Parenting Parenting

Penyebab Sibling Rivalry dan Cara Mengatasinya

Morinaga Platinum ♦ 23 Mei 2025
Penyebab Sibling Rivalry dan Cara Mengatasinya

Sibling rivalry adalah persaingan antara kakak dan adik yang dapat dipicu oleh perebutan perhatian atau mainan. Bunda bisa membantu mengatasinya dengan memberikan perhatian yang adil dan membimbing anak menyelesaikan perselisihan. Meski perselisihan sesekali merupakan hal yang wajar, Bunda perlu segera turun tangan jika anak saling menyakiti atau merasa tidak aman. Yuk, kenali penyebab, tanda yang perlu diwaspadai, dan cara membantu kakak adik lebih akur.

Mengapa Sibling Rivalry antara Kakak dan Adik Sering Terjadi?

Sibling rivalry dapat muncul ketika kakak dan adik berebut perhatian, mainan, atau pujian dari orang tua. Kehadiran adik baru juga bisa memicu kecemburuan pada kakak. Ia mungkin merasa waktu bersama Bunda berkurang karena perhatian kini terbagi.

Perbedaan kepribadian dan kebutuhan turut memicu perselisihan antara kakak dan adik. Anak juga masih belajar mengelola emosi dan menyampaikan keinginannya. Dengan memahami kondisi ini, Bunda dapat memberikan perhatian yang adil dan membimbing keduanya menyelesaikan masalah tanpa saling menyakiti.

Tanda Konflik Kakak dan Adik yang Perlu Diwaspadai

Konflik kakak dan adik biasanya bersifat ringan, seperti berebut mainan. Namun, Bunda perlu segera turun tangan jika pertengkaran mulai melibatkan kekerasan, seperti mencubit atau memukul. Selain menyebabkan cedera, pertengkaran yang berulang dapat membuat anak merasa tidak aman. Jika dibiarkan, hubungan mereka juga berisiko menjadi renggang.

Selain kekerasan, perhatikan perubahan perilaku anak setelah pertengkaran. Perubahan tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan dukungan emosional. Beberapa perilaku yang perlu Bunda perhatikan meliputi berikut ini.

  • Menjadi lebih pendiam.
  • Lebih sering menangis.
  • Sulit tidur.
  • Menarik diri.
  • Enggan didekati oleh saudaranya.

Jika perubahan perilaku menetap atau tidak mereda, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan psikolog anak. Bantuan profesional dapat membantu memahami masalah yang belum mampu diungkapkan Si Kecil. Dengan mengetahui penyebabnya, Bunda bisa memberikan dukungan yang lebih tepat. Penanganan sejak awal juga membantu mencegah konflik semakin berlarut-larut.

Aktivitas yang Membantu Membangun Ikatan Kakak dan Adik

Ikatan yang hangat dapat membantu mengurangi sibling rivalry antara kakak dan adik. Bunda bisa mendukungnya melalui aktivitas yang mengutamakan kerja sama. Berikut beberapa kegiatan sederhana yang bisa dicoba:

  • Membuat karya bersama: Ajak kakak dan adik menggambar atau membuat kerajinan dengan pembagian peran sesuai kemampuan.
  • Bermain sebagai satu tim: Bunda dan Ayah bisa mengajak mereka bermain bulu tangkis ganda agar keduanya belajar bekerja sama.
  • Menyiapkan meja makan: Kakak dan adik dapat berbagi tugas menata serta membersihkan meja makan, lalu bertukar peran pada kesempatan berikutnya.

Menyelesaikan kegiatan bersama memberi anak kesempatan untuk saling membantu. Rasa bangga atas hasil kerja mereka juga dapat menumbuhkan semangat untuk kembali bekerja sama. Sesuaikan kegiatan dengan usia dan kemampuan masing-masing agar keduanya dapat menikmati kebersamaan.

Jadikan kegiatan bersama sebagai bagian dari rutinitas keluarga. Dampingi anak secara konsisten dan berikan perhatian yang adil kepada keduanya. Kebiasaan ini dapat membantu kakak dan adik semakin dekat sebagai teman bermain dan rekan bekerja sama.

Peran Orang Tua dalam Menjaga Keseimbangan Emosi Anak

Saat sibling rivalry terjadi, dengarkan kedua anak sebelum menentukan respons. Jika salah satu anak melakukan kesalahan, berikan konsekuensi yang sesuai tanpa menyalahkan saudaranya. Jangan langsung menyalahkan kakak ketika adik jatuh hanya karena usianya lebih tua. Sikap yang tenang dan adil membantu anak merasa didengarkan serta belajar menyelesaikan masalah melalui komunikasi.

Untuk mengurangi perselisihan, ajak kakak dan adik membuat aturan sederhana bersama. Sepakati giliran menggunakan gawai, waktu istirahat, pembagian tugas, atau giliran mandi. Beri keduanya kesempatan menyampaikan pendapat agar lebih mudah menerima kesepakatan. Terapkan aturan secara konsisten supaya anak memahami tanggung jawab masing-masing.

Luangkan pula waktu khusus untuk setiap anak. Bunda bisa mendengarkan cerita atau menemani kegiatan yang mereka sukai tanpa gangguan dari saudaranya. Misalnya, temani kakak membaca buku ketika adik sudah tidur. Pastikan keduanya mendapat kesempatan menikmati perhatian Bunda agar tidak merasa harus berebut.

Dampak Panjang Jika Sibling Rivalry Dibiarkan

Sangat penting untuk memahami bahwa sibling rivalry yang tidak ditangani dengan baik bisa memberikan dampak dalam jangka panjang dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak saat dewasa. Anak-anak yang terus terlibat konflik dengan saudaranya tanpa henti dan tanpa bimbingan dari orang tua bisa cenderung memiliki kepribadian yang sulit percaya pada orang lain, rendah diri, dan tidak bisa mengontrol emosinya. Di rumah, anak yang terlibat konflik terus dengan saudaranya dan cenderung disalahkan akan menarik diri dari keluarga, seperti enggan didekati oleh saudara dan tidak mau mendengarkan perkataan orang tua. Sedangkan anak yang terus merasa menang pada konflik ini akan merasa superior dari saudaranya dan merasa memiliki hak untuk melukainya. 

Lebih jauh lagi, hubungan saudara yang buruk sejak dini akan berlangsung hingga dewasa. Banyak kasus saudara yang renggang begitu menginjak usia dewasa dan telah memiliki rumah tangga masing-masing. Tentu saja hal ini bisa membuat hubungan keluarga yang dingin dan penuh ketegangan dalam jangka panjang. Padahal hubungan saudara yang kuat akan menjadi penyemangat dan membantu Bunda dan Ayah dalam melewati hari tua. Mereka berdua harusnya bisa saling mendukung untuk merawat orang tua, tetapi karena pertikaian yang terjadi sejak kecil, mereka enggan bekerja sama dan saling bermusuhan. 

Ketika dewasa, bukan hubungan di rumah saja yang menjadi dingin dan tegang. Anak yang selalu kalah dalam sibling rivalry kemungkinan juga akan kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Itulah pentingnya mengatasi konflik antar saudara agar anak tumbuh dengan kemampuan sosial yang kuat. Membantu membina hubungan yang sehat antara saudara bukan hanya untuk kedamaian rumah, tetapi perkembangan masa depan anak-anak. 

Sebenarnya tidak ada hubungan yang bebas dari konflik, termasuk hubungan saudara. Namun, dengan perhatian yang tulus dan tepat dari Bunda, konflik yang berlangsung antara saudara bisa menjadi konflik yang sehat dan menciptakan suasana yang positif. Akan lebih baik kalau Bunda tidak menunggu konflik menjadi luka batin bagi salah satu anak terlebih dahulu karena akan sangat sulit untuk disembuhkan. Biasanya, anak yang sudah mengalami luka batin tidak akan percaya dengan saudara atau orang tuanya begitu saja. 

Makanya, sangat penting bagi Bunda untuk mencegah konflik antar saudara menjadi lebih parah dan berdampak panjang. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan mempelajari berbagai pola asuh yang tepat untuk anak-anak. Tentu saja ada banyak cara pola asuh yang bisa diterapkan. Yuk, Bunda, Lihat Pola Asuh yang Tepat.

Referensi

  • American Academy of Pediatrics. Sibling Rivalry: Helping Children Learn to Get Along. Diakses 16 Mei 2025. https://www.healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/Pages/Sibling-Rivalry.aspx
  • Zero to Three. Managing Sibling Rivalry. Diakses 16 Mei 2025. https://www.zerotothree.org/resource/managing-sibling-rivalry/
  • Raising Children Network. Sibling Conflict and Rivalry. Diakses 16 Mei 2025. https://raisingchildren.net.au/toddlers/behaviour/fighting/sibling-rivalry
  • Center on the Developing Child – Harvard University. How Early Experiences Shape Brain Architecture. Diakses 16 Mei 2025. https://developingchild.harvard.edu/science/key-concepts/brain-architecture/