Tumbuh Kembang

Bayi Belum Bisa Merangkak? Pahami Cara Bayi Belajar Merangkak & Stimulasinya

Morinaga Platinum - 14 September 2016

Bayi Belum Bisa Merangkak? Pahami Cara Bayi Belajar Merangkak & Stimulasinya

Melihat bayi merangkak ke sana kemari mengeksplorasi rumah pasti menjadi momen yang sangat dinantikan Ayah dan Bunda. Namun, bagaimana jika Si Kecil sudah memasuki usia 7 atau 8 bulan tetapi belum menunjukkan tanda-tanda akan merangkak?

Bagi orang tua baru, kondisi ini sering kali memicu rasa cemas. Apalagi di masyarakat beredar mitos yang menyebutkan bahwa fase merangkak berkaitan langsung dengan kecerdasan anak kelak, sehingga bayi yang melewatkan fase merangkak dianggap kurang optimal tumbuh kembangnya. Apakah anggapan tersebut benar secara medis? Mari kita bedah bersama fakta ilmiah di balik fase merangkak serta cara tepat menstimulasinya.

Benarkah Merangkak Memengaruhi Kecerdasan?

Secara garis besar, anggapan bahwa merangkak penting bagi perkembangan anak adalah fakta. Namun, mengaitkannya langsung dengan tingkat IQ atau kecerdasan akademis anak adalah mitos.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa beberapa bayi yang sehat secara klinis memang ada yang melewatkan fase merangkak tradisional dan langsung bertransisi ke fase berdiri lalu berjalan.

Meski begitu, fase merangkak tetap menjadi milestone yang sangat direkomendasikan untuk dilalui karena memberikan manfaat luar biasa bagi tubuh Si Kecil, antara lain:

  • Koordinasi Bilateral Otak: Gerakan silang (tangan kanan maju bersama kaki kiri) menstimulasi hubungan antara otak belahan kanan dan kiri agar bekerja secara sinkron.
  • Penguatan Otot Core & Anggota Tubuh: Merangkak melatih kekuatan otot leher, bahu, lengan, dan pinggul yang nantinya dibutuhkan untuk menyokong postur tubuh saat berjalan dan duduk tegak di sekolah.
  • Kepekaan Spasial (Visual-Spatial): Saat merangkak, anak belajar memahami jarak antara dirinya dengan objek di sekitarnya (misal: seberapa jauh ia harus merangkak untuk meraih mainan).

Mengapa Si Kecil Belum Bisa Merangkak?

Berdasarkan tabel tumbuh kembang, bayi umumnya mulai belajar merangkak pada usia 7 sampai 9 bulan. Jika Si Kecil belum menunjukkan tanda-tanda merangkak di rentang usia ini, beberapa faktor pemicunya bisa berupa:

  1. Kurangnya Stimulasi: Anak terlalu sering digendong, ditaruh di bouncer, atau menggunakan baby walker, sehingga otot-ototnya kurang terlatih.
  2. Karakter Bayi: Beberapa bayi memiliki kepribadian yang lebih tenang dan merasa sudah "cukup puas" mengeksplorasi dunia hanya dengan posisi duduk atau berguling.
  3. Pakaian atau Alas yang Licin: Terkadang baju yang terlalu tebal atau lantai yang terlalu licin membuat bayi kesulitan mendapatkan traksi (cengkeraman) yang pas untuk mendorong tubuhnya maju.

Cara Efektif Menstimulasi Bayi Agar Mau Merangkak

Kabar baiknya, kemampuan motorik kasar anak sangat bisa dilatih. Ayah dan Bunda bisa mempraktikkan beberapa langkah stimulasi seru dan aman berikut ini di rumah:

Optimalkan Waktu Tummy Time (Tengkurap)

Sebelum bisa merangkak, bayi harus memiliki fondasi otot leher dan punggung yang kuat. Bunda bisa melatihnya secara berkala dengan memosisikan bayi tengkurap saat ia sedang segar dan kenyang. Untuk memahami durasi aman dan manfaat lengkapnya, Bunda bisa membaca panduan lengkapnya di sini: Manfaat Bayi Tidur Tengkurap.

Siapkan Ruang Eksplorasi yang Aman

Pindahkan barang-barang berbahaya dan sediakan area bermain yang luas, landai, serta tidak terlalu empuk (misalnya menggunakan playmat khusus bayi). Karpet yang terlalu empuk atau kasur justru membuat bayi kesulitan bertumpu.

Gunakan Umpan Mainan Kesukaan

Letakkan mainan yang berwarna cerah atau bersuara sedikit di luar jangkauan Si Kecil. Hal ini akan memicu rasa penasaran dan memotivasi dirinya untuk mencoba menggeser tubuh atau merangkak demi meraih mainan tersebut.

Jadilah Role Model (Berikan Contoh)

Anak adalah peniru yang andal. Turunlah ke lantai bersama Si Kecil, posisikan tubuh Ayah atau Bunda ikut merangkak di sampingnya. Melihat orang tuanya merangkak akan membuat Si Kecil menganggap aktivitas ini sebagai permainan yang menyenangkan.

Kapan Orang Tua Harus Waspada?

Sebagai orang tua baru yang cermat, Bunda tetap perlu memantau apakah ada tanda-tanda keterlambatan motorik yang memerlukan intervensi medis. Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak jika menemui kondisi berikut:

Usia Anak Tanda Waspada
9 Bulan Belum bisa duduk sendiri tanpa bantuan atau belum bisa menyokong berat badannya sendiri saat diberdirikan.
12 Bulan Tidak menunjukkan minat untuk bergerak maju (baik merangkak, merayap, atau menggeser pantat), atau gerakan merangkaknya terlihat asimetris (hanya menyeret satu sisi tubuh saja).
Kapan Saja Tubuh bayi terasa sangat kaku (hypertonia) atau justru terlalu lemas seperti boneka kain (hypotonia).

Jika kondisi di atas terjadi, dokter biasanya akan merekomendasikan terapi tumbuh kembang khusus untuk membantu merangsang daya gerak tubuh Si Kecil secara optimal.

Setiap Anak Memiliki Timeline yang Unik

Merangkak memang fase yang ideal, namun fokus utama Ayah dan Bunda sebenarnya adalah melihat progres pergerakan Si Kecil. Selama koordinasi tubuhnya berkembang dengan baik dan ia aktif bergerak mencari cara untuk berpindah tempat, Bunda tidak perlu terlalu cemas. Pastikan juga asupan nutrisi harian Si Kecil terpenuhi dengan baik untuk mendukung perkembangan otak dan kekuatan ototnya selama masa keemasan ini.

Yuk, pantau terus apakah tahapan tumbuh kembang Si Kecil sudah sesuai dengan usianya melalui tabel milestone interaktif di artikel: Tahap Perkembangan Bayi 0-12 Bulan, Bisa Apa Saja?.

Referensi:

  • Centers for Disease Control and Prevention. (2025). CDC’s developmental milestones. U.S. Department of Health and Human Services. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/milestones/index.html
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2020). Memantau perkembangan motorik kasar bayi. Portal Resmi IDAI. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memantau-perkembangan-motorik-kasar-bayi
  • Shumway-Cook, A., & Woollacott, M. H. (2023). Motor control: Translating research into clinical practice (6th ed.). Wolters Kluwer.

Lihat Artikel Lainnya