Ketika Si Kecil bisa berperilaku sesuai aturan meskipun ada keinginan untuk melakukan hal lain, artinya dia mulai dapat mengontrol dirinya sendiri. Kontrol diri adalah kemampuan yang memungkinkan anak untuk memutuskan mana yang harus diikuti dan mana yang harus diabaikan. Dengan keterampilan tersebut, ia dapat mengatur emosi, mengelola impuls, dan membuat keputusan yang bijaksana, bahkan ketika dihadapkan dengan godaan atau gangguan.
Pada usia dini, pengendalian diri terlihat dari kemampuan menunggu giliran atau tidak meledak saat merasa kecewa. Hal ini memungkinkan Si Kecil untuk mengekspresikan dan mengatasi emosi yang kuat dengan cara yang tepat. Anak yang mampu mengendalikan diri akan lebih siap menghadapi tantangan, mempertahankan fokus, dan mencapai tujuan mereka.
Keterampilan ini bukanlah sesuatu yang datang secara alami, melainkan berkembang seiring waktu dengan bimbingan, latihan, dan dukungan. Simulasi dan pola asuh Bunda yang konsisten sejak usia emas turut berperan besar dalam membentuk Si Kecil menjadi sosok yang mampu mengontrol keinginan dirinya sendiri.
Kemampuan mengelola diri sendiri merupakan pondasi utama dari kemampuan ATENSI dan kecerdasan emosional Si Kecil. Baik itu menunda kepuasan, mengatur emosi, atau tetap fokus pada suatu aktivitas, pengendalian diri memainkan peran penting dalam perkembangannya. Ini tentu bukan hal yang mudah, terutama bagi otak muda yang sedang berkembang.
Ketika Si Kecil bisa mengendalikan dirinya dengan baik, akan lebih mudah baginya untuk beradaptasi di lingkungan sekolah dan sosial. Mengutip KidProsper, anak-anak yang menunjukkan kontrol diri yang kuat mampu membangun hubungan yang sehat dengan sekitar dan dapat membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Bunda perlu melatih aspek ini pada Si Kecil sejak masa toddler. Seiring bertambahnya usia, hal ini akan bermanfaat untuk membantunya belajar berhenti sejenak sebelum bertindak. Dengan begitu, Si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri saat dewasa nanti.
Ketika Si Kecil sudah mampu mengontrol dirinya, ia akan bisa mengatur pikiran, perasaan, dan tindakannya alih-alih meluapkan emosi. Melansir Arts Language Music Academy, studi menunjukkan bahwa anak-anak prasekolah dengan pengendalian diri yang baik cenderung merasakan manfaat berikut:
Manfaat kontrol diri ini tidak hanya dirasakan di masa kecil. Kemampuan mengelola diri yang terbentuk sejak dini akan membekali Si Kecil hingga dewasa, memberikan dampak positif seumur hidup.
Ada banyak hal yang menunjukkan bagaimana Si Kecil melakukan self-control. Misalnya, ketika ia bisa mengendalikan dirinya untuk berhenti bermain saat tiba waktunya makan. Jika Bunda mendapatinya mau berbagi mainan dengan saudara kandung atau temannya, itu juga bagian dari kontrol diri. Demikian pula saat Si Kecil bersabar dalam antrean, ia tengah menahan keinginannya untuk menyela orang lain, karena memahami bahwa dirinya harus menunggu giliran.
Tindakan-tindakan sederhana ini adalah bukti bahwa sistem saraf Si Kecil mulai belajar mengendalikan dorongan impulsif. Perlahan-lahan, ia mulai mampu menunda kepuasan alih-alih mengekspresikan kemarahan secara fisik. Ini adalah bekal dasar dalam mengelola emosi dan proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab di masa mendatang.
Meskipun kemampuan menenangkan diri sudah dimulai sejak bayi, perkembangan signifikan biasanya baru terlihat di usia 3 hingga 7 tahun. Inilah waktu yang tepat untuk melatihnya di rumah melalui cara-cara seru berikut:
Metode ini sangat efektif melatih kesabaran Si Kecil dalam mengikuti instruksi. Aturannya sederhana, yaitu, saat Bunda bilang "Lampu Merah", Si Kecil harus diam mematung. Saat "Lampu Hijau", ia boleh bergerak bebas. Dengan cara yang menyenangkan, ia belajar menahan dorongan tubuhnya tanpa merasa tertekan.
Bantu Si Kecil mengenali perasaannya. Ajak ia berdiskusi tentang apa itu marah, senang, sedih, atau kecewa. Saat emosi itu muncul, validasi perasaannya, seperti "Adik sedih ya mainannya rusak?". Ketika ia bisa menamai emosinya, ia akan lebih mudah mengelolanya menjadi tindakan yang bertanggung jawab.
Stimulasi yang menyenangkan membuat Si Kecil dapat melatih kontrol dirinya tanpa paksaan. Jangan lupa berikan penghargaan sederhana saat ia menunjukkan sikap sabar, agar semangatnya untuk mengatur diri sendiri terus tumbuh.
Kontrol diri merupakan sifat yang perlu dikembangkan Si Kecil sendiri. Namun, keterlibatan orang tua dan lingkungan keluarga memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan ini. Gaya pengasuhan tertentu juga menjadi faktor penentu utama dalam membentuk karakternya.
Anak-anak sering meniru perilaku orang tua mereka. Jadi, penting untuk mencontohkan pengendalian diri dalam tindakan sehari-hari. Cara Bunda merespons emosi akan menjadi cermin bagi Si Kecil dalam mengontrol dirinya sendiri. Untuk itu, tunjukkan bagaimana sikap Bunda saat mengatasi stres, merespons emosi, dan tetap bersabar pada tujuan.
Demi pengendalian diri yang baik, sangat penting melakukan evaluasi pola asuh untuk memastikan apakah pendekatan yang dilakukan sudah mendukung perkembangan perilaku positif Si Kecil atau belum. Jika merasa gaya parenting saat ini kurang ideal, mulailah menyediakan lingkungan penuh perhatian yang mendorong refleksi dan pengaturan emosi Si Kecil.
Dengan gaya asuh yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan uniknya, ia dapat membangun keterampilan kontrol diri secara alami sambil menikmati pengalaman bersama orang tua. Sekali lagi, keberhasilan ini tidak lepas dari parenting harian yang tepat yang diterapkan Bunda dan Ayah. Yuk, cari tahu lebih dalam seberapa efektif gaya asuh yang telah Bunda dan Ayah terapkan dan apa dampak positifnya bagi perkembangan pengendalian diri Si Kecil. Baca selengkapnya di sini ya, Bunda: Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Anak.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Pentingnya Melatih Kontrol Diri pada Anak Sejak Dini
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?