Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.
dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.
Salah satu cara menjaga imun tubuh Si Kecil agar tidak gampang tertular virus di sekolah adalah dengan merawat kesehatan ususnya. Sebagian besar jaringan sistem imun, angka yang sering dikutip sekitar 70 persen, justru berkumpul di saluran cerna. Jadi usus yang sehat membuat tubuh anak lebih siap mengenali dan melawan virus yang berseliweran di kelas.
Bunda pasti pernah mengalaminya. Si Kecil baru beberapa minggu masuk sekolah, lalu bergantian pilek, batuk, dan izin tidak masuk. Rasanya seperti baru sembuh sudah sakit lagi. Itu bukan tanda Bunda kurang menjaga. Anak yang mulai berbaur dengan banyak teman memang lebih sering bertemu kuman, dan tubuhnya butuh dukungan ekstra dari dalam, bukan sekadar perlindungan dari luar.
Sekolah itu tempat anak belajar banyak hal, termasuk berkenalan dengan virus dan bakteri baru. Si Kecil berbagi meja, mainan, pegangan pintu, dan kamar mandi dengan puluhan teman. Tangan kecil yang sering masuk ke mulut atau mengucek mata jadi jalan pintas kuman untuk berpindah.
Ada satu hal yang sering bikin orang tua lega setelah memahaminya, yaitu sistem imun anak memang masih berkembang. Tubuh Si Kecil sedang menyusun “memori” terhadap kuman yang ditemuinya, dan proses itu wajar membuatnya beberapa kali jatuh sakit di tahun pertama sekolah. Bukan berarti daya tahan tubuhnya lemah. Bunda bisa mengenali saat pertahanan tubuhnya sedang menurun dari tanda yang sederhana:
Tanda seperti ini mengingatkan kita untuk membangun pertahanan dari dalam, lewat tidur, makanan, dan pencernaan yang terjaga. Kalau Si Kecil demam tinggi, sakit berhari-hari, atau tampak lemas tidak seperti biasanya, sebaiknya periksakan ke dokter anak, jangan menebak sendiri.
Usus bukan hanya tempat mencerna makanan. Di dindingnya ada jaringan limfoid yang disebut GALT, dan di sinilah sebagian besar sel imun tubuh berkumpul serta belajar membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak (Mörbe et. al., 2021). Artinya, kondisi pencernaan anak ikut menentukan seberapa baik tubuhnya menghadapi virus sehari-hari.
Kuncinya ada pada keseimbangan bakteri di dalam usus. Saat bakteri baik mendominasi, mikrobiota usus tetap stabil dan sistem imun bisa bekerja lebih optimal. Ketika keseimbangan itu terganggu, tubuh jadi kurang sigap saat bertemu kuman. Di sinilah peran kombinasi bakteri baik seperti Triple Bifidobacterium. Bifidobacterium adalah kelompok bakteri menguntungkan yang membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, sehingga saluran cerna Si Kecil lebih sehat dan lebih siap menopang kerja sistem imun saat ia berbaur di sekolah.
Bakteri baik tidak bisa bertahan tanpa asupan yang tepat. Mereka butuh “makanan” khusus supaya bisa tumbuh dan tetap dominan di usus. Makanan inilah yang disebut Prebiotik.
Prebiotik adalah serat khusus yang tidak dicerna tubuh, tapi difermentasi oleh bakteri baik di saluran cerna. Kajian ilmiah menunjukkan galakto-oligosakarida atau GOS membantu pertumbuhan bakteri menguntungkan seperti Bifidobacterium di usus (Ambrogi et. al., 2023). Ketika bakteri baik tercukupi makanannya, populasinya tetap dominan dan mikrobiota usus lebih seimbang. Mikrobiota yang seimbang inilah yang membantu daya tahan tubuh Si Kecil tetap terjaga di tengah jadwal sekolah yang padat. Anak yang pencernaannya sehat cenderung lebih bertenaga dan tidak mudah tumbang saat tubuhnya mulai terasa kurang fit.
Imun yang kuat dibangun dari rutinitas sederhana yang dijalani konsisten, bukan dari satu cara instan. Inilah yang bisa Bunda lakukan bersama Si Kecil setiap hari:
Tidak semua hari akan berjalan mulus, dan itu wajar. Bagian yang sering bikin orang tua bingung adalah memilih harus mulai dari mana. Mulailah dari dua hal yang paling mungkin Bunda jaga konsisten, biasanya tidur dan pola makan, lalu sisanya menyusul.
Pencernaan yang sehat juga memengaruhi seberapa baik tubuh menyerap NUTRISI penting, termasuk untuk otak dan energi Si Kecil. Saat penyerapan berjalan lancar, anak punya bahan yang cukup untuk berpikir, bermain, dan mengikuti pelajaran sepanjang hari. DHA dan Sphingomyelin adalah dua NUTRISI yang berkaitan dengan perkembangan otak dan fungsi belajar anak. Keduanya akan lebih mudah dimanfaatkan tubuh ketika saluran cerna bekerja optimal, sehingga daya tahan tubuh dan fokus belajar saling menopang.
Hari pertama sekolah memang sering datang bersama hidung meler dan beberapa hari absen. Tapi tubuh yang siap dibangun jauh sebelum bel masuk berbunyi, dari piring makan, jam tidur, dan usus yang Bunda jaga setiap hari. Menjaga daya tahan tubuh anak tidak cukup dari luar saja. Kebersihan dan menghindari kontak dengan kuman itu penting, tapi pertahanan yang sesungguhnya dibangun dari dalam, yaitu dari saluran cerna yang sehat dan asupan NUTRISI yang tepat setiap hari. Keduanya bagian dari pilar NUTRISI yang menopang tumbuh kembang Si Kecil.
Untuk anak usia 1 tahun ke atas, susu pertumbuhan bisa menjadi salah satu pelengkap pola makan bergizi seimbang, bukan pengganti makanan utama. Kombinasi Triple Bifidobacterium, Prebiotik, DHA, dan Sphingomyelin dapat membantu mendukung kesehatan pencernaan sekaligus menjaga daya tahan tubuh Si Kecil. Bunda bisa mempelajari pilihan yang sesuai untuk usia 1 sampai 3 tahun di sini: Menjaga Kesehatan Pencernaan Si Kecil dengan Morinaga Chil Kid Platinum.
Referensi
Konten Belum Tersedia
Mohon maaf, halaman untuk artikel Cara Menjaga Imun Tubuh Anak Saat Mulai Sekolah
belum tersedia untuk bahasa inggris. Apakah Bunda dan Ayah ingin melihat artikel lainnya dengan kategori yang sama ?