Penyakit cacar monyet disebabkan oleh infeksi monkeypox virus (MPXV) yang merupakan virus dari genus Orthopoxvirus dan dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia (World Health Organization, 2024). Kabar mengenai penyebaran mpox tentu bisa membuat Bunda khawatir, terutama ketika Si Kecil mulai aktif bersekolah dan berinteraksi dengan banyak orang. Untuk mengurangi risiko penularan, Bunda perlu memahami cara penyebaran virus dan langkah pencegahannya. Selain menjaga kebersihan dan menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi, memenuhi kebutuhan NUTRISI harian juga penting untuk mendukung kesehatan tubuh anak secara keseluruhan.
Mpox dapat menular melalui kontak langsung dengan ruam, luka, atau cairan tubuh orang yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak dekat yang melibatkan droplet atau partikel pernapasan, serta benda yang terkontaminasi, seperti pakaian dan seprai (World Health Organization, 2024). Anak-anak dapat mengalami komplikasi serius akibat mpox, sehingga gejala yang mengarah pada infeksi ini perlu diperhatikan. Namun, bukan berarti setiap anak pasti mengalami gejala berat. Risiko penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan dan usia anak.
Untuk membantu mencegah penularan, Bunda dapat membiasakan Si Kecil mencuci tangan dengan sabun, menghindari kontak langsung dengan orang yang mengalami ruam atau luka yang belum diketahui penyebabnya, serta tidak berbagi barang pribadi dengan orang yang terinfeksi. Jika ada anggota keluarga yang diduga atau telah terdiagnosis mpox, ikuti arahan tenaga kesehatan mengenai perawatan dan pencegahan penularan di rumah.
Mengetahui ciri-ciri cacar monyet sejak dini akan sangat membantu Bunda dalam mengambil tindakan penanganan medis secara cepat. Gejala awal infeksi mpox biasanya dimulai pada masa inkubasi hingga munculnya fase demam tinggi pada anak (World Health Organization, 2024). Selain demam, anak juga akan mengeluhkan sakit kepala berlebih dan nyeri otot yang tentu sangat mengganggu kenyamanannya.
Salah satu gejala yang dapat membantu membedakan mpox dari beberapa penyakit lain adalah terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening. Pembengkakan atau limfadenopati ini umumnya muncul secara jelas di area leher, ketiak, atau lipatan paha Si Kecil (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023). Setelah itu, perkembangan bentuk ruam khas mpox akan muncul secara bertahap mulai dari bintik kemerahan. Bintik tersebut lalu berubah menjadi benjolan berisi cairan bening, nanah, hingga akhirnya mengering menjadi koreng keras.
Mpox dan cacar air sama-sama dapat menyebabkan ruam yang berkembang secara bertahap. Namun, keduanya disebabkan oleh virus yang berbeda dan memiliki sejumlah karakteristik yang dapat membantu tenaga kesehatan membedakannya. Pada mpox, lesi dapat terasa lebih dalam dan memiliki batas yang tegas. Ruam juga dapat muncul di telapak tangan dan telapak kaki. Sementara itu, cacar air umumnya menimbulkan ruam yang terasa gatal, dengan lesi dalam berbagai tahap perkembangan yang dapat terlihat bersamaan di tubuh (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023).
Meski demikian, tampilan ruam saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Jika Bunda melihat ruam yang tidak biasa pada Si Kecil, hindari memecahkan atau menggaruk lesi. Kebiasaan tersebut dapat melukai kulit dan meningkatkan risiko infeksi tambahan. Sebaiknya, mintalah saran tenaga kesehatan mengenai perawatan kulit yang tepat dan langkah untuk mengurangi risiko penularan.
Terdapat hubungan yang sangat krusial antara pemenuhan mikronutrien dan efisiensi kerja sel-sel imunitas tubuh anak. Nutrisi lengkap sangat dibutuhkan agar imunitas mampu melawan invasi virus berbahaya di dalam tubuh secara efektif (Calder, 2020). Salah satu komponen pentingnya yaitu protein berkualitas tinggi yang bertindak sebagai pembentuk antibodi pelindung sistem kekebalan. Protein ini juga menjadi bahan utama dalam perbaikan jaringan epitel kulit yang rusak akibat lesi ruam mpox.
Selain protein, asupan mikronutrien pendukung lainnya juga tidak boleh dilewatkan dari piring makan anak setiap harinya. Asupan vitamin A, vitamin C, vitamin E, serta seng bertindak sebagai antioksidan tangguh di dalam tubuhnya (Calder, 2020). Semua zat gizi mikro tersebut sangat berguna untuk mempercepat penyembuhan luka dan meredakan peradangan kulit Si Kecil. ATENSI terhadap kelengkapan gizi ini akan membuat masa pemulihan anak berjalan jauh lebih singkat dan ia merasa lebih nyaman.
Ketika Si Kecil sedang sakit, Bunda dapat menawarkan makanan bergizi dengan tekstur dan porsi yang nyaman baginya. Berikut beberapa pilihan yang bisa disesuaikan dengan usia, selera, dan kondisi anak:
Apabila terdapat lesi yang terasa sakit di sekitar mulut atau tenggorokan, Si Kecil mungkin kesulitan makan dan minum. Bunda dapat menawarkan makanan bertekstur lembut serta cairan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering, sesuai toleransi anak. Jika anak kesulitan menelan, menolak minum, jarang buang air kecil, atau menunjukkan tanda dehidrasi, segera cari bantuan medis.
Pencegahan mpox perlu mengutamakan upaya mengurangi paparan terhadap virus. Bunda dapat menerapkan beberapa kebiasaan berikut bersama Si Kecil:
Pemenuhan gizi merupakan bagian penting dari kebiasaan hidup sehat, tetapi bukan jaminan bahwa anak akan terhindar dari mpox. Karena itu, Bunda perlu menggabungkan pola makan seimbang dengan kebersihan diri dan lingkungan serta langkah pencegahan penularan yang sesuai. Untuk memahami lebih lanjut cara mendukung kesehatan Si Kecil melalui pola makan sehari-hari, Bunda dapat cek selengkapnya di sini: Cara Meningkatkan Imun Si Kecil dengan Nutrisi yang Tepat.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Penyebab Cacar Monyet Mpox dan Cara Mencegahnya pada Anak
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?