Dongeng sebelum tidur tidak selalu harus penuh petualangan atau cerita yang mengharukan, Bun. Sesekali, Bunda juga bisa membacakan dongeng lucu yang mengundang tawa dan membuat suasana menjelang tidur terasa lebih hangat.
Tertawa bersama dapat membantu Si Kecil merasa lebih rileks setelah seharian beraktivitas. Jika Bunda sedang mencari cerita ringan yang menghibur, berikut lima dongeng lucu yang bisa menemani waktu tidur Si Kecil malam ini.
Di sebuah hutan yang rimbun, hiduplah Bimo, seekor gajah kecil yang punya satu kebiasaan unik. Ia sangat tidak suka bersin. Menurutnya, suara bersin terlalu berisik dan membuat telinganya berdengung.
Suatu pagi, hidung Bimo terasa sangat gatal karena serbuk bunga yang beterbangan. "Aduh, jangan sekarang!" gumamnya panik. Ia segera melipat belalainya dan menjepitnya rapat-rapat dengan kedua kaki depan. Wajahnya sampai memerah karena berusaha menahan bersin.
Melihat tingkah Bimo, Monyet yang sedang makan pisang tertawa geli. "Kalau mau bersin, bersin saja, Bimo!" katanya. Namun, Bimo tetap bersikeras menahannya. Ia bahkan berjalan keliling hutan sambil menjepit belalainya. Akibatnya, suaranya terdengar aneh saat menyapa teman-temannya. "Pwagii, Jewapah!" katanya hingga membuat Jerapah kebingungan.
Semakin lama, rasa gatal di hidungnya semakin kuat. Perut Bimo mulai bergetar dan matanya berair. Akhirnya, ia tidak sanggup menahan lagi. Bimo melepaskan belalainya, menarik napas panjang, lalu bersin sekuat tenaga.
"HAAAAA... CIIMMM!"
Suara bersin itu menggema ke seluruh hutan. Angin dari belalai Bimo begitu kencang hingga membuat apel-apel di pohon berjatuhan tepat di atas kepala Monyet. Tuk! Tuk! Tuk! Dalam sekejap, Monyet tertimbun tumpukan apel merah.
Melihat kejadian itu, semua hewan tertawa, termasuk Bimo. Ternyata, bersin tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Bahkan, sekali bersin saja sudah cukup untuk membantu panen apel di hutan.
Kiki adalah seekor katak hijau yang memiliki impian unik. Ia ingin bernyanyi merdu seperti burung kenari. Setiap pagi, Kiki duduk di atas daun teratai di tengah kolam dan berlatih dengan penuh semangat.
"Ehem, ehem! Do, re, mi..." katanya percaya diri. Lalu ia mencoba menirukan suara burung. "Cuit... cuit... teot... teblung... krok!"
Bebek yang sedang berenang di dekatnya sampai terkejut. "Kiki, itu suara burung atau suara katak yang sedang bingung?" candanya. Kiki hanya cemberut dan kembali berlatih.
Keesokan harinya, Kiki mencoba cara lain. Kali ini ia ingin berkokok seperti ayam jago. Ia berdiri tegak di atas daun teratai, membusungkan dada, lalu berteriak sekuat tenaga, "Kukuruyuuuk... KROK! KROK!"
Namun, karena terlalu bersemangat, Kiki kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset dan... BYUURR!
Ia jatuh terbalik ke dalam kolam hingga membuat air memercik ke mana-mana. Ikan-ikan yang melihat kejadian itu tertawa sambil mengeluarkan gelembung dari mulut mereka.
Kiki pun ikut tertawa. Ia akhirnya sadar bahwa tidak semua hewan harus memiliki suara yang sama. Menjadi katak dengan suara khasnya sendiri ternyata jauh lebih menyenangkan daripada memaksa diri menjadi burung atau ayam jago.
Miko si Monyet sangat suka bermain petak umpet bersama teman-temannya. Ia bahkan selalu menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah juara petak umpet se-hutan. Menurut Miko, tidak ada yang bisa menemukan tempat persembunyiannya karena ia merasa paling cerdas.
Suatu hari, Kelinci mendapat giliran berjaga. Saat hitungan dimulai, Miko langsung berlari mencari tempat persembunyian terbaik. Tak lama kemudian, ia menemukan semak buah beri yang rimbun dan segera bersembunyi di baliknya. Dengan penuh percaya diri, ia menutup matanya rapat-rapat sambil tersenyum puas.
Namun, baru beberapa detik setelah Kelinci selesai menghitung, terdengar suara, "Ketemu! Miko ada di sana!"
Miko langsung melompat keluar dari semak dengan wajah bingung. "Lho, kok bisa? Aku sudah bersembunyi dengan sempurna. Bahkan mataku sudah kututup rapat!" protesnya.
Mendengar itu, Kelinci dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. "Miko, badanmu memang bersembunyi di balik semak, tapi coba lihat ke atas," kata Kelinci sambil menunjuk ke arah pohon.
Saat menengok ke atas, Miko akhirnya menyadari kesalahannya. Ekor panjangnya ternyata masih menjuntai di luar semak dan bergoyang-goyang tertiup angin seperti bendera. Pantas saja ia langsung ketahuan!
Miko pun ikut tertawa malu. Sejak saat itu, ia belajar bahwa menutup mata tidak membuat dirinya otomatis tidak terlihat oleh orang lain.
Beri adalah seekor beruang madu yang gemar makan dan suka bersantai. Suatu siang, setelah menikmati madu kesukaannya, punggung Beri tiba-tiba terasa sangat gatal. Ia mencoba menggaruknya sendiri, tetapi tangannya tidak cukup panjang untuk menjangkau bagian yang gatal.
Beri sempat mengambil ranting untuk membantu menggaruk punggungnya. Namun baru sekali digunakan, ranting itu langsung patah. Karena malas mencari bantuan, ia akhirnya bersandar pada batang pohon besar dan mulai menggesek-gesekkan punggungnya.
"Srek... srek... srek..."
Semakin lama, gerakan Beri semakin heboh. Ia bergoyang ke kanan, ke kiri, maju, lalu mundur sambil memejamkan mata karena merasa nyaman.
Di atas pohon, Burung Hantu yang sedang beristirahat terbangun dan melihat gerakan Beri dari kejauhan. "Wah, Beri sedang menari!" serunya antusias.
Tak lama kemudian, Burung Hantu mengajak hewan-hewan lain untuk menonton. Rusa, Tupai, dan Landak segera berkumpul mengelilingi Beri. Mereka bertepuk tangan dan bersorak seolah sedang menyaksikan pertunjukan besar.
"Ayo, Beri! Ke kanan! Ke kiri!" teriak Tupai bersemangat.
Beri yang baru membuka mata langsung terkejut melihat banyak penonton. Ia pun tersipu malu saat menyadari semua hewan mengira dirinya sedang menari. Namun karena semua terlihat begitu senang, Beri akhirnya ikut bermain. Ia melambaikan tangan dan melanjutkan "tarian gatalnya" dengan gaya yang lebih lucu hingga punggungnya tidak gatal lagi.
Sejak saat itu, teman-temannya sering bercanda bahwa Beri adalah penari paling terkenal di hutan, padahal ia hanya sedang menggaruk punggung.
Di sebuah hutan tropis, hiduplah Ciko, seekor bunglon muda yang ceria. Seperti bunglon pada umumnya, Ciko bisa mengubah warna kulitnya agar menyatu dengan lingkungan sekitar. Sayangnya, Ciko sangat pelupa dan mudah panik sehingga kemampuan menyamarnya sering berakhir lucu.
Suatu hari, saat sedang bersantai di atas daun hijau, tiba-tiba terdengar suara ranting patah. Ciko langsung terkejut. Bukannya berubah menjadi hijau agar tidak terlihat, kulitnya malah berubah menjadi merah terang dengan polkadot merah muda yang mencolok. Dari kejauhan, Ciko justru tampak seperti permen raksasa di tengah dedaunan.
Sore harinya, Kancil mengajak Ciko bermain petak umpet. "Coba bersembunyi di atas batu besar itu. Pasti kamu akan berubah jadi abu-abu," usulnya. Ciko pun memanjat batu, memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu berkonsentrasi. Saat membuka mata, ia yakin penyamarannya berhasil. Namun, Kancil dan teman-temannya malah tertawa terbahak-bahak.
"Lho, kenapa kalian tertawa? Bukannya aku sudah jadi abu-abu?" tanya Ciko bingung.
"Kamu memang berdiri di atas batu abu-abu, Ciko. Tapi lihat tubuhmu! Kamu malah berubah jadi bergaris hitam putih seperti zebra," jawab Kancil sambil menunjuk tubuh Ciko.
Ciko segera menunduk dan melihat tubuhnya sendiri. "Aduh! Tadi aku malah membayangkan zebra yang lewat pagi tadi. Pantas saja salah warna!" katanya sambil menepuk jidat. Mendengar itu, semua temannya kembali tertawa. Mereka tidak mengejek Ciko, justru menganggap tingkahnya yang sering "salah kostum" membuat setiap permainan menjadi lebih seru. Ciko pun ikut tertawa lega. Sejak saat itu, ia sadar bahwa menjadi sedikit berbeda bukanlah masalah. Justru, keunikannya selalu berhasil membawa keceriaan bagi teman-temannya.
Setelah tertawa dan menikmati dongeng lucu, Si Kecil mungkin masih memiliki sedikit energi sebelum benar-benar mengantuk. Untuk membantunya lebih rileks, Bunda bisa mengajak Si Kecil melakukan permainan sederhana yang disebut Napas Balon Udara.
Caranya mudah, Bun:
Latihan pernapasan sederhana ini dapat membantu tubuh dan pikiran Si Kecil menjadi lebih rileks sehingga ia lebih siap untuk beristirahat dan tidur nyenyak.
Membacakan dongeng lucu sebelum tidur dapat menjadi cara sederhana untuk menemani Si Kecil mengakhiri hari dengan suasana yang menyenangkan. Selain menghadirkan tawa, cerita-cerita ringan juga dapat membantu Si Kecil merasa lebih rileks sekaligus menciptakan momen kebersamaan yang hangat antara Bunda dan Si Kecil.
Agar rutinitas sebelum tidur semakin lengkap, Bunda dapat melengkapinya dengan kebiasaan positif lainnya, salah satunya memberikan susu sebelum tidur sesuai dengan kebutuhan Si Kecil. Kebiasaan ini dapat menjadi bagian dari rutinitas malam yang membuat waktu istirahat terasa lebih nyaman.
Penasaran apa saja manfaat minum susu sebelum tidur dan bagaimana kebiasaan ini dapat mendukung rutinitas malam Si Kecil? Yuk, simak pembahasannya mengenai Manfaat Minum Susu Sebelum Tidur untuk Si Kecil.
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel 5 Dongeng Lucu Sebelum Tidur untuk Temani Malam Si Kecil
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?