Gizi & Nutrisi Gizi & Nutrisi

Manfaat Ikan Nila untuk Bayi, Sumber Protein Terjangkau

Morinaga
Morinaga ♦ 12 Agustus 2026

Ditinjau oleh dr. Reza Fahlevi, Sp.A

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

About the author

dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.

Manfaat Ikan Nila untuk Bayi, Sumber Protein Terjangkau

Ikan nila aman untuk bayi setelah Si Kecil mulai MPASI di usia 6 bulan, selama dimasak hingga matang, durinya dibersihkan, dan dipilih dari budidaya yang bersih. Ikan ini termasuk sumber protein hewani yang terjangkau dan mudah ditemukan, sehingga sering jadi pilihan menu MPASI keluarga Indonesia. Tetap teruskan ASI sebagai makanan utama di tahun pertama.

Banyak Bunda ragu memberikan ikan karena khawatir soal amis, duri, atau merkuri. Kekhawatiran itu wajar, tapi ikan nila justru salah satu ikan yang ramah untuk awal perkenalan dan dengan cara mengolah yang tepat, sebagian besar kekhawatiran tadi bisa diatasi.

Kenapa Ikan Nila Cocok untuk Awal MPASI? 

Ikan nila punya beberapa hal yang membuatnya pas sebagai protein hewani pertama. Harganya relatif terjangkau, mudah didapat di pasar maupun supermarket, dan dagingnya lembut setelah dimasak. Rasanya juga cenderung ringan dibanding ikan laut tertentu yang lebih kuat aromanya, jadi bayi yang baru belajar mengenal protein hewani biasanya lebih mudah menerimanya. Sebagai sumber protein hewani, ikan nila memberi bahan baku penting untuk masa tumbuh kembang. Ikan menyediakan protein berkualitas dengan profil asam amino esensial yang lengkap, plus mineral seperti selenium dan fosfor yang ikut mendukung pembentukan jaringan tubuh, tulang, dan gigi (Maulu et. al., 2021). Selenium juga bekerja sebagai antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh.

Menariknya, ikan bukan sekadar lauk pelengkap. Sebuah uji coba terkontrol acak pada bayi usia 6 sampai 7 bulan menemukan pemberian ikan sebagai makanan pendamping dini berkaitan dengan pertumbuhan linier yang lebih baik (Chipili et. al., 2022). Temuan ini menguatkan posisi ikan, termasuk ikan nila, sebagai variasi lauk yang bernilai selain ayam atau telur. Memperkenalkan beragam rasa dan tekstur sejak dini juga membantu Si Kecil terbiasa makan bervariasi.

Memilih Ikan Nila yang Aman untuk Menu Bayi

Tingkat kualitas ikan yang Bunda beli akan menentukan faktor keamanan menu makanan Si Kecil, oleh karena itu selalu mulailah dari proses memilih ikan yang benar-benar segar. Ciri-ciri fisik ikan nila yang segar sangat mudah untuk Bunda kenali saat berbelanja harian:

  • Bagian matanya tampak jernih, menonjol, dan tidak cekung ke dalam.
  • Tekstur dagingnya terasa kenyal dan langsung kembali ke bentuk semula saat ditekan jari.
  • Bagian insangnya berwarna merah cerah dan basah, bukan kelabu atau berlendir pekat.
  • Memiliki aroma segar yang khas dari ikan air tawar, bukan bau busuk yang menyengat.

Terkait isu kandungan merkuri, ini adalah kekhawatiran yang sering muncul di benak para Ibu namun sebenarnya bisa ditenangkan. Ikan nila termasuk ke dalam kategori jenis ikan dengan akumulasi merkuri yang tergolong sangat rendah, terutama jika ikan tersebut dibesarkan di lingkungan budidaya kolam atau keramba yang dikelola dengan baik. Memilih ikan dari sumber budidaya yang bersih dan tepercaya akan membantu meminimalkan risiko kontaminasi zat kimia berbahaya.

Untuk menjaga higienitas dan kualitas protein ikan nila tetap prima sejak dari pasar hingga sampai ke piring makan Si Kecil, Bunda bisa menerapkan beberapa kebiasaan kecil berikut:

Tahapan Penanganan Langkah Praktis di Rumah
Proses Pembelian Belilah di penjual yang memiliki perputaran dagangan cepat dan menyimpan ikannya di atas hamparan es batu.
Penyimpanan Segar Jika tidak langsung dimasak hari itu, segera simpan ikan di bagian terdingin kulkas (chiller) dan olah dalam waktu singkat.
Penyimpanan Beku Untuk stok jangka panjang, bekukan ikan di dalam freezer dengan membaginya ke dalam porsi-porsi kecil sekali masak.
Sanitasi Alat Selalu cuci tangan, talenan, dan pisau menggunakan sabun setelah menyentuh ikan mentah agar tidak terjadi kontaminasi silang.

Mengolah Ikan Nila agar Tidak Amis dan Mudah Dimakan 

Bagian ini sering bikin Bunda bingung, padahal kuncinya sederhana. Sebelum apa pun, pastikan semua duri sudah dibersihkan. Duri halus pada ikan nila mudah terselip, jadi raba daging dengan jari setelah dimasak dan suwir perlahan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Untuk bayi, daging ikan sebaiknya benar-benar lembut dan bebas duri.

Aroma amis bisa dikurangi dengan bahan dapur yang biasa ada di rumah. Lumuri ikan dengan perasan jeruk nipis sebelum dimasak, atau masak bersama jahe dan sedikit bawang. Memasak ikan berbarengan dengan sayuran seperti wortel, labu, atau bayam juga membantu menyeimbangkan rasa sekaligus menambah gizi.

Teknik memasak yang cocok untuk MPASI adalah yang menjaga tekstur tetap lembut: kukus, tim, atau buat sup. Cara-cara ini mempertahankan kelembapan daging sehingga mudah dihaluskan dan ditelan, sambil memastikan ikan matang sempurna. Pastikan ikan dimasak sampai dagingnya berubah keruh dan mudah terurai, bukan setengah matang. Pengolahan yang tepat bukan cuma soal keamanan. Aroma amis yang terlalu kuat bisa membuat bayi enggan, dan ini kadang memicu gerakan tutup mulut alias GTM. Dengan ikan yang wangi dan teksturnya pas, Si Kecil cenderung lebih nyaman mencoba protein baru.

Tanda Si Kecil Siap Mengenal Ikan 

Waktu yang tepat memperkenalkan ikan nila adalah saat Si Kecil sudah mulai MPASI di usia 6 bulan dan mampu menerima makanan bertekstur halus. Menurut anjuran WHO, makanan pendamping diberikan mulai usia 6 bulan sambil ASI tetap diteruskan sampai 2 tahun atau lebih (WHO, 2023). Ikan termasuk makanan hewani yang dianjurkan hadir dalam menu harian bayi 6 sampai 23 bulan.

Soal alergi, ikan memang salah satu makanan yang berpotensi memicu reaksi pada sebagian anak. Kabar baiknya, menunda pengenalan makanan berpotensi alergen melewati usia 6 bulan tidak terbukti menurunkan risiko alergi, baik pada bayi umum maupun yang punya riwayat keluarga atopi (ESPGHAN Committee on Nutrition, 2008). Jadi ikan boleh diperkenalkan pada masa MPASI seperti makanan baru lainnya.

Cara amannya, kenalkan ikan dalam porsi kecil lebih dulu, satu jenis makanan baru dalam beberapa hari, sambil memperhatikan reaksi Si Kecil. Tanda yang perlu Bunda waspadai setelah mencoba makanan baru antara lain ruam atau bentol di kulit, muntah, diare, bengkak di wajah atau bibir, atau napas yang berbunyi. Kalau muncul reaksi berat seperti sesak atau bengkak di wajah, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Untuk reaksi ringan yang berulang, konsultasikan dengan dokter anak sebelum mencoba lagi.

Memberi Variasi Protein untuk Gizi Harian Si Kecil 

Ikan nila boleh masuk menu beberapa kali dalam seminggu, tapi tetap perlu diselingi sumber protein lain agar gizi Si Kecil lebih seimbang. Ayam, telur, daging, hati ayam, tahu, dan tempe masing-masing membawa profil nutrisi yang berbeda. Menggilir berbagai sumber protein membantu memenuhi kebutuhan zat besi, zinc, dan vitamin B12 yang sulit terpenuhi kalau menu terlalu monoton. Protein punya peran besar pada masa emas pertumbuhan, terutama di 1000 hari pertama kehidupan. Asupan protein hewani membantu mendukung pembentukan otot, jaringan tubuh, dan perkembangan fisik anak. Inilah bagian dari NUTRISI yang menopang tumbuh kembang Si Kecil dari hari ke hari.

Memahami pilihan makanan tinggi protein yang sesuai untuk bayi dan anak akan memudahkan Bunda menyusun menu harian. Untuk inspirasi sumber protein lain yang cocok, Bunda bisa membaca pilihan lainnya ikan tinggi protein untuk Si Kecil. Bagi anak usia satu tahun ke atas, susu pertumbuhan juga dapat menjadi salah satu pelengkap pola makan bergizi seimbang, bukan pengganti makanan utama maupun ASI.

Satu piring MPASI yang sederhana, ikan nila kukus yang lembut, sedikit sayuran, dan nasi tim, sudah bisa jadi langkah nyata Bunda menemani Si Kecil mengenal dunia rasa.

Referensi

  • Maulu, S., Nawanzi, K., Abdel-Tawwab, M., & Khalil, H. S. (2021). Fish nutritional value as an approach to children’s nutrition. Frontiers in Nutrition, 8, 780844.
  • Chipili, G., Van Graan, A., Lombard, C. J., & Van Niekerk, E. (2022). The efficacy of fish as an early complementary food on the linear growth of infants aged 6-7 months: A randomised controlled trial. Nutrients, 14(11), 2191.
  • World Health Organization. (2023). WHO guideline for complementary feeding of infants and young children 6-23 months of age. World Health Organization.
  • ESPGHAN Committee on Nutrition. (2008). Complementary feeding: A commentary by the ESPGHAN Committee on Nutrition. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, 46(1), 99-110.