Parenting Parenting

Cara Mendidik Gen Alpha Melalui Digital Parenting

Morinaga ♦ 7 Januari 2026

Cara Mendidik Gen Alpha Melalui Digital Parenting

Mendidik generasi Alpha memerlukan pendekatan digital parenting yang adaptif karena mereka lahir di dunia yang sepenuhnya digital. Generasi Alpha memiliki karakteristik yang sangat akrab dengan teknologi sejak lahir. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Ayah Bunda dalam mendidik Si Kecil.

Tantangan utama Bunda mendidik gen Alpha adalah dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar tidak menjadi aktivitas pasif, melainkan sebagai sarana kreativitas. Bunda perlu memahami karakteristik Si Kecil sebelum lebih jauh memperkenalkan teknologi agar bisa digunakan dengan lebih bijak. 

Memahami Karakteristik Generasi Alpha yang Unik

Gen Alpha merupakan anak-anak yang lahir mulai 2010 hingga 2024. 

Mereka tumbuh dengan karakteristik yang khas, memiliki kemampuan visual yang kuat, sangat bergantung pada konektivitas internet, dan menyukai cara belajar yang interaktif.

Bagi Gen Alpha, teknologi bukan sekadar alat, tapi bagian dari identitas. Oleh karena itu, langkah awal untuk berkomunikasi efektif dengan mereka adalah memahami dunia digital tersebut. Pola asuh untuk generasi ini menuntut fleksibilitas, Bunda perlu memperkenalkan teknologi tanpa membatasi rasa ingin tahu dan eksplorasi mereka.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, realitas mereka sangat luas. Melalui internet, mereka terpapar berbagai budaya, berita, dan informasi dari seluruh dunia dengan sangat mudah. Pengalaman inilah yang membentuk mereka menjadi generasi warga global yang paham bahwa dunia ini saling terhubung.

Selain itu, gen Alpha juga lebih mudah dalam menavigasi lanskap digital, mahir menemukan solusi, dan memperoleh pengetahuan secara mandiri. Hebatnya, kemandirian ini sering kali terbawa hingga ke kehidupan nyata. Maka dari itu, sebagai orang tua yang melek teknologi, Ayah dan Bunda perlu memahami kebutuhan unik ini agar bisa membimbing Si Kecil dengan bijak di tengah derasnya arus informasi.

Menerapkan Digital Parenting Melalui Kreasi Aktif

Kunci digital parenting yang sukses bukan dengan menjauhkan Si Kecil dari layar, melainkan mengubah cara mereka menggunakannya. Tidak semua waktu di depan layar sama, kuncinya dengan memahami perbedaan konsumsi pasif dan konsumsi aktif. Waktu di depan layar secara pasif adalah saat Si Kecil screen time tanpa banyak berpikir, berinteraksi, atau berkreasi.

Sedangkan, waktu di depan layar secara aktif artinya Si Kecil terlibat, berkreasi, atau terhubung. Konsumsi pasif contohnya seperti menonton video atau bermain game yang tidak melibatkan kemampuan berpikir kritis. Sedangkan konsumsi aktif meliputi menulis jurnal, belajar koding, atau mengedit video.

Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk menjadi fasilitator utama dalam perjalanan digital Si Kecil dengan dua cara berikut:

Mengubah Menonton Pasif Menjadi Aktivitas Berpikir

Konsumsi pasif seperti menonton video secara marathon tanpa interaksi memiliki dampak berbahaya seperti mengganggu kualitas tidur, meningkatkan kecemasan, dan mengurangi fokus Si Kecil. Solusinya, Bunda bisa mengajak Si Kecil untuk berdiskusi mengenai isi tontonan dan memberikan batasan waktu tayang yang sehat. Ayah dan Bunda perlu memberikan ATENSI terhadap jadwal screen time Si Kecil agar ia tidak terbiasa dengan rangsangan visual yang terlalu cepat dan instan.

Mendorong Si Kecil Menjadi Kreator Digital Sejak Dini

Salah satu cara terbaik memanfaatkan gadget adalah dengan melakukan active creation. Bunda bisa memulainya dengan aktivitas yang sesuai usia, misalnya belajar dasar coding yang dikemas dalam game, mengedit video pendek, atau berkreasi dengan aplikasi menggambar. Aktivitas-aktivitas ini menuntut Si Kecil untuk berpikir aktif, sehingga logika dan fokusnya lebih terasah daripada saat menonton pasif. Pada dasarnya, teknologi hanyalah alat bantu. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk menjadi fasilitator yang mengarahkan alat tersebut guna mewujudkan ide-ide brilian Si Kecil.

Menjaga Fokus dan ATENSI Si Kecil di Tengah Distraksi

Melibatkan Si Kecil dalam kreasi aktif, ia akan belajar untuk fokus pada satu proyek dalam durasi yang lebih dalam dibandingkan hanya dengan menonton. Dengan memperbanyak durasi konsumsi aktif di depan layar, berarti Bunda sedang mengusahakan keseimbangan screen time Si Kecil untuk tumbuh kembang yang lebih baik.

Menjaga keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas fisik berguna untuk memastikan agar saraf motorik dan kemampuan sosial Si Kecil bisa berkembang sempurna. Tubuh Si Kecil memerlukan gerak aktif untuk mendukung kinerja otak agar lebih fokus saat berkreasi. Ini karena aktivitas fisik terbukti melancarkan sirkulasi oksigen ke otak yang krusial bagi konsentrasi. 

Aktivitas fisik yang bermanfaat seperti berolahraga merupakan salah satu cara paling efektif untuk menyeimbangkan stimulasi digital, sehingga Si kecil akan tajam secara kognitif dan bugar secara fisik. Bunda, ada berbagai jenis olahraga dengan beragam manfaat untuk Si Kecil yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan POTENSI Si Kecil. Simak penjelasan lengkapnya di sini: Maksimalkan Potensi Anak dengan Kebiasaan Olahraga Sejak Dini.

Referensi

  • Family Time. Challenges of Raising Hen Alpha Kids & Dealing with Them. Diakses 26 Desember 2025. https://blog.familytime.io/challenges-of-raising-gen-alpha-kids-dealing-with-them.ft#:~:text=Wrap%20Up!,tech%2Dsavvy%20Gen%20Alpha%20kids
  • UNIS Hanoi. What is Generation Alpha? 8 Characteristics of Generation Alpha. Diakses 26 Desember 2025. https://articles.unishanoi.org/characteristics-of-generation-alpha/ 
  • Tech Healthy Families. Active vs Passive Screen Time: What Parents of Tweens and Teens Need to Know. Diakses 26 Desember 2025. https://www.techhealthyfamilies.com/blog/active-vs-passive-consumption