Aktivitas & Stimulasi Aktivitas & Stimulasi

Manfaat Permainan Congklak untuk Kecerdasan Si Kecil

Morinaga ♦ 6 Agustus 2026
Manfaat Permainan Congklak untuk Kecerdasan Si Kecil

Manfaat permainan congklak untuk anak mencakup empat hal sekaligus, yaitu melatih berhitung dasar melalui penambahan dan pengurangan biji, mengasah strategi dan logika, menghaluskan koordinasi mata dan tangan, serta melatih interaksi sosial dengan lawan main. Sambil memindahkan biji dari satu lubang ke lubang lain, Si Kecil sebenarnya sedang belajar memecahkan masalah dengan cara yang menyenangkan.

Bunda mungkin ingat papan kayu panjang dengan deretan lubang kecil dan segenggam biji sawo atau kerang dari masa kecil sendiri. Congklak adalah salah satu warisan permainan tradisional Indonesia yang masih relevan sampai sekarang. Di balik bentuknya yang sederhana, ada banyak stimulasi yang bekerja diam-diam setiap kali anak menjalankan bijinya satu per satu.

Papan Kayu Sederhana yang Jadi Ruang Belajar

Congklak dimainkan oleh dua orang menggunakan papan berlubang dan biji yang dibagikan merata. Pemain mengambil semua biji dari satu lubang, lalu menjatuhkannya satu per satu ke lubang berikutnya hingga habis, sementara lubang besar di ujung papan menjadi tempat mengumpulkan biji.

Gerakan sederhana ini membantu melatih motorik halus, koordinasi mata dan tangan, serta ketelitian anak. Penelitian dalam Journal of Maternal and Child Health juga menunjukkan bahwa bermain congklak berkaitan dengan perkembangan kognitif dan motorik halus yang lebih baik pada anak (Rukmini, 2022). Selain itu, congklak memberi kesempatan bagi Si Kecil untuk beristirahat sejenak dari layar sambil belajar fokus, sabar menunggu giliran, dan berinteraksi dengan teman bermain.

Apa Saja yang Diasah Saat Si Kecil Bermain

Setiap putaran congklak menstimulasi sisi yang berbeda dari kecerdasan anak. Ada yang berhubungan dengan angka, ada yang dengan cara berpikir, ada pula yang dengan cara ia memperlakukan lawan mainnya.

Berhitung dan Logika tanpa Terasa seperti Belajar

Congklak membantu anak belajar berhitung secara alami. Saat membagikan biji, Si Kecil berlatih menghitung, memperkirakan langkah, serta memahami penjumlahan dan pengurangan tanpa terasa seperti belajar. Penelitian juga menunjukkan bahwa permainan ini dapat meningkatkan kemampuan berhitung, ketelitian, dan konsentrasi anak (Hariyadi et al., 2024). Semua proses tersebut berlangsung sambil bermain, sehingga kemampuan logika dan matematika anak berkembang dengan cara yang menyenangkan.

Menyusun Strategi dan Membaca Langkah Lawan

Congklak mengajarkan Si Kecil untuk berpikir beberapa langkah ke depan. Anak belajar menyusun strategi, memperkirakan gerakan lawan, dan mempertimbangkan setiap keputusan sebelum bermain. Penelitian juga menunjukkan bahwa congklak berkaitan dengan perkembangan kemampuan logika dan penalaran anak usia dini (Budianti et al., 2021). Saat berhasil menjalankan strategi dengan baik, Si Kecil pun akan merasa lebih percaya diri dengan kemampuannya.

Belajar Jujur, Sabar, dan Menghargai Lawan

Congklak dimainkan secara bergantian, sehingga Si Kecil belajar menunggu giliran, menghargai lawan, dan berkomunikasi dengan baik. Aturannya yang sederhana juga melatih kejujuran dan sportivitas, karena setiap biji harus dijatuhkan satu per satu tanpa curang. Menurut American Academy of Pediatrics, bermain bersama teman dapat mendukung perkembangan sosial-emosional dan kemampuan mengendalikan diri anak (Yogman et al., 2018).

Banyak Jenis Kecerdasan dalam Satu Permainan

Satu permainan congklak melatih banyak kemampuan sekaligus, mulai dari berhitung, menyusun strategi, motorik halus, hingga keterampilan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan anak tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuannya berpikir, memecahkan masalah, dan berinteraksi dengan orang lain.

Gambaran ini sejalan dengan teori Kecerdasan Majemuk dari Howard Gardner, yang menyebut anak memiliki beragam jenis kecerdasan, mulai dari logika-matematika, interpersonal, hingga kinestetik atau gerak tubuh (Gardner, 1983). Tiap anak memiliki porsi yang berbeda-beda, dan congklak kebetulan menstimulasi beberapa di antaranya dalam satu waktu. Memahami profil kecerdasan unik Si Kecil membantu Bunda memberi dukungan yang tepat untuk mengembangkan POTENSI-nya secara utuh.

Mengenali Bakat Si Kecil Melalui Permainan Sehari-hari

Mengamati cara Si Kecil bermain bisa menjadi langkah awal untuk mengenali bakatnya. Saat bermain congklak, misalnya, perhatikan apakah ia cepat berhitung, senang menyusun strategi, atau justru paling menikmati interaksi dengan lawan main. Petunjuk-petunjuk kecil seperti ini sering kali muncul dari aktivitas sehari-hari, bahkan sebelum anak mengenal rapor.

Sebaiknya Bunda tidak terpaku pada satu jenis kecerdasan saja. Anak yang belum menonjol dalam berhitung bisa jadi memiliki kemampuan sosial atau motorik yang sangat baik. Setiap potensi sama berharganya dan layak dikembangkan agar Si Kecil tumbuh percaya diri dengan kelebihannya sendiri.

Untuk membantu memetakan kecerdasan ini, Bunda bisa mencoba mengenali 8+1 Kecerdasan Majemuk Si Kecil melalui MIPP Morinaga dan mendapatkan rencana bermain yang disesuaikan dengan potensinya, sebagai pendamping pengamatan sehari-hari di rumah.

Referensi

  • Budianti, Y., Pulungan, E. N., & Nuraini, I. (2021). Pengaruh permainan congklak dan gatheng terhadap kecerdasan logika matematika anak usia dini. Jurnal Raudhah9(1). 
  • Gardner, H. (1983). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. Basic Books.
  • Hariyadi, A., et al. (2024). Enhancing numeracy skills in elementary students through the traditional congklak game: A study in Kudus. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan16(2).
  • Rukmini. (2022). The effect of traditional games (congklak) on cognitive and fine motor development in children under five. Journal of Maternal and Child Health7(1), 44–51. https://doi.org/10.26911/thejmch.2022.07.01.05
  • Yogman, M., Garner, A., Hutchinson, J., Hirsh-Pasek, K., & Golinkoff, R. M. (2018). The power of play: A pediatric role in enhancing development in young children. Pediatrics142(3), Article e20182058. https://doi.org/10.1542/peds.2018-2058