Bunda, saat Si Kecil menangis kencang lalu tiba-tiba wajah dan bibirnya tampak membiru, situasinya memang bisa sangat membuat panik. Banyak orang tua khawatir ada sesuatu yang berbahaya terjadi. Namun, kondisi ini cukup umum dan biasanya terkait dengan breath-holding spells, yaitu respons refleks ketika emosi Si Kecil memuncak, seperti saat marah, frustrasi, atau merasa kaget.
Memahami penyebabnya akan membantu Bunda lebih tenang menangani situasi ini dan mendampingi emosi Si Kecil dengan lebih bijak.
Bibir Si Kecil dapat tampak biru ketika menangis kencang karena tubuhnya memasuki fase breath-holding spells (BHS). Saat tangisannya memuncak, sebagian anak secara refleks menahan napas saat mengeluarkan napas, sehingga aliran oksigen berkurang sesaat. Penurunan oksigen inilah yang membuat area sekitar bibir tampak kebiruan. Kondisi ini biasanya berlangsung sangat singkat, beberapa detik hingga kurang dari satu menit, dan warna bibir akan kembali normal begitu napas anak teratur kembali. Reaksi ini bukan bentuk “sesak” atau gangguan organ, melainkan respons refleks yang cukup umum terjadi pada anak kecil.
Breath-holding spells adalah episode singkat ketika anak berhenti bernapas tanpa disadari, biasanya dipicu emosi yang kuat seperti marah, frustrasi, kaget, atau kesakitan. Episode ini berlangsung sangat cepat, umumnya kurang dari satu menit, dan tidak menyebabkan kerusakan organ atau gangguan pernapasan jangka panjang. BHS paling sering terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 6 tahun karena pada rentang usia ini mereka sedang belajar mengelola emosinya, sementara koordinasi napas dan respons tubuhnya belum sepenuhnya matang. Seiring bertambahnya usia, kemampuan mereka mengatur emosi juga meningkat, dan frekuensi BHS biasanya akan berkurang dengan sendirinya.
Breath-holding spells terbagi menjadi dua tipe utama berdasarkan respons tubuh dan pemicunya. Tipe sianotik adalah yang paling umum dan biasanya terjadi ketika emosi Si Kecil memuncak, seperti saat marah atau frustrasi. Setelah menangis sangat keras, ia dapat menahan napas tanpa sadar, sehingga aliran oksigen menurun sesaat dan bibir tampak kebiruan. Perubahan warna ini biasanya berlangsung singkat dan akan hilang begitu napasnya kembali normal.
Sementara itu, tipe pallid terjadi karena respons tubuh terhadap rasa sakit atau kejutan yang datang tiba-tiba, misalnya ketika Si Kecil terjatuh atau terbentur. Pada tipe ini, anak mungkin tidak menangis keras, justru tubuhnya bereaksi dengan napasnya terhenti sesaat dan wajah tampak memutih atau pucat. Meskipun terlihat mengkhawatirkan, kedua tipe ini merupakan respons refleks yang umumnya tidak berbahaya dan akan membaik seiring kemampuan Si Kecil mengatur emosinya.
Ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan saat Si Kecil mengalami gejala Breath-Holding Spells (BHS), pastikan Bunda untuk tetap tenang, karena kondisi ini umumnya akan berlalu dengan sendirinya dalam waktu kurang dari satu menit. Segera baringkan Si Kecil dalam posisi miring dan tetaplah berada di sisinya selama momen tersebut berlangsung. Pastikan lingkungan sekitarnya aman dengan menjauhkan benda-benda keras untuk mencegah cedera, serta jaga agar kepala, lengan, atau kakinya tidak terbentur apa pun jika ia pingsan. Setelah episode BHS mereda, cobalah untuk kembali bersikap normal, tenangkan Si Kecil dengan lembut, dan biarkan ia beristirahat hingga pulih sepenuhnya.
Di sisi lain, ada beberapa tindakan yang harus dihindari demi keselamatan Si Kecil. Jangan pernah mengguncang tubuhnya atau memercikkan air ke wajahnya dengan tujuan menyadarkannya. Hindari juga memasukkan benda apa pun ke dalam mulutnya, termasuk jari Bunda, serta jangan memberikan napas buatan atau CPR. Selain itu, usahakan untuk tidak memarahi Si Kecil saat BHS sedang berlangsung agar tidak memperburuk situasi emosionalnya ya, Bunda.
Bunda, meski terlihat dramatis, BHS umumnya tidak berbahaya. Kondisi ini tidak menyebabkan kerusakan otak, epilepsi, atau gangguan kognitif. BHS bukan masalah pernapasan, melainkan reaksi emosional yang kuat yang belum dapat dikendalikan oleh anak. Karena itu, fokus utama yang perlu Bunda perhatikan adalah akar emosinya. Anak sedang belajar mengelola frustrasi dan rasa kecewa, dan ini bagian dari tumbuh kembang.
Salah satu pemicu BHS adalah inti dari tantrum pada Si Kecil. Untuk mengurangi terjadinya kondisi ini, Bunda bisa belajar menghadapi fase tantrum Si Kecil dengan tepat. Dapatkan informasi mengenai panduan lengkap menghadapi tantrum Si Kecil dengan membaca artikel berikut: Solusi Mudah untuk Mengelola Tantrum pada Anak di Rumah.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Bibir Anak Biru Saat Menangis? Ini Penyebab dan Cara Menangani
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?