Parenting Parenting

Penyebab BAB Berdarah pada Anak dan Kapan Harus ke Dokter

Morinaga
Morinaga ♦ 12 Agustus 2026

Ditinjau oleh dr. Reza Fahlevi, Sp.A

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

About the author

dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.

Penyebab BAB Berdarah pada Anak dan Kapan Harus ke Dokter

BAB berdarah pada Si Kecil tidak selalu berbahaya. Penyebab yang paling sering justru ringan, seperti luka kecil di anus akibat tinja keras saat sembelit, dan biasanya bisa membaik dengan perawatan di rumah. Tetapi darah pada tinja tetap perlu Bunda perhatikan, karena pada sebagian kasus ia menjadi tanda gangguan pencernaan yang butuh pemeriksaan dokter.

Melihat bercak merah di popok atau di kloset memang bikin jantung berdebar. Wajar kalau Bunda langsung cemas. Kabar baiknya, banyak hal bisa dibaca dari apa yang Bunda lihat: warna darahnya, tekstur tinja, seberapa sering anak BAB, dan bagaimana kondisi Si Kecil secara keseluruhan. Detail-detail itu membantu memperkirakan seberapa serius keadaannya, dan kapan sebaiknya Si Kecil diperiksa.

Penyebab Pup Berdarah pada Anak yang Paling Sering Ditemui 

Penyebab munculnya darah pada pup Si Kecil memiliki rentang yang cukup luas, mulai dari masalah ringan hingga kondisi yang membutuhkan penanganan medis intensif. Memilih penyebabnya dari yang paling umum akan membantu Bunda agar tidak panik berlebihan, sekaligus tetap waspada terhadap tanda-tanda yang penting.

Sembelit dan Tinja Keras yang Melukai Anus

Saat anak kurang minum air putih, kurang mengonsumsi makanan berserat, atau memiliki kebiasaan menahan buang air besar, pupnya akan berubah menjadi keras dan berukuran besar. Pup yang keras tersebut dapat merobek kulit halus di sekitar anus dan menimbulkan luka kecil yang disebut dengan fisura ani.

Fisura ani adalah penyebab utama kasus bab keluar darah segar pada anak. Karakteristik darahnya sangat khas: berwarna merah segar, jumlahnya sedikit, menempel di permukaan tinja, atau menetes sesaat setelah anak selesai BAB (Patkova & Wester, 2020). Si Kecil biasanya akan tampak kesakitan saat mengejan, lalu cenderung menahan BAB berikutnya karena takut sakit. Lingkaran setan ini bisa diputus dengan melunakkan tekstur tinja, dan sebagian besar kasus luka anus ini dapat sembuh dengan sendirinya.

Diare dan Infeksi Saluran Cerna

Berbeda dengan darah yang muncul akibat luka robekan di anus, darah yang keluar saat anak sedang mengalami diare biasanya menandakan adanya peradangan di dalam usus. Infeksi bakteri atau virus tertentu dapat melukai dinding usus, sehingga menyebabkan tinja bercampur dengan darah dan sering kali disertai dengan lendir.

Ciri yang membedakannya dengan sembelit cukup jelas. Selain pup berdarah, anak juga akan mengalami gejala pendamping seperti demam, nyeri perut, atau anak menjadi sangat rewel dan lemas. Pupnya bertekstur cair, berlendir, dan frekuensi buang air besarnya meningkat tajam. Kombinasi diare berdarah dengan demam adalah alasan yang sangat kuat untuk segera membawa Si Kecil ke dokter, terutama karena diare berisiko tinggi menyebabkan anak kekurangan cairan (dehidrasi).

Alergi Protein Susu Sapi

Sebagian anak memiliki reaksi hipersensitivitas terhadap protein susu sapi. Pada bentuk yang dikenal sebagai proktokolitis alergika, sistem kekebalan tubuh anak bereaksi negatif terhadap protein tersebut dan menimbulkan peradangan pada usus bagian bawah. Tandanya yang khas adalah munculnya bercak darah dan lendir pada tinja, sementara kondisi fisik anak sendiri umumnya tetap aktif dan tumbuh dengan baik (Mennini et. al., 2020).

Gejala pendamping dari alergi ini bisa berupa perut kembung, muntah, ruam kemerahan pada kulit, atau BAB yang menjadi lebih sering dan berlendir. Hal penting yang wajib Bunda ketahui: jangan pernah mengganti atau menghentikan konsumsi susu anak secara sepihak. Diagnosis alergi susu sapi harus dipastikan oleh dokter anak. Jika memang diperlukan, dokter yang akan mengarahkan pilihan NUTRISI yang sesuai, termasuk apakah formula khusus seperti varian soya atau terhidrolisis cocok untuk kebutuhan Si Kecil.

Gangguan Usus yang Perlu Diwaspadai

Pada sebagian kecil kasus, darah pada tinja berasal dari kondisi medis yang lebih serius, seperti polip usus (jaringan kecil di dinding usus yang bisa memicu pendarahan) atau penyakit radang usus kronis. Kasus ini jauh lebih jarang terjadi, jadi Bunda tidak perlu langsung membayangkan kemungkinan terburuk.

Hal yang menjadi pembeda utama adalah faktor waktu dan pola gejalanya. Jika darah pada tinja muncul secara berulang, berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang, atau disertai dengan penurunan berat badan yang drastis dan gangguan tumbuh kembang, maka kondisi tersebut harus segera ditelusuri oleh dokter spesialis anak. Pemeriksaan dini sangat membantu untuk memastikan penyebabnya sejak awal.

Membaca Tekstur Tinja Lewat Skala Tinja Bristol 

Skala Tinja Bristol adalah panduan visual internasional yang mengelompokkan bentuk tinja dari yang paling keras hingga yang paling cair. Versi yang disederhanakan untuk anak-anak terbukti cukup andal untuk membantu orang tua menggambarkan konsistensi tinja Si Kecil, sehingga lebih mudah dikomunikasikan saat berkonsultasi dengan dokter (Lane et. al.., 2011).

Untuk keperluan pemantauan sehari-hari di rumah, Bunda cukup mengenali tiga gambaran besar dari tekstur tinja anak:

  1. Tinja Sehat: Memiliki tekstur yang lunak, berbentuk seperti sosis atau pisang yang permukaannya mulus, serta dapat keluar dengan mudah tanpa membuat anak harus mengejan keras.
  2. Tinja Terlalu Keras: Berbentuk menggumpal seperti kacang-kacang kecil yang terpisah atau berbenjol-benjol padat. Struktur tinja inilah yang paling sering melukai anus hingga memicu bab keluar darah segar.
  3. Tinja Terlalu Cair: Berbentuk encer tanpa ampas atau sepenuhnya berlendir. Kondisi ini biasanya menjadi penanda adanya diare atau infeksi pada saluran pencernaan harian anak.

Kunci utama untuk mencegah perdarahan akibat luka anus adalah menjaga agar konsistensi tinja anak tetap berada di kisaran yang lunak dan mudah dikeluarkan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tiga faktor sederhana: kecukupan cairan, asupan serat yang pas, dan keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Ketiga pilar ini saling menopang satu sama lain untuk mengoptimalkan kesehatan pencernaan Si Kecil.

Gut Barrier, Lapisan Pelindung Saluran Cerna Anak 

Bayangkan dinding usus punya satu lapisan pelindung tipis yang menyeleksi apa yang boleh masuk ke tubuh dan apa yang harus ditahan. Lapisan inilah yang sering disebut gut barrier. Ketika ia bekerja baik, kuman, sisa makanan yang belum tercerna, dan zat pemicu iritasi lebih sulit menembus dinding usus. Lapisan ini tidak bekerja sendirian. Bakteri baik di usus ikut menjaganya tetap rapat dan kuat. Pola makan rendah serat, infeksi yang berulang, atau ketidakseimbangan bakteri baik bisa membuat lapisan usus lebih sensitif dan gampang meradang.

Di sinilah serat dan prebiotik berperan. Prebiotik adalah “makanan” bagi bakteri baik. Sebuah tinjauan ilmiah pada anak menjelaskan bahwa serat dan prebiotik dapat mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan seperti Bifidobacterium dan ikut menjaga kesehatan saluran cerna (Wegh et. al.., 2017). Saluran cerna yang sehat juga membantu mendukung pertahanan tubuh anak secara keseluruhan, karena sebagian besar kerja sistem imun memang berlangsung di usus. Menjaga pencernaan dan menjaga daya tahan tubuh, dalam pilar NUTRISI, berjalan beriringan.

Langkah Pertama Saat Si Kecil Pup Berdarah 

Sebelum Bunda dilanda kepanikan, ada beberapa langkah awal yang bisa Bunda lakukan secara mandiri di rumah untuk menilai situasi dan memberikan bantuan pertama bagi Si Kecil:

  • Perhatikan Warna dan Jumlah Darah: Darah berwarna merah segar dalam jumlah sedikit di permukaan tinja cenderung mengarah pada luka robekan anus. Sebaliknya, darah yang bercampur rata dengan lendir atau tinja yang berwarna hitam pekat membutuhkan perhatian medis yang lebih serius.
  • Tingkatkan Hidrasi dan Serat: Pastikan anak mendapatkan kecukupan cairan dengan minum air putih yang cukup dan berikan makanan kaya serat agar tekstur tinjanya kembali melunak.
  • Buat Catatan Sederhana: Catat apa saja jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi Si Kecil hari itu. Catatan ini akan sangat membantu dokter untuk menelusuri pemicunya jika keluhan tersebut terjadi berulang kali.
  • Hindari Memaksa Anak: Jangan memaksa anak untuk mengejan terlalu kuat, dan bantu ia agar tidak membiasakan diri menahan buang air besar akibat rasa takut sakit.

Tanda Bahaya yang Harus Segera Diperiksakan ke Dokter

Bunda harus segera membawa Si Kecil ke fasilitas kesehatan atau dokter anak jika menemui tanda-tanda red flag berikut ini:

  • Darah keluar secara terus-menerus atau dalam jumlah volume yang banyak.
  • Tinja atau BAB berwarna hitam pekat menyerupai warna aspal.
  • Anak mengalami nyeri perut yang hebat atau tampak sangat lemas dan tidak aktif.
  • Kondisi disertai dengan muntah-muntah, demam tinggi, atau gejala diare berdarah.
  • Terjadi penurunan berat badan atau anak terlihat tidak tumbuh optimal seperti biasanya.
  • Darah pada tinja disertai dengan produksi lendir yang berlebihan.

Jika Bunda merasa ragu dengan kondisi yang terjadi, memeriksa anak ke dokter adalah langkah paling bijak. Mengetahui penyebab pastinya sejak dini tentu jauh lebih menenangkan bagi Bunda, sekaligus mencegah keadaan agar tidak berkembang menjadi lebih berat.

Menjaga pencernaan anak agar BAB lebih nyaman

Pencegahan jangka panjang sebenarnya bertumpu pada kebiasaan harian yang sederhana. Biasakan Si Kecil makan beragam dengan cukup serat dari buah dan sayur, seperti pepaya, pir, dan oatmeal. Pastikan ia cukup minum sepanjang hari, ajak aktif bergerak, dan bangun rutinitas BAB yang santai tanpa paksaan sejak dini.

Menu yang kaya serat dan cukup cairan membantu tinja tetap lunak, sehingga risiko luka saat BAB menurun. Menjaga keseimbangan bakteri baik dan kesehatan gut barrier membuat saluran cerna tidak mudah teriritasi atau terkena infeksi. Pencernaan yang nyaman ini bukan hanya soal BAB yang lancar, tetapi juga ikut mendukung daya tahan tubuh Si Kecil sehari-hari.

Untuk anak usia satu tahun ke atas, susu pertumbuhan bisa menjadi salah satu pelengkap pola makan bergizi seimbang, bukan pengganti makanan utama dan bukan obat untuk keluhan tertentu. Susu dengan kandungan probiotik seperti Bifidobacterium dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus. Untuk memahami lebih lanjut hubungan antara kesehatan pencernaan, bakteri baik, dan daya tahan tubuh anak, termasuk pilihan nutrisi yang sesuai untuk usia 1 sampai 3 tahun, Bunda bisa cek lengkapnya di sini: Morinaga Chil Kid Platinum.

Sebagian besar BAB berdarah pada anak berakhir baik, terutama bila Bunda jeli membaca tandanya dan tahu kapan harus melibatkan dokter. Tubuh yang sehat dimulai dari perut yang nyaman, dan itu Bunda bangun dari piring makan dan kebiasaan kecil setiap hari.

Referensi

  • Patkova, B., & Wester, T. (2020). Anal fissure in children. European Journal of Pediatric Surgery, 30(5), 391-394.
  • Mennini, M., Fiocchi, A. G., Cafarotti, A., Montesano, M., Mauro, A., Villa, M. P., & Di Nardo, G. (2020). Food protein-induced allergic proctocolitis in infants: Literature review and proposal of a management protocol. World Allergy Organization Journal, 13(10), 100471.
  • Lane, M. M., Czyzewski, D. I., Chumpitazi, B. P., & Shulman, R. J. (2011). Reliability and validity of a modified Bristol Stool Form Scale for children. The Journal of Pediatrics, 159(3), 437-441.
  • Wegh, C. A. M., Schoterman, M. H. C., Vaughan, E. E., Belzer, C., & Benninga, M. A. (2017). The effect of fiber and prebiotics on children’s gastrointestinal disorders and microbiome. Expert Review of Gastroenterology & Hepatology, 11(11), 1031-1045.