. Hargai proses, perlakukan kesalahan sebagai informasi, dan beri tantangan yang sedikit di atas kemampuan anak saat ini. Dweck (2016) menekankan bahwa yang perlu dihargai adalah usaha yang disertai pembelajaran dan kemajuan, termasuk mencoba strategi baru dan berani meminta bantuan orang lain.

Contoh dari orang tua sama pentingnya dengan kata-kata. Saat kue buatan Bunda bantat atau rak yang dipasang Ayah miring, ceritakan dengan santai apa yang akan dicoba berbeda lain kali. Anak belajar banyak dari melihat orang dewasa di sekitarnya keliru, lalu mencoba lagi dengan tenang.

Usia 1 sampai 3 tahun

Di usia ini, bahan utamanya adalah pujian yang menyebut apa yang dilakukan Si Kecil. Saat ia akhirnya berhasil memasukkan balok segitiga ke lubang yang pas setelah beberapa kali salah, kalimat seperti “Kamu terus mencoba sampai ketemu lubangnya” lebih bermakna daripada sekadar “Anak pintar”. Pujian seperti ini memberi tahu anak bahwa usahanya yang terlihat.

Biarkan juga ia bergulat sebentar dengan kesulitan kecil. Menahan diri untuk tidak langsung mengambil alih sendok, kepingan puzzle, atau kancing baju memberi Si Kecil kesempatan merasakan bahwa sesuatu yang tadinya sulit bisa jadi lebih mudah setelah dicoba berulang kali. Rasanya memang lebih cepat kalau Bunda yang mengancingkan bajunya, tapi beberapa menit tambahan itu memberi Si Kecil pengalaman berhasil karena usahanya sendiri.

Usia 3 sampai 6 tahun

Anak prasekolah sudah bisa diajak memahami kata “belum”. Ketika ia berkata “Aku nggak bisa gambar kucing”, Bunda cukup menambahkan satu kata dengan menjawab “Kamu belum bisa gambar kucing yang kamu mau, coba kita lihat dulu bentuk telinganya.” Kata kecil ini menempatkan kegagalan sebagai titik di tengah perjalanan.

Usia ini juga waktu yang pas untuk tantangan bertahap. Puzzle 12 keping yang sudah lancar bisa naik ke 24 keping, dan menara balok yang roboh untuk ketiga kalinya bisa jadi bahan obrolan tentang cara membuat dasarnya lebih kokoh. Tantangan yang sedikit di atas kemampuannya membuat anak merasakan kemajuan tanpa merasa kewalahan, sedangkan tantangan yang terlalu berat lebih sering berakhir dengan tangis dan mainan yang ditinggalkan.

Usia sekolah

Anak usia sekolah mulai membandingkan dirinya dengan teman, terutama soal nilai dan peringkat. Ajak ia melihat coretan merah di lembar tugas sebagai petunjuk tentang bagian yang perlu dilatih lagi. Pertanyaan seperti “Bagian mana yang paling bikin bingung?” atau “Cara apa yang belum kamu coba?” mendorongnya memikirkan strategi, dan ia belajar bahwa bertanya kepada guru atau teman adalah bagian dari belajar.

Ceritakan juga kegagalan Bunda sendiri dengan jujur, misalnya presentasi kerja yang perlu diulang atau resep yang baru berhasil di percobaan kedua. Anak usia sekolah sudah bisa menangkap bahwa orang dewasa pun terus belajar, dan itu membuat kesalahannya sendiri terasa lebih wajar.

Kalimat yang bisa Bunda ucapkan sehari-hari

Mengubah cara memuji tidak harus terdengar kaku. Saat Si Kecil menyelesaikan puzzle, coba katakan “Kamu mencoba beberapa cara sampai akhirnya ketemu” sebagai ganti “Kamu memang cerdas”. Saat gambarnya belum sesuai keinginannya, pertanyaan “Bagian mana yang mau kamu ubah?” membuka obrolan tentang proses tanpa menilai hasilnya.

Ketika ia hampir menyerah, kalimat “Ini memang susah, dan kamu sedang belajar” mengakui perasaannya sekaligus mengingatkan bahwa kesulitan itu bagian dari belajar. Setelah ia berhasil, mengingatkan kemajuannya juga membantu, misalnya dengan berkata “Minggu lalu kamu belum bisa naik sepeda tanpa dipegangi, sekarang sudah sampai ujung gang.” Kalimat seperti ini membuat anak melihat sendiri hubungan antara latihan dan kemajuan.

Ada juga kalimat yang sebaiknya dikurangi. “Kamu memang berbakat” terdengar manis, tapi menaruh keberhasilan pada sifat bawaan. Kalimat penghiburan seperti “Nggak apa-apa, kamu memang nggak jago matematika” juga berniat baik, namun bisa memberi kesan bahwa kemampuan itu sudah tetap dan tidak perlu dilatih lagi.

Kesalahan umum saat mengajarkan growth mindset

Kesalahan yang paling sering adalah pujian kosong untuk usaha. Mengucapkan “Yang penting kamu sudah berusaha” padahal anak terus memakai cara yang sama dan tidak ada kemajuan justru membuatnya buntu. Dweck (2016) mengingatkan bahwa usaha yang tidak produktif tidak perlu dirayakan, dan anak di posisi ini lebih butuh dibantu mencari strategi baru.

Kesalahan berikutnya adalah apa yang Dweck sebut false growth mindset, yaitu menyamakan growth mindset dengan sikap positif, pikiran terbuka, atau slogan “Ayo, kamu bisa” yang ditempel di dinding (Dweck, 2016). Slogan tanpa pendampingan jarang mengubah apa pun. Yang membentuk pola pikir anak adalah respons orang tua sehari-hari, terutama di momen ketika ia gagal, kesal, atau ingin berhenti.

Membandingkan Si Kecil dengan kakak, sepupu, atau teman sekelas juga sering menggeser fokusnya dari belajar ke soal terlihat lebih unggul. Setiap anak punya POTENSI yang berkembang dengan ritmenya sendiri, jadi bandingkan ia dengan dirinya beberapa bulan lalu. Kalau Si Kecil tampak sangat cemas setiap kali takut salah, sampai menolak mencoba hal baru dalam waktu lama, konsultasikan dengan psikolog anak atau dokter anak. Untuk latihan di rumah, Bunda bisa mencari ide bermain sesuai kecerdasan majemuk Si Kecil yang memberi tantangan bertahap sesuai minatnya.

Referensi

  • Dweck, C. S. (2016, 13 Januari). What having a “growth mindset” actually means. Harvard Business Review. https://hbr.org/2016/01/what-having-a-growth-mindset-actually-means
  • Mueller, C. M., & Dweck, C. S. (1998). Praise for intelligence can undermine children’s motivation and performance. Journal of Personality and Social Psychology, 75(1), 33-52. https://doi.org/10.1037/0022-3514.75.1.33
  • Gunderson, E. A., Gripshover, S. J., Romero, C., Dweck, C. S., Goldin-Meadow, S., & Levine, S. C. (2013). Parent praise to 1- to 3-year-olds predicts children’s motivational frameworks 5 years later. Child Development, 84(5), 1526-1541. https://doi.org/10.1111/cdev.12064
  • Haimovitz, K., & Dweck, C. S. (2016). Parents’ views of failure predict children’s fixed and growth intelligence mind-sets. Psychological Science, 27(6), 859-869. https://doi.org/10.1177/0956797616639727
  • Sisk, V. F., Burgoyne, A. P., Sun, J., Butler, J. L., & Macnamara, B. N. (2018). To what extent and under which circumstances are growth mind-sets important to academic achievement? Two meta-analyses. Psychological Science, 29(4), 549-571. https://doi.org/10.1177/0956797617739704