Meninggalkan Si Kecil yang sedang menangis saat Bunda harus bekerja tentu menjadi momen yang sulit. Namun, kecemasan saat berpisah (separation anxiety) sebenarnya merupakan fase normal dalam tumbuh kembang balita. Menurut Stanford Medicine Children's Health, hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor lingkungan maupun temperamen Si Kecil yang memang merasa paling aman saat berada di dekat sosok lekatnya, seperti Bunda.
Namun, perlu diperhatikan jika kecemasan ini muncul sangat intens dan berlebihan. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Separation Anxiety Disorder (SAD) yang gejalanya lebih berat dibandingkan dengan rewel biasa.
Separation anxiety disorder (SAD) adalah kondisi ketika Si Kecil mengalami kecemasan ekstrem yang tidak sesuai dengan tahap usianya saat harus berpisah dari rumah atau orang tuanya. Rasa takutnya begitu hebat, bahkan sekadar membayangkan akan berpisah saja sudah bisa membuatnya gelisah luar biasa. Ia terus-menerus khawatir hal buruk akan terjadi jika tidak bersama Bunda atau Ayah.
Sebenarnya, rasa cemas saat berpisah itu wajar dialami anak usia 18 bulan hingga 3 tahun. Namun, pada fase normal, kecemasan ini hanya bersifat sementara dan masih dalam batas wajar. Berbeda halnya dengan SAD, ketakutan Si Kecil sangat intens, serius, dan berkepanjangan, hingga mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Saat mengalami gangguan ini, setiap anak memiliki gejala fisik dan emosional yang berbeda. Namun, tanda-tanda yang paling umum antara lain sering mengeluh sakit perut atau pusing tepat sebelum Bunda berangkat kerja, mimpi buruk tentang perpisahan, hingga penolakan keras untuk ditinggal walau sebentar. Si Kecil juga mungkin menjadi sangat manja, mudah tantrum, atau menolak tidur sendiri.
Gejala SAD terkadang mirip dengan masalah kesehatan lainnya, sehingga diagnosisnya baru bisa dipastikan jika tanda-tanda tersebut sudah berlangsung setidaknya selama empat minggu. Selain itu, intensitas kecemasannya pun jauh melebihi rasa cemas anak pada umumnya. Jika Bunda melihat ciri-ciri ini, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter atau psikolog anak agar Si Kecil mendapatkan penanganan yang tepat.
Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah memegang peran kunci dalam membentuk karakter Si Kecil agar tidak takut ditinggal. Salah satu cara efektif yang bisa dicoba adalah latihan perpisahan secara bertahap. Cobalah tinggalkan Si Kecil di ruangan yang aman dalam waktu singkat. Jangan lupa, beri tahu apa yang akan terjadi agar Si Kecil bisa bersiap, misalnya katakan, “Bunda ke dapur sebentar, ya.” Kemudian secara bertahap, tingkatkan durasinya agar ia mulai terbiasa.
Selain itu, jika Si Kecil punya benda kesayangan, Bunda bisa memanfaatkannya sebagai comfort object. Mainan khusus seperti boneka atau selimut favoritnya dapat membantu menenangkannya saat merasa sedih. Secara tidak langsung, benda-benda tersebut menjadi transitional object yang mewakili rasa aman saat Bunda tidak ada.
Namun perlu diingat, cara ini butuh proses dan tidak bisa instan. Selain latihan perpisahan, terapkan juga rutinitas harian yang teratur untuk jadwal makan dan tidur. Rutinitas yang konsisten membuat dunia Si Kecil terasa lebih "pasti", sehingga rasa cemas akan hal-hal yang tidak terduga pun bisa berkurang.
Ketika akan berangkat kerja di pagi hari, ada baiknya memberi tahu Si Kecil sebelum berpisah. Tekankan bahwa Bunda memahami dan menghargai perasaannya. Cobalah sebisa mungkin untuk tetap tenang dan positif saat mengucapkan selamat tinggal. Pastikan untuk tidak gelisah, karena anak bisa merasakan kecemasan ibunya dan berakhir sulit untuk ditinggalkan.
Tersenyumlah dan beri tahu Si Kecil bahwa Bunda akan bertemu dengannya lagi. Gunakan teknik “pamitan singkat” berupa pelukan hangat atau tos. Saat membicarakan kapan pulang, berikan detail spesifik yang mudah dipahami. Tentukan waktu yang tidak asing baginya. Misalnya, "Bunda akan pulang setelah adik bangun tidur siang, ya". Lalu, segeralah pergi tanpa menengok berulang kali.
Jika harus pergi dalam waktu lama, seperti urusan bisnis luar kota atau hal yang mengharuskan Bunda meninggalkan Si Kecil berhari-hari, bicarakan kepulangan dalam istilah yang ia kenal seperti "tidur". Alih-alih mengatakan, "Bunda akan pulang dalam 3 hari," akan lebih baik untuk katakan, "Bunda akan pulang setelah adik 3 kali tidur." Dengan cara ini, ia bisa lebih mudah mengerti kapan akan berjumpa kembali.
Jangan lupa, tepati janji agar kepercayaannya terbangun. Hal ini juga membantu si Kecil beraktivitas lebih mandiri dan tidak dibayang-bayangi rasa khawatir. Mempertahankan rutinitas ini dapat membantunya terbiasa dengan perpisahan dan ia akan meyakini bahwa orang yang disayanginya akan selalu kembali.
Satu hal lain yang perlu diperhatikan, sebisa mungkin jangan menyelinap pergi diam-diam. Ini adalah kesalahan fatal yang justru memperburuk kepercayaan dan kecemasan Si Kecil. Perasaan takut ketika ditinggal akan muncul karena ia khawatir tidak dapat bertemu lagi. Hal ini bisa terjadi jika ia menyadari Bunda tidak ada di sekitarnya tanpa mengetahui apa-apa.
Untuk mengurangi kecemasan saat berpisah, berikanlah perhatian, kehangatan, dan waktu berkualitas saat sedang bersamanya di rumah. Berikan ATENSI penuh, tunjukkan kasih sayang, dan pastikan Si Kecil merasakan kehadiran Bunda. Meskipun ada kalanya harus berpisah, kebersamaan yang dibangun membuat ia merasa Bunda akan tetap di sisinya.
Salah satu cara terbaik membangun koneksi ini adalah dengan bergerak aktif bersama. Saat berolahraga, hormon stres (kortisol) dalam tubuh Si Kecil akan menurun, tergantikan oleh hormon kebahagiaan (endorfin). Mengutip Children’s Hospital Colorado, aktivitas fisik rutin memiliki efek menenangkan yang mirip dengan antidepresan alami, sehingga efektif untuk mengatasi rasa cemas dan pikiran negatif.
Jadi, olahraga bukan hanya soal kesehatan fisik, Bun. Ini adalah momen bonding berharga untuk meyakinkan Si Kecil bahwa Bunda selalu ada untuk bersenang-senang bersamanya. Baik itu bermain di dalam rumah maupun eksplorasi di alam terbuka, aktivitas ini akan memupuk rasa bahagia, percaya diri, dan rasa aman dalam dirinya.
Yuk, rencanakan kegiatan fisik seru di akhir pekan atau setelah pulang kerja untuk mempererat ikatan dengan Si Kecil. Pilih permainan yang sesuai dengan usianya agar ia tetap menikmati waktu bermain tanpa merasa bosan atau kewalahan. Temukan ide olahraga seru yang bisa dilakukan bersama Si Kecil di sini: Olahraga Seru Bareng Si Kecil.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Separation Anxiety Disorder pada Si Kecil dan Tips Bonding
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?