Gizi & Nutrisi Gizi & Nutrisi

Peran Penting Bifidobacterium untuk Daya Tahan Tubuh Si Kecil

Morinaga
Morinaga ♦ 6 Agustus 2026

Ditinjau oleh dr. Reza Fahlevi, Sp.A

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

About the author

dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.

Peran Penting Bifidobacterium untuk Daya Tahan Tubuh Si Kecil

Bifidobacterium adalah salah satu kelompok bakteri baik yang secara alami menghuni usus Si Kecil dan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota di sana. Keseimbangan inilah yang mendukung kerja sistem pertahanan tubuh, karena sebagian besar sel imun anak justru berada di saluran cerna. Pada bayi yang menyusu, ASI sendiri yang membantu menumbuhkan bakteri ini.

Bunda mungkin sering mendengar istilah "probiotik" dan "bakteri baik", tapi jarang tahu nama spesifiknya. Bifidobacterium adalah salah satu genus bakteri baik yang paling banyak ditemukan di usus anak kecil. Beberapa jenisnya, seperti Bifidobacterium longum dan Bifidobacterium breve, sudah dipelajari cukup mendalam dalam ilmu gizi anak. Memahami apa yang mereka kerjakan di dalam perut Si Kecil membantu Bunda melihat mengapa kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh itu satu paket.

Apa yang Dikerjakan Bifidobacterium di Usus Anak

Bifidobacterium berperan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus agar bakteri baik tetap mendominasi. Ketika keseimbangan ini terjaga, bakteri yang kurang menguntungkan akan lebih sulit berkembang karena ruang hidup dan sumber makanannya menjadi terbatas. Peran Bifidobacterium juga berkaitan erat dengan proses pencernaan. Bakteri baik ini membantu mengolah serat dan komponen makanan tertentu yang tidak dapat dicerna tubuh anak secara langsung. Dari proses tersebut, dihasilkan asam lemak rantai pendek, salah satunya asetat, yang menjadi sumber energi bagi sel-sel dinding usus sekaligus membantu menjaga kesehatan lingkungan usus (Chichlowski et al., 2020).

Kesehatan usus sendiri memiliki hubungan yang erat dengan sistem imun. Hal ini karena sebagian besar jaringan imun tubuh berada di saluran cerna, tepatnya dalam jaringan limfoid usus yang dikenal sebagai gut-associated lymphoid tissue (GALT) (Mörbe et al., 2021). Oleh karena itu, kondisi usus yang sehat dapat membantu tubuh Si Kecil lebih siap mengenali dan menghadapi berbagai virus maupun bakteri yang ditemui sehari-hari.

Sebelum membahas lebih lanjut, penting bagi Bunda untuk memahami perbedaan antara probiotik dan prebiotik. Meski sering disebut bersamaan, keduanya memiliki peran yang berbeda:

Istilah Pengertian Contoh
Probiotik Bakteri baik yang hidup di dalam usus dan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota B. longum, B. breve
Prebiotik Nutrisi atau sumber makanan bagi bakteri baik agar dapat tumbuh dan berkembang Serat dari sayur, buah, oligosakarida dalam ASI

Probiotik dan prebiotik bekerja secara saling melengkapi untuk mendukung kesehatan saluran cerna. Hubungan keduanya akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.

ASI, Sumber Pertama Bakteri Baik Si Kecil

Sebelum membahas susu pertumbuhan atau suplemen, penting diingat bahwa sumber paling alami untuk menumbuhkan Bifidobacterium pada bayi adalah ASI. Air susu ibu mengandung komponen bernama oligosakarida (human milk oligosaccharides) yang menjadi makanan khusus bagi bakteri baik di usus bayi. Bayi yang menyusu cenderung memiliki usus yang didominasi Bifidobacterium, dan ini bukan kebetulan. Genus ini sudah beradaptasi untuk mencerna oligosakarida dalam ASI, sesuatu yang tidak bisa dilakukan kebanyakan bakteri lain (Chichlowski et al., 2020). ASI dan bakteri baik ini bekerja berpasangan sejak hari-hari pertama kehidupan.

Sebuah penelitian yang terbit di jurnal Cell menunjukkan bahwa kehadiran Bifidobacterium yang mampu mengolah oligosakarida ASI berkaitan dengan respons imun yang lebih seimbang dan tingkat peradangan yang lebih rendah pada bayi yang menyusu (Henrick et al., 2021). Inilah salah satu alasan ASI eksklusif dianjurkan untuk enam bulan pertama, lalu dilanjutkan bersama MPASI hingga dua tahun atau lebih. Untuk segala hal terkait menyusui, bidan atau dokter anak adalah teman diskusi terbaik Bunda.

Bifidobacterium longum dan B. breve, Dua Peran yang Saling Melengkapi

Meski sama-sama termasuk kelompok Bifidobacterium, setiap spesies memiliki karakteristik dan peran yang sedikit berbeda. Dua yang paling banyak diteliti adalah Bifidobacterium longum dan Bifidobacterium breve, mereka bekerja saling melengkapi dalam mendukung kesehatan saluran cerna dan daya tahan tubuh anak.

Bagaimana Bifidobacterium longum Membantu Pertahanan Tubuh

Bifidobacterium longum termasuk jenis yang adaptif dan dapat bertahan di lingkungan usus dalam jangka panjang. Spesies ini banyak dipelajari kaitannya dengan keseimbangan respons imun, termasuk kecenderungannya menekan reaksi peradangan yang berlebihan (Chichlowski et al., 2020).

Pengaruhnya tidak berhenti di perut. Dari usus, sinyal yang dipengaruhi bakteri baik dapat ikut menyentuh respons imun di bagian tubuh lain, termasuk saluran napas. Sebuah uji klinis pada anak menunjukkan bahwa kombinasi tiga galur Bifidobacterium membantu memperbaiki gejala alergi pernapasan musiman (Miraglia Del Giudice et al., 2017). Meski begitu, hasil seperti ini bergantung pada jenis bakteri dan kondisi anak, sehingga tidak bisa dijadikan jaminan untuk semua kasus.

Peran Bifidobacterium breve untuk Kenyamanan Pencernaan

Bifidobacterium breve lebih sering dikaitkan dengan kenyamanan saluran cerna sehari-hari. Bakteri ini termasuk yang banyak ditemukan pada usus bayi dan ikut menjaga keseimbangan mikrobiota yang stabil.

Saat lingkungan usus seimbang, proses pencernaan cenderung berjalan lebih nyaman dan penyerapan nutrisi pun dapat lebih optimal. Tubuh anak baru bisa memanfaatkan vitamin dan mineral dari makanan apabila zat-zat tersebut benar-benar terserap, dan pintu utama penyerapan ada di usus. Apabila Si Kecil sering mengalami keluhan pencernaan yang mengganggu, seperti sembelit yang berkepanjangan, sebaiknya konsultasikan ke dokter anak daripada menebak sendiri penyebabnya.

Usus yang Sehat dan Kaitannya dengan Suasana Hati Anak

Pencernaan dan otak terhubung melalui jalur komunikasi dua arah yang dikenal sebagai gut-brain axis atau poros usus-otak. Melalui jalur ini, kondisi mikrobiota usus dapat memengaruhi berbagai sinyal yang dikirim ke otak, termasuk melalui asam lemak rantai pendek dan senyawa lain yang dihasilkan oleh bakteri usus (Mörbe et al., 2021; Chichlowski et al., 2020).

Hubungan ini juga dapat terlihat dalam keseharian Si Kecil. Ketika kesehatan pencernaan terjaga dan perut terasa nyaman, anak umumnya lebih mudah menjalani aktivitasnya dengan baik, seperti:

  • Lebih tenang dan tidak mudah rewel karena merasa nyaman
  • Lebih fokus saat bermain maupun belajar
  • Lebih siap dan bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari

Sebaliknya, gangguan pencernaan dapat membuat anak merasa kurang nyaman sehingga memengaruhi suasana hati dan aktivitasnya. Hal ini bukan berarti bakteri baik secara langsung membuat anak lebih cerdas, melainkan menunjukkan bahwa kesehatan pencernaan merupakan salah satu faktor yang mendukung kenyamanan, kesiapan belajar, dan aktivitas sehari-hari.

Oleh sebab itu, menjaga keseimbangan bakteri baik di usus bukan hanya penting bagi kesehatan pencernaan. Usus yang sehat juga membantu mendukung penyerapan nutrisi yang optimal serta menunjang kesiapan Si Kecil untuk tumbuh, belajar, dan mengeksplorasi potensinya setiap hari.

Cara Membantu Si Kecil Memenuhi Asupan Bakteri Baik

Selain melalui pola makan yang beragam, Bunda juga dapat mendukung keseimbangan bakteri baik di usus melalui pilihan nutrisi yang tepat. Untuk anak usia satu tahun ke atas, beberapa susu pertumbuhan telah diperkaya dengan formula Triple Bifidus, yaitu kombinasi Bifidobacterium longum BB536, Bifidobacterium breve M-16V, dan Bifidobacterium longum subsp. infantis M-63.

Ketiga bakteri baik tersebut bekerja secara sinergis untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Keseimbangan ini penting karena berperan dalam mendukung kesehatan saluran cerna, penyerapan nutrisi, serta daya tahan tubuh Si Kecil. Bunda dapat mempelajari lebih lanjut mengenai keunggulan formula Triple Bifidus pada Morinaga Chil Kid Platinum untuk anak usia 1–3 tahun atau Morinaga Chil School Platinum untuk anak usia 3–5 tahun (TK/Prasekolah) dan 6–12 tahun (SD/Anak Sekolah). 

Dengan pencernaan yang sehat, Si Kecil dapat menyerap nutrisi dengan lebih optimal dan lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari. Menjaga kesehatan usus sejak dini pun menjadi salah satu fondasi penting untuk mendukung tumbuh kembang dan potensi terbaiknya di masa depan.

Referensi

  • Chichlowski, M., Shah, N., Wampler, J. L., Wu, S. S., & Vanderhoof, J. A. (2020). Bifidobacterium longum subspecies infantis (B. infantis) in pediatric nutrition: Current state of knowledge. Nutrients12(6), Article 1581. https://doi.org/10.3390/nu12061581 
  • Henrick, B. M., Rodriguez, L., Lakshmikanth, T., Pou, C., Henckel, E., Arzoomand, A., & Brodin, P. (2021). Bifidobacteria-mediated immune system imprinting early in life. Cell184(15), 3884–3898.e11. https://doi.org/10.1016/j.cell.2021.05.030 
  • Miraglia Del Giudice, M., Indolfi, C., Capasso, M., Maiello, N., Decimo, F., & Ciprandi, G. (2017). Bifidobacterium mixture (B. longum BB536, B. infantis M-63, B. breve M-16V) treatment in children with seasonal allergic rhinitis and intermittent asthma. Italian Journal of Pediatrics43(1), Article 25. https://doi.org/10.1186/s13052-017-0340-5 
  • Mörbe, U. M., Jørgensen, P. B., Fenton, T. M., von Burg, N., Riis, L. B., Spencer, J., & Agace, W. W. (2021). Human gut-associated lymphoid tissues (GALT): Diversity, structure, and function. Mucosal Immunology14(4), 793–802. https://doi.org/10.1038/s41385-021-00389-4