Parenting Parenting

Peran Orang Tua di Masa Golden Age Anak dan Kapan Periodenya

Morinaga ♦ 30 September 2026
Peran Orang Tua di Masa Golden Age Anak dan Kapan Periodenya

Golden age atau masa emas anak berlangsung sejak Si Kecil masih dalam kandungan sampai ia berusia 5 tahun, dan periode awalnya tumpang tindih dengan seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK), yaitu dari masa kehamilan hingga usia 2 tahun. Di rentang inilah otak anak tumbuh paling cepat dibanding fase mana pun dalam hidupnya, sehingga kehadiran dan stimulasi orang tua punya pengaruh yang besar.

Setiap pelukan, tatapan, dan obrolan kecil yang Bunda berikan setiap hari sedang ikut menyusun fondasi cara berpikir dan merasa Si Kecil untuk jangka panjang. Bukan sekadar menemani, Bunda dan Ayah sedang membangun kerangka kognitif dan emosional yang akan ia bawa terus.

Golden Age, Umur Berapa dan Kapan Dimulai?

Banyak orang tua mengira golden age baru dimulai saat anak lahir. Padahal, masa ini sudah dimulai sejak Si Kecil masih berada dalam kandungan dan berlangsung hingga usia 5 tahun. Golden age mencakup periode sejak masa kehamilan hingga anak berusia lima tahun, dengan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase yang paling krusial.

Hal yang membuat rentang ini istimewa adalah kecepatan perkembangan otaknya. Menurut tinjauan yang terbit di The Lancet, tahun-tahun awal kehidupan adalah periode otak paling lentur dan paling responsif terhadap pengalaman, sehingga pengasuhan yang penuh kasih dan gizi yang cukup pada masa ini berdampak panjang bagi kemampuan belajar dan kesehatan anak (Black et al., 2017). Di luar jendela ini, otak tetap berkembang, tetapi tidak lagi secepat dan selentur masa emasnya.

Setiap interaksi yang Bunda berikan sekarang punya nilai. Stimulasi sederhana seperti mengajak bicara, membacakan cerita, dan bermain bersama bukan kegiatan tambahan, melainkan bahan baku yang dipakai otak Si Kecil untuk membangun dirinya.

Bagaimana Kehadiran Bunda Mendukung Perkembangan Otak Si Kecil

Kehadiran Bunda tidak hanya membuat Si Kecil merasa nyaman, tetapi juga memengaruhi proses biologis yang mendukung tumbuh kembangnya. Salah satu mekanismenya melibatkan hormon stres bernama kortisol yang berperan dalam respons tubuh terhadap tekanan.

Saat Si Kecil rewel, takut, atau menangis lalu Bunda menenangkannya dengan penuh kasih, tubuhnya belajar bahwa rasa cemas dapat diredakan. Penelitian Gunnar dan Donzella menunjukkan bahwa pada anak usia dini, kehadiran pengasuh yang responsif membantu mengatur sistem hormon stres sehingga kadar kortisol tetap lebih stabil ketika anak berada bersama sosok yang ia percaya (Gunnar & Donzella, 2002). Kondisi ini membuat Si Kecil merasa lebih aman untuk bereksplorasi, bermain, dan belajar.

Pengasuhan yang hangat juga membantu memperkuat hubungan antar sel saraf di otak. Pada masa awal kehidupan, otak membentuk jutaan koneksi baru, dan pengalaman sehari-hari menentukan koneksi mana yang akan dipertahankan. Interaksi yang responsif, penuh perhatian, dan konsisten menjadi salah satu pengalaman yang memperkuat jaringan tersebut (Black et al., 2017). Inilah mengapa ATENSI menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung perkembangan kognitif dan emosional Si Kecil.

Rasa aman yang dibangun melalui kehadiran Bunda juga berdampak pada kesehatan pencernaan. Anak yang merasa tenang cenderung memiliki pola makan dan tidur yang lebih teratur, sehingga keseimbangan bakteri baik di saluran cerna, termasuk kelompok Bifidobacterium, lebih mudah terjaga. Pencernaan yang sehat turut mendukung daya tahan tubuh karena sebagian besar sistem kekebalan tubuh berada di saluran cerna.

Nutrisi yang Ikut Mempercepat Jaringan Saraf

Stimulasi dan kasih sayang perlu didukung oleh nutrisi yang tepat. Pada masa ketika otak berkembang sangat pesat, beberapa zat gizi berperan penting dalam pembentukan struktur dan fungsi otak. Dua di antaranya adalah DHA dan Sphingomyelin.

Zat Gizi Peran Catatan
DHA Menjadi bagian dari membran sel saraf dan terlibat dalam pertumbuhan serta komunikasi antar sel di otak Menumpuk di otak terutama pada akhir kehamilan sampai usia dua tahun. Tubuh anak hanya sedikit memproduksinya sendiri, sehingga asupan dari makanan ikut menentukan ketersediaannya (Lauritzen et al., 2016)
Sphingomyelin Mendukung mielinisasi, yaitu pembentukan selubung pelindung di sekitar serabut saraf, sehingga sinyal informasi mengalir lebih cepat Data awal dari studi eksplorasi mengaitkannya dengan kadar mielin yang lebih tinggi dan perkembangan kemampuan verbal di dua tahun pertama, meski masih perlu dikonfirmasi dengan uji klinis lebih lanjut (Schneider et al., 2019)

Untuk bayi, sumber gizi otak terbaik adalah ASI yang secara alami mengandung DHA dan sphingomyelin. Pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan, dilanjutkan MPASI bergizi seimbang dan ASI sampai 2 tahun, adalah fondasi paling kuat di awal masa emas. Setelah usia satu tahun, anak mendapat nutrisi ini dari makanan keluarga yang beragam seperti ikan, telur, dan sumber lemak sehat lainnya.

Membatasi Gula Tambahan demi Fokus Jangka Panjang

WHO menganjurkan agar asupan gula bebas, termasuk gula pasir atau sukrosa yang ditambahkan ke makanan dan minuman, dibatasi pada anak maupun orang dewasa karena berkaitan dengan meningkatnya risiko karies gigi dan kelebihan berat badan (WHO, 2015). Gigi susu Si Kecil masih rentan terhadap kerusakan, sementara kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman manis sejak dini dapat terbawa hingga dewasa. Membatasi gula tambahan juga membantu menjaga energi Si Kecil tetap stabil sepanjang hari. Bunda dapat membiasakan rasa manis alami dari buah, mengurangi minuman manis kemasan, serta membaca label kandungan gula pada produk yang dikonsumsi Si Kecil.

Masa golden age merupakan kesempatan berharga untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil. Kehadiran yang hangat, stimulasi yang konsisten, dan NUTRISI yang seimbang menjadi bekal penting agar ia dapat tumbuh dan belajar secara optimal. Selain makanan bergizi seimbang, susu pertumbuhan dapat menjadi pelengkap asupan nutrisi harian. Bila Bunda mencari pilihan tanpa tambahan sukrosa, pelajari lebih lanjut mengenai susu pertumbuhan tanpa sukrosa untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi Si Kecil.

Referensi

  • Black, M. M., Walker, S. P., Fernald, L. C. H., Andersen, C. T., DiGirolamo, A. M., Lu, C., McCoy, D. C., Fink, G., Shawar, Y. R., Shiffman, J., Devercelli, A. E., Wodon, Q. T., Vargas-Barón, E., & Grantham-McGregor, S. (2017). Early childhood development coming of age: Science through the life course. The Lancet, 389(10064), 77–90. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(16)31389-7 
  • Gunnar, M. R., & Donzella, B. (2002). Social regulation of the cortisol levels in early human development. Psychoneuroendocrinology, 27(1–2), 199–220. https://doi.org/10.1016/S0306-4530(01)00045-2 
  • Lauritzen, L., Brambilla, P., Mazzocchi, A., Harsløf, L. B., Ciappolino, V., & Agostoni, C. (2016). DHA effects in brain development and function. Nutrients, 8(1), Article 6. https://doi.org/10.3390/nu8010006 
  • Schneider, N., Hauser, J., Oliveira, M., Cazaubon, E., Mottaz, S. C., O'Neill, B. V., Steiner, P., & Deoni, S. C. L. (2019). Sphingomyelin in brain and cognitive development: Preliminary data. eNeuro, 6(4), Article ENEURO.0421-18.2019. https://doi.org/10.1523/ENEURO.0421-18.2019 
  • World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. World Health Organization. https://apps.who.int/iris/handle/10665/149782