Artikel Terbaru Artikel Terbaru

Cara Mengatasi Anak Step (Kejang) Secara Tradisional

Morinaga ♦ 5 November 2025
Cara Mengatasi Anak Step (Kejang) Secara Tradisional

Kejang atau “step” pada anak seringkali menjadi momen yang menegangkan bagi orang tua. Melihat Si Kecil tiba-tiba mengalami gejala ini dapat memicu rasa panik dan khawatir, apalagi jika terjadi tanpa tanda-tanda sebelumnya. Untuk itu, penting bagi Bunda untuk memahami penyebab dan cara penanganan yang tepat agar kondisi ini tidak berlanjut semakin parah. 

Bunda, kejang pada Si Kecil disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal di otak yang menyebabkan perubahan sementara pada gerakan, kesadaran, dan perilaku. Biasanya gejala ini terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung beberapa saat. 

Mengapa Anak-Anak Mengalami Kejang?

Kejang pada Si Kecil dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satu penyebab umum adalah demam tinggi, yang dikenal dengan sebutan kejang demam (febrile seizure). Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh Si Kecil melebihi 38°C dan biasanya dialami oleh anak usia 6 bulan hingga 5 tahun.

Namun, tidak semua anak rentan mengalami kejang demam. Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi ini, seperti riwayat keluarga, berat badan rendah saat lahir, kelahiran prematur, dan keterlambatan tumbuh kembang. Gejala kejang demam biasanya ditandai dengan kenaikan suhu tubuh secara drastis, gemetar pada tangan dan kaki, serta berkeringat berlebihan. 

Selain demam, infeksi juga dapat menyebabkan kejang demam. Infeksi ini dapat mengubah aktivitas otak sebagai respons terhadap agen infeksi neurotropik yang menyerang sistem saraf pusat (SSP). Ini mungkin melibatkan respons imun terhadap jaringan otak yang terinfeksi.

Faktor neurologis juga berperan dalam terjadinya kejang. Neuron (sel saraf) berkomunikasi dengan mengirimkan sinyal listrik ke berbagai bagian otak. Ketika kondisi ini terjadi, sel-sel otak yang terdampak mengirimkan sinyal secara tak terkendali ke area otak lainnya, membebani dan menyebabkan gejala kejang.

Faktor genetik dan lingkungan juga memainkan peran penting dalam memicu kejang. Berdasarkan sejumlah penelitian, faktor genetik diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang. Beberapa jenis kejang bahkan memiliki dasar genetik yang kuat, seperti Sindrom Dravet, bentuk epilepsi yang dimulai sejak bayi dan disebabkan oleh mutasi genetik tertentu. Sementara itu, faktor lingkungan juga mempengaruhi gejala kejang, seperti stres, kelelahan, suhu tubuh yang tinggi, dan kurangnya dukungan dari sekitar.

Cara Tradisional untuk Mengatasi Kejang pada Si Kecil

Bunda, berikan ATENSI jika Si Kecil mengalami kejang. Ada beberapa cara tradisional dalam mengatasi kondisi ini yang bisa dilakukan untuk memberikan pertolongan pertama bagi Si Kecil:

Kompres Air Hangat

Kompres air hangat pada dahi, perut, dan punggung Si Kecil untuk membantu menurunkan penyebab kejang demam. Kompres bagian tubuh Si Kecil dengan hati-hati agar tidak melukai kulit dan memberikan kenyamanan. Gunakan air hangat bukan air panas agar tidak membahayakan kulit Si Kecil.

Memberikan Madu

Pada saat Si Kecil mengalami kejang, sebaiknya Bunda tidak memasukkan apapun ke mulutnya karena dapat menyebabkan tersedak. Namun, jika gejala sudah berhenti, Bunda bisa memberikan madu untuk mengurangi gejala.Penelitian dari Penn State University menunjukkan bahwa senyawa dalam madu dapat menghambat kejang epilepsi.Namun, jangan berikan madu untuk Si Kecil di bawah usia 1 tahun karena terdapat risiko botulisme.

Teknik Pernapasan dalam Mengatasi Kejang

Pada saat Si Kecil mengalami kejang, sebaiknya Bunda memastikan jalan napas Si Kecil terbuka. Setelah kejang berhenti, ajak Si Kecil untuk bernapas dalam dan teratur untuk meredakan kecemasan. Bunda bisa membantu Si Kecil melakukan pernapasan secara perlahan untuk menenangkan tubuh setelah kejang. 

Pijat Lembut pada Tangan atau Kaki

Menurut dr. Kurnia Kusumastuti Sp.S, memencet ibu jari dapat mengurangi resiko kekambuhan epilepsi. Penelitiannya menunjukkan bahwa pemencetan ibu jari secara berkala dapat mencegah timbulnya “konsleting” di otak. Pada ibu jari terdapat banyak saraf yang terhubung langsung ke otak, sehingga cara ini dianggap cukup ampuh untuk mengatasi tegangan listrik yang tinggi di otak. Setelah kejang berhenti, Bunda bisa memijat area kaki dan tangan Si Kecil karena dapat meredakan ketegangan tubuh akibat gejala tersebut.

Setelah kita membahas cara tradisional untuk mengatasi kejang, mari kita selami lebih dalam tentang bagaimana Bunda dapat mengambil langkah proaktif untuk mencegah kejang demam pada Si Kecil.

Pencegahan Kejang Demam: Langkah Awal untuk Ketenangan Bunda

Setelah memahami berbagai cara pertolongan pertama saat Si Kecil mengalami kejang, tentu Bunda juga ingin tahu bagaimana cara mencegahnya agar tidak terulang, terutama kejang demam. Pencegahan adalah kunci untuk memberikan ketenangan bagi Bunda dan Si Kecil.

Salah satu langkah paling efektif adalah mengelola demam dengan cepat dan tepat. Segera berikan obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan dokter saat suhu tubuh Si Kecil mulai naik. Pastikan Si Kecil mendapatkan istirahat yang cukup dan asupan cairan yang memadai untuk mencegah dehidrasi, yang dapat memperburuk kondisi demam. Pakaian yang nyaman dan tidak terlalu tebal juga membantu tubuh melepaskan panas.

Selain itu, menjaga daya tahan tubuh Si Kecil agar tetap kuat juga sangat penting. Anak dengan sistem imun yang baik cenderung tidak mudah sakit dan demam tinggi. Pastikan Si Kecil mendapatkan nutrisi seimbang dari makanan sehari-hari, termasuk buah-buahan, sayuran, protein, dan karbohidrat kompleks. Asupan vitamin dan mineral esensial seperti vitamin C, D, dan Zinc juga berperan penting dalam menjaga imunitas. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi mengenai suplementasi jika diperlukan.

Lingkungan yang bersih dan higienis juga berkontribusi pada pencegahan penyakit infeksi yang bisa memicu demam. Ajarkan Si Kecil kebiasaan mencuci tangan secara teratur dan hindari kontak dengan orang yang sedang sakit.

Pentingnya Penanganan yang Tepat

Bunda, itulah beberapa cara tradisional yang bisa dilakukan untuk menyikapi gejala kejang pada anak. Namun, perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara pengobatan medis dan pengobatan tradisional. Pengobatan medis lebih fokus pada diagnosis dan pemberian obat-obatan berstandar, sedangkan pengobatan tradisional belum memiliki bukti ilmiah yang kuat dan bisa berisiko.

Secara medis, pertolongan pertama pada saat kejang cukup dengan tetap tenang, mengamankan lingkungan, menjauhkan benda berbahaya, dan melonggarkan pakaian penderita. Oleh karena itu, pertolongan dengan cara tradisional lebih tepat digunakan ketika gejala sudah berhenti. 

Kejang membutuhkan penanganan medis ketika berlangsung lebih dari 5 menit, disertai dengan kesulitan bernapas, atau terjadi gejala susulan sesaat setelah gejala pertama terjadi. Jika Si Kecil mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya Bunda segera membawanya ke rumah sakit. 

Meskipun kejang bisa dipicu oleh faktor keturunan, Bunda tetap bisa membantu mencegah terulangnya kondisi ini dengan menjaga suhu tubuh Si Kecil agar tetap stabil dan memberikan asupan gizi yang tepat. Pastikan Si Kecil mendapatkan NUTRISI yang cukup untuk mendukung daya tahan tubuhnya. Yuk, Bunda pelajari lebih lanjut tentang cara meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil dengan membaca artikel berikut: Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Si Kecil.

Memahami pentingnya penanganan yang tepat adalah langkah awal, namun Bunda juga harus tahu kapan saatnya untuk tidak menunda mencari bantuan medis profesional.

Kapan Harus Segera Mencari Bantuan Medis?

Meskipun cara tradisional dapat menjadi pertolongan pertama yang menenangkan, Bunda perlu memahami bahwa kejang pada anak, terutama kejang demam, adalah kondisi medis yang memerlukan perhatian serius. Ada beberapa situasi di mana Bunda harus segera mencari bantuan medis atau membawa Si Kecil ke unit gawat darurat (UGD).

Segera hubungi dokter atau bawa Si Kecil ke UGD jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, atau jika Si Kecil mengalami kejang berulang dalam waktu singkat. Tanda-tanda lain yang memerlukan penanganan medis darurat adalah jika Si Kecil tidak sadarkan diri atau sulit dibangunkan setelah kejang, mengalami kesulitan bernapas, kulitnya membiru, atau menunjukkan tanda-tanda cedera akibat kejang. Jika ini adalah kejang pertama yang dialami Si Kecil, atau jika Si Kecil berusia di bawah 6 bulan atau di atas 5 tahun saat mengalami kejang demam, pemeriksaan medis juga sangat dianjurkan.

Penting juga untuk mencari bantuan medis jika Si Kecil menunjukkan gejala seperti leher kaku, muntah proyektil, atau ruam yang tidak hilang saat ditekan, karena ini bisa menjadi tanda infeksi serius seperti meningitis. Ingatlah bahwa penanganan cepat dan tepat oleh profesional medis dapat mencegah komplikasi yang lebih serius dan memastikan kesehatan Si Kecil.

Setelah memahami tindakan medis yang diperlukan, mari kita luruskan beberapa kesalahpahaman umum yang sering beredar di masyarakat mengenai kejang pada anak.

Mitos dan Fakta Seputar Kejang pada Anak

Di tengah kekhawatiran dan kepanikan saat Si Kecil mengalami kejang, seringkali beredar berbagai mitos yang justru dapat menyesatkan atau bahkan membahayakan. Sebagai Orang tua, penting bagi Bunda untuk membedakan antara mitos dan fakta yang sebenarnya.

Mitos yang paling umum adalah bahwa kejang selalu berarti epilepsi. Faktanya, kejang demam adalah kondisi yang berbeda dari epilepsi, meskipun keduanya melibatkan aktivitas listrik otak yang tidak normal. Kejang demam sebagian besar adalah kondisi jinak yang terjadi akibat demam tinggi, dan mayoritas anak yang mengalaminya tidak akan berkembang menjadi epilepsi.

Mitos lain adalah bahwa kita harus menahan tubuh anak saat kejang atau memasukkan sendok/benda keras ke dalam mulutnya. Ini adalah tindakan yang sangat berbahaya! Menahan tubuh anak dapat menyebabkan cedera, dan memasukkan benda ke mulut dapat menyebabkan gigi patah, luka pada gusi, atau bahkan menghalangi jalan napas. Fakta yang benar adalah biarkan anak kejang di tempat yang aman, miringkan tubuhnya agar tidak tersedak, dan longgarkan pakaian di sekitar leher.

Ada juga mitos bahwa kejang demam dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Untuk sebagian besar kasus kejang demam sederhana, tidak ada bukti yang menunjukkan terjadinya kerusakan otak permanen. Namun, kejang yang berkepanjangan atau berulang memang memerlukan evaluasi medis. Memahami fakta-fakta ini akan membantu Bunda bertindak lebih tenang dan tepat saat menghadapi situasi kejang pada Si Kecil.

Referensi

  • Cincinnati Children;s. What are Seizures in Children? Diakses pada 25 Oktober 2025. https://www.cincinnatichildrens.org/health/s/seizures
  • Kemenkes. Kejang Demam pada Anak: Gejala, Tipe, dan Cara Tepat Mengatasinya. Diakses pada 25 Oktober 2025. http://bit.ly/47FKnqq
  • Mayo Clinic. Febrile Seizure. Diakses pada 25 Oktober 205. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522
  • NIH National Library of Medicine. Infections, Inflammation, and Epilepsy. Diakses pada 25 Oktober 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4867498/#:~:text=Seizures%20may%20be%20induced%20by,2)%20%5B83%5D
  • Cleveland Clinic. Seizure. Diakses pada 25 Oktober 2025. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22789-seizure
  • Epilepsy Foundation. Genetic Causes of Epilepsy. Diakses pada 25 Oktober 2025. https://www.epilepsy.com/causes/genetic
  • Pathlab. Peran Genetika dalam Kejang dan Gangguan Neurologis. Diakses pada 25 Oktober 2025. http://bit.ly/4o7pWIL
  • Eka Hospital. Cara Mengatasi Kejang Demam pada Anak. Diakses pada 25 Oktober 2025. https://www.ekahospital.com/better-healths/cara-mengatasi-kejang-demam-pada-anak
  • NIH National Library of Medicine. Potential Therapeutic Benefits of Honey in Neurological Disorders: The Role of Polyphenols. Diakses pada 26 Oktober 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9143627/
  • CDC. First Aid for Seizure. Diakses pada 26 Oktober 2025. https://www.cdc.gov/epilepsy/first-aid-for-seizures/index.html
  • Latin Honey Shop. How Raw Organic Honey Can Help Epilepsy. Diakses pada 26 Oktober 2025. https://latinhoneyshop.com/blogs/news/how-raw-organic-honey-can-help-with-epilepsy
  • Kompas. Pencet Ibu Jari Atasi Kejang Epilepsi. Diakses pada 26 Oktober 2025. https://health.kompas.com/read/2012/06/15/07483391/pencet-ibu-jari-atasi-kejang-epilepsi