Aktivitas & Stimulasi Aktivitas & Stimulasi

Kenali dan Terapkan Gaya Belajar Auditori pada Si Kecil

Morinaga ♦ 13 Agustus 2026
Kenali dan Terapkan Gaya Belajar Auditori pada Si Kecil

Gaya belajar auditori adalah kecenderungan anak menyerap dan mengingat informasi lebih mudah lewat suara, percakapan, lagu, atau penjelasan lisan dibanding lewat tulisan atau gambar. Anak seperti ini sering terlihat senang mendengar cerita dan cepat hafal lagu. Ini bukan label tetap, tapi petunjuk aktivitas mana yang paling dia nikmati.

Sebelum jauh, ada satu hal yang jujur perlu Bunda tahu. Anggapan bahwa anak harus diajari hanya lewat satu gaya belajar tertentu agar pintar sebenarnya kurang didukung bukti ilmiah. Tinjauan yang kerap dikutip menyimpulkan tidak ada bukti memadai bahwa mencocokkan cara mengajar dengan gaya belajar membuat anak belajar lebih baik (Pashler et. al., 2008). Jadi cara membaca artikel ini bukan “Si Kecil tipe auditori, berarti cara lain salah”, melainkan “Si Kecil suka suara, jadi cerita, lagu, dan obrolan bisa jadi pintu masuk yang menyenangkan untuk menstimulasi bahasanya”.

Kenapa Anak yang Suka Mendengar Cepat Menangkap Bahasa? 

Bahasa pertama kali masuk lewat telinga, jauh sebelum Si Kecil bisa membaca. Anak yang nyaman dengan suara biasanya antusias saat diajak ngobrol, mendengar dongeng, atau menirukan kata. Antusiasme itulah yang penting, karena makin sering anak terpapar bahasa lisan yang kaya, makin banyak kosakata yang dia kenal.

Membacakan buku dan bercerita punya kaitan kuat dengan perkembangan bahasa. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 19 uji acak terkontrol menemukan bahwa kegiatan membacakan buku bersama anak usia 1 sampai 6 tahun berhubungan dengan peningkatan kemampuan bahasa, baik bahasa yang anak ucapkan maupun yang dia pahami (Dowdall et. al., 2020). Buku cerita memuat kata yang lebih beragam daripada percakapan sehari-hari, jadi anak berkenalan dengan kosakata baru lewat telinganya.

Kecenderungan ini sering tampak sejak dini. Si Kecil yang minta dongeng yang sama berulang kali, mudah meniru kata baru, atau cepat hafal lagu anak sedang menunjukkan bahwa otaknya menyimpan informasi dengan nyaman dalam bentuk bunyi dan pola suara.

Ciri Si Kecil yang Condong ke Gaya Auditori 

Tidak ada satu tes pasti, tapi pola perilakunya cukup mudah dikenali sehari-hari. Anak auditori biasanya:

  • Lebih cepat paham saat diberi instruksi lisan dibanding ditunjukkan lewat gambar.
  • Suka berbicara sendiri atau bersuara pelan saat bermain dan belajar.
  • Mudah mengingat lirik lagu, jingle, atau dialog dari cerita kesukaannya.
  • Senang diminta mendengarkan dongeng yang sama lagi dan lagi.
  • Tampak lebih fokus ketika ada interaksi verbal, dan cepat bosan kalau diminta diam sendiri terlalu lama.

Satu catatan penting. Sebagian besar anak tidak hanya punya satu gaya dominan. Hari ini Si Kecil mungkin paling menikmati lagu, besok dia justru asyik menyusun balok tanpa banyak bicara. Menariknya, keyakinan bahwa gaya belajar itu bawaan lahir dan tidak bisa berubah ternyata sangat umum sekaligus kurang berdasar, terutama di kalangan orang yang mendampingi anak kecil (Nancekivell et. al., 2020). Jadi anggap kecenderungan auditori sebagai pintu yang nyaman, bukan kotak yang mengurung. Pendekatan belajar Si Kecil tetap perlu fleksibel.

Aktivitas yang Membuat Anak Auditori Lebih Asyik Belajar 

Inti dari seluruh stimulasi di bawah ini adalah memanfaatkan elemen suara untuk membuat informasi terasa hidup. Tujuannya bukan demi mengejar target akademis yang kaku, melainkan agar momen belajar terasa seperti bermain yang menyenangkan. Bunda bisa memilih jenis aktivitas yang paling cocok dengan suasana hati Si Kecil harian:

1. Bercerita dengan Intonasi yang Berubah-ubah

Metode bercerita ini adalah bagian yang paling sering kurang dimanfaatkan, padahal langkah praktisnya sangat mudah. Saat membacakan buku cerita, ubah nada suara Bunda untuk merepresentasikan tiap tokoh yang berbeda, perlambat tempo bicara pada bagian cerita yang menegangkan, dan tambahkan efek suara latar yang sederhana (seperti bunyi “brrm” untuk mobil atau “tok tok” untuk ketukan pintu). Perubahan variasi nada ini terbukti mampu menahan atensi fokus Si Kecil jauh lebih lama daripada membaca dengan intonasi yang datar.

Sesekali, berhentilah di tengah cerita dan ajukan pertanyaan interaktif, seperti: "Menurut Si Kecil, habis ini si kelinci mau lompat ke mana, ya?". Gaya bercerita yang interaktif akan mengajak anak untuk ikut aktif berpikir, bukan sekadar menjadi pendengar yang pasif. Di sinilah tingkat pemahaman isi cerita serta penyerapan kosakata baru akan menempel lebih kuat di memorinya.

2. Permainan Bunyi untuk Mengasah Kepekaan Suara

Kemampuan anak dalam mengenali, memilah, dan memainkan bunyi di dalam kata atau yang sering disebut sebagai kesadaran fonologis (phonological awareness), yaitu fondasi krusial menuju kemampuan membaca di masa depan. Bunda bisa melatih aspek ini melalui permainan ringan di rumah, bukan lewat latihan formal yang membosankan. Contohnya seperti permainan menebak sumber suara ("Itu suara apa ya di luar, kucing atau ayam?"), mencari kata yang memiliki bunyi akhir serupa ("Kucing rimanya sama kayak… pusing!"), atau memecah kata menjadi suku kata sambil bertepuk tangan berirama.

Lagu dan rima anak memegang peran yang sangat nyata di sini. Sebuah penelitian pada bayi menemukan bahwa kepekaan terhadap rima dalam lagu anak berkaitan langsung dengan ukuran jumlah kosakata yang mampu diucapkan anak saat menginjak usia 18 bulan (Hahn et. al., 2021). Aktivitas menyanyikan lagu berima menjadi opsi menyenangkan untuk melatih ketajaman telinga Si Kecil.

3. Lagu dan Irama sebagai Jembatan Ingatan

Pernahkah Bunda bertanya-tanya, mengapa anak bisa menghafal lirik lagu dengan cepat padahal ia belum lancar berbicara? Elemen melodi, irama musik, dan pengulangan kata secara alami membuat informasi lebih mudah menempel di otak. Penggunaan lagu anak atau tepuk tangan berirama bisa membantu Si Kecil menyerap kosakata dan wawasan baru tanpa ia merasa sedang dipaksa belajar. Bunda juga bisa berkreasi mengarang lagu pendek untuk rutinitas harian, misalnya seperti lagu khusus saat cuci tangan atau lagu saat membereskan mainan.

4. Ajak Si Kecil Berbincang, Bukan Hanya Mendengar

Anak dengan tipe auditori akan berkembang dengan sangat optimal melalui komunikasi dua arah. Setelah selesai membaca sebuah cerita, mintalah ia untuk menceritakan kembali kisah tersebut menggunakan bahasanya sendiri secara sederhana. Saat sedang berada di dalam perjalanan, ajak ia menyebutkan suara apa saja yang ia dengar di sekitar jalan. Obrolan dua arah seperti ini efektif melatih kemampuan verbal sekaligus mengasah fokus pendengarannya. Ini juga menjadi momen hangat yang bisa Bunda dan Si Kecil nikmati bersama untuk membangun kedekatan emosional.

Lingkungan yang Tenang Membantunya Berkonsentrasi

Karena Si Kecil yang memiliki tipe auditori sangat peka terhadap rangsangan suara, maka suasana lingkungan yang terlalu bising atau penuh dengan distorsi suara (noise) justru bisa memecah fokus konsentrasinya. Bukan berarti rumah harus dalam kondisi sunyi senyap, namun beberapa penyesuaian lingkungan berikut akan sangat membantu proses belajarnya di rumah:

  • Kecilkan volume atau matikan suara televisi saat anak sedang diajak fokus melakukan suatu aktivitas.
  • Sediakan satu sudut ruangan yang relatif tenang dan minim gangguan untuk aktivitas membaca buku atau bermain bersama.
  • Atur volume musik latar agar berfungsi sebagai pengiring yang menenangkan, bukan mendominasi ruangan.
  • Berikan waktu jeda di antara aktivitas supaya indra pendengaran dan perhatiannya tidak mengalami kelelahan (auditory fatigue).

Membaca POTENSI Si Kecil Lewat Cara Dia Belajar

Kecenderungan auditori hanya satu kepingan dari gambaran besar. Teori kecerdasan majemuk dari Howard Gardner memandang setiap anak punya banyak jalur kecerdasan, mulai dari linguistik, musikal, sampai kinestetik, dan tiap anak punya racikan yang berbeda. Suka mendengar dan bermusik bisa jadi salah satu jalur yang menonjol pada Si Kecil, tanpa menutup jalur lainnya.

Bagi Bunda, mengenali kecenderungan ini berguna secara praktis. Kalau Si Kecil paling antusias lewat suara, Bunda jadi punya ide stimulasi dan permainan yang lebih pas untuk mengasah minat alaminya, bukan untuk membatasi dia pada satu cara. Mengenali POTENSI seperti ini paling enak berjalan beriringan dengan dua hal lain: ATENSI berupa waktu bermain yang penuh perhatian, dan NUTRISI dari pola makan bergizi seimbang yang mendukung tumbuh kembangnya.

Untuk anak usia 1tahun ke atas, susu pertumbuhan bisa menjadi salah satu pelengkap pola makan bergizi seimbang, bukan pengganti makanan utama. Kalau Bunda ingin menyusun ide bermain yang disesuaikan dengan kecenderungan dan usia Si Kecil, Bunda bisa memulainya dengan Morinaga Multiple Intelligence Play Plan (MIPP). Dari situ Bunda dapat mengenali profil kecerdasan majemuknya lebih dalam dan mendapat ide aktivitas yang sesuai.

Pada akhirnya, hal paling berharga bukan menempelkan satu label pada Si Kecil, melainkan memperhatikan apa yang membuat matanya berbinar. Kalau itu suara cerita dan lagu, Bunda sudah punya banyak pintu menyenangkan untuk menemaninya bertumbuh.

Referensi

  • Pashler, H., McDaniel, M., Rohrer, D., & Bjork, R. (2008). Learning styles: Concepts and evidence. Psychological Science in the Public Interest, 9(3), 105-119.
  • Dowdall, N., Melendez-Torres, G. J., Murray, L., Gardner, F., Hartford, L., & Cooper, P. J. (2020). Shared picture book reading interventions for child language development: A systematic review and meta-analysis. Child Development, 91(2), e383-e399.
  • Nancekivell, S. E., Shah, P., & Gelman, S. A. (2020). Maybe they’re born with it, or maybe it’s experience: Toward a deeper understanding of the learning style myth. Journal of Educational Psychology, 112(2), 221-235.
  • Hahn, L. E., Benders, T., Fikkert, P., & Snijders, T. M. (2021). Infants’ implicit rhyme perception in child songs and its relationship with vocabulary. Frontiers in Psychology, 12, 680882. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.680882