Gizi & Nutrisi Gizi & Nutrisi

Bahaya Kekurangan Yodium bagi Pertumbuhan dan Kecerdasan Anak

Morinaga
Morinaga ♦ 6 Agustus 2026

Ditinjau oleh dr. Reza Fahlevi, Sp.A

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

About the author

dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.

Bahaya Kekurangan Yodium bagi Pertumbuhan dan Kecerdasan Anak

Kekurangan yodium pada anak dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gondok dan hipotiroidisme hingga gangguan tumbuh kembang yang lebih serius. Hal ini terjadi karena yodium dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hormon tiroid, yaitu yang berperan penting dalam mengatur metabolisme, pertumbuhan fisik, dan perkembangan otak Si Kecil. Jika kebutuhan yodium tidak terpenuhi dalam jangka panjang, kemampuan belajar, konsentrasi, dan perkembangan anak dapat ikut terdampak.

Kabar baiknya, kekurangan yodium termasuk kondisi yang dapat dicegah. Meski hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil, mineral ini memiliki peran besar bagi tumbuh kembang anak. Dengan memahami sumber yodium dan cara memenuhi kebutuhannya, Bunda dapat membantu mendukung pertumbuhan serta perkembangan optimal Si Kecil sejak dini.

Penyakit yang Muncul Saat Tubuh Si Kecil Kekurangan Yodium

Akibat kekurangan yodium tidak selalu langsung terlihat. Gejalanya dapat muncul secara bertahap, mulai dari gangguan pertumbuhan fisik hingga hambatan perkembangan yang dapat memengaruhi kemampuan belajar anak. Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini, Bunda dapat lebih waspada dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan dokter anak.

Kretinisme dan Hambatan Tumbuh Kembang

Bentuk paling berat dari kekurangan yodium pada anak adalah kretinisme. Kondisi ini terjadi akibat kekurangan hormon tiroid yang berat sejak awal kehidupan, yaitu saat otak berkembang dengan sangat pesat. Akibatnya, perkembangan kognitif dan pertumbuhan anak dapat terganggu secara signifikan (Zimmermann & Boelaert, 2015).

Kekurangan yodium yang berat tidak hanya berdampak pada kemampuan belajar, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan fisik serta memengaruhi pendengaran dan kemampuan berbicara. Karena sebagian dampaknya pada perkembangan otak bersifat permanen, pemenuhan kebutuhan yodium sejak dini menjadi langkah yang sangat penting. UNICEF juga menyebutkan bahwa setiap tahun jutaan bayi baru lahir berisiko mengalami gangguan perkembangan otak akibat kekurangan yodium, padahal kondisi ini termasuk yang dapat dicegah (UNICEF, 2018).

Penyakit Gondok atau Goiter

Gondok merupakan salah satu tanda yang paling mudah dikenali dari kekurangan yodium. Saat asupan yodium tidak mencukupi, kelenjar tiroid harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan hormon yang dibutuhkan tubuh. Seiring waktu, kondisi ini dapat menyebabkan kelenjar tiroid membesar sehingga muncul benjolan di bagian depan leher yang dikenal sebagai gondok (Zimmermann & Boelaert, 2015).

Jika pembesaran kelenjar semakin besar, kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga dapat menekan saluran di sekitarnya. Akibatnya, Si Kecil mungkin mengalami kesulitan atau rasa tidak nyaman saat menelan maupun bernapas. Bila Bunda menemukan benjolan pada leher anak, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter anak agar penyebabnya dapat dipastikan dan penanganan yang tepat bisa diberikan.

Hipotiroidisme dan Gejalanya

Hipotiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, metabolisme tubuh melambat sehingga berbagai fungsi tubuh ikut terpengaruh. Hormon tiroid berperan penting dalam mengatur cara tubuh mengubah makanan menjadi energi, sehingga kekurangannya dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari anak. Gejala hipotiroidisme sering kali tidak spesifik dan dapat menyerupai kondisi lain. Si Kecil mungkin mengalami beberapa tanda berikut:

  • Lebih mudah lelah atau tampak lesu dari biasanya
  • Berat badan meningkat tanpa penyebab yang jelas
  • Lebih mudah merasa kedinginan
  • Kulit menjadi lebih kering dan rambut lebih mudah rontok

Karena gejala-gejala tersebut juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, diagnosis hipotiroidisme perlu dipastikan melalui pemeriksaan oleh dokter, yang bila diperlukan dapat dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang. Jika Bunda melihat beberapa tanda tersebut pada Si Kecil, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan evaluasi yang tepat.

Berapa Banyak Yodium yang Dibutuhkan Si Kecil?

Meski dibutuhkan dalam jumlah kecil, yodium berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan RI, kebutuhan yodium harian anak adalah:

  • Usia 1–3 tahun: 90 mcg per hari
  • Usia 4–6 tahun: 120 mcg per hari
  • Usia 7–9 tahun: 120 mcg per hari

Memenuhi kebutuhan ini tidak harus dilakukan dari satu jenis makanan saja. Selama Si Kecil mengonsumsi makanan yang bervariasi, termasuk sumber yodium seperti ikan laut, telur, susu, dan garam beryodium, kebutuhan hariannya umumnya dapat terpenuhi. Jika Bunda memiliki kekhawatiran terkait pola makan atau asupan gizi Si Kecil, konsultasikan dengan dokter anak atau ahli gizi untuk mendapatkan saran yang sesuai.

Pilihan Makanan Kaya Yodium untuk Menu Sehari-hari

Memenuhi kebutuhan yodium tidaklah sulit karena sumbernya mudah ditemukan dalam menu sehari-hari. Beberapa makanan yang dapat menjadi sumber yodium antara lain:

  • Garam beryodium – Sumber yodium yang paling umum dan mudah diperoleh. Gunakan secukupnya dan tambahkan setelah masakan matang agar kandungan yodiumnya lebih terjaga.
  • Ikan laut – Tuna, salmon, dan kod merupakan sumber yodium yang baik untuk membantu memenuhi kebutuhan harian Si Kecil.
  • Susu dan produk olahannya – Susu, yogurt, dan keju dapat menjadi sumber yodium tambahan, terutama bagi anak yang kurang menyukai ikan.
  • Rumput laut – Nori, wakame, dan kombu kaya akan yodium, tetapi sebaiknya dikonsumsi secukupnya karena kandungannya cukup tinggi.

Pastikan Si Kecil mendapatkan asupan yodium dari pola makan yang beragam dan seimbang. Dengan begitu, kebutuhan yodium serta nutrisi penting lainnya dapat terpenuhi untuk mendukung tumbuh kembangnya.

Menata Fondasi Nutrisi untuk Potensi Terbaik Si Kecil

Asupan yodium yang cukup berperan penting dalam mendukung perkembangan otak, daya tangkap, dan kemampuan belajar Si Kecil. Hal ini karena yodium dibutuhkan untuk membentuk hormon tiroid yang menunjang berbagai proses penting selama masa tumbuh kembang. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa kekurangan yodium dapat memengaruhi fungsi kognitif, seperti memori, kecepatan berpikir, dan kemampuan belajar anak (Bailote et al., 2022; Bath et al., 2013).

Namun, tumbuh kembang Si Kecil tidak hanya bergantung pada yodium. Berbagai nutrisi penting lainnya juga dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan secara menyeluruh. Bunda dapat mempelajari lebih lanjut mengenai Dukung Tumbuh Kembang Si Kecil 1 Tahun dengan Morinaga Chil Kid Platinum.

Penuhi kebutuhan yodium Si Kecil dengan menyajikan makanan yang beragam, seperti garam beryodium, ikan, susu, dan sumber yodium lainnya sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang. Jika Bunda memiliki kekhawatiran mengenai asupan atau pertumbuhannya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak.

Referensi

  • Bailote, H. B., Linhares, D., Carvalho, C., Prazeres, S., Rodrigues, A. S., & Garcia, P. (2022). Iodine intake and related cognitive function impairments in elementary schoolchildren. Biology11(10), Article 1507. https://doi.org/10.3390/biology11101507 
  • Bath, S. C., Steer, C. D., Golding, J., Emmett, P., & Rayman, M. P. (2013). Effect of inadequate iodine status in UK pregnant women on cognitive outcomes in their children: Results from the Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC). The Lancet382(9889), 331–337. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60436-5 
  • United Nations Children's Fund. (2018). Nearly 19 million newborns at risk of brain damage every year due to iodine deficiency. UNICEF. https://www.unicef.org/press-releases/nearly-19-million-newborns-risk-brain-damage-every-year-due-iodine-deficiency 
  • Zimmermann, M. B., & Boelaert, K. (2015). Iodine deficiency and thyroid disorders. The Lancet Diabetes & Endocrinology3(4), 286–295. https://doi.org/10.1016/S2213-8587(14)70225-6