Parenting Parenting

Cara Tepat Mengatasi Anak Suka Memukul Tanpa Harus Ikut Marah

Morinaga ♦ 2 Juli 2026
Cara Tepat Mengatasi Anak Suka Memukul Tanpa Harus Ikut Marah

Cara mengatasi anak yang suka memukul dan suka melempar adalah tetap tenang, tidak membalas dengan kemarahan, pindahkan ia ke tempat yang lebih sepi, dan akui perasaannya dengan kata-kata sederhana sebelum menjelaskan bahwa memukul tidak boleh. Kunci utamanya adalah jangan menambah suhu emosi di puncaknya, karena otak rasional Si Kecil saat itu memang sedang tidak optimal.

Mengapa Anak Suka Memukul dan Melempar?

Perilaku anak suka memukul pada usia 18 bulan sampai 3 tahun adalah hal yang umum dalam perkembangan, bukan tanda bahwa Si Kecil nakal atau pola asuh Bunda salah arah. Kemampuan bicaranya belum sepadan dengan intensitas emosinya. Saat ia frustrasi, marah, atau kehilangan kendali atas situasi, memukul kadang menjadi satu-satunya cara yang ia tahu untuk mengeluarkan rasa itu.

Bagian otak yang mengatur kontrol impuls, terutama prefrontal cortex, juga masih sangat awal perkembangannya di usia balita. Yuliyanti dan kolega (2023) menelusuri hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan penanganan temper tantrum dan menemukan bahwa pemahaman tentang akar penyebab perilaku ini sangat memengaruhi cara orang tua merespons. Memahami konteks ini saja sudah membantu Bunda merespons dengan lebih tenang.

Tanda Awal Sebelum Emosi Si Kecil Memuncak

Perilaku memukul jarang muncul tiba-tiba. Biasanya ada sinyal yang bisa Bunda tangkap, jika cukup peka.

  • Lebih rewel dari biasanya tanpa pemicu yang jelas.
  • Menolak instruksi sederhana yang biasanya ia ikuti tanpa ribut.
  • Mulai melempar benda-benda kecil, biasanya mainan terdekat.
  • Nada suara semakin tinggi atau mulai menangis dengan intensitas yang naik.
  • Tubuh terlihat kaku atau gerakan menjadi cepat dan tidak terkoordinasi.

Saat Bunda menangkap satu atau lebih dari sinyal ini, langkah intervensi paling awal biasanya yang paling efektif: ajak pindah aktivitas, tawarkan minum, alihkan ke ruangan yang lebih tenang sebelum suhu emosinya naik ke puncak.

Cara Menenangkan Anak Tanpa Memperburuk Keadaan

Saat memukul sudah terjadi, beberapa pendekatan berikut konsisten muncul dalam panduan perkembangan anak dan terbukti membantu menurunkan intensitas peristiwa berikutnya.

Tetap Tenang Sebagai Contoh untuk Si Kecil

Anak balita belajar paling banyak dari apa yang ia lihat. Saat Bunda merespons dengan bentakan atau pukulan balasan, yang Si Kecil pelajari adalah bahwa cara seperti itu sah dilakukan. Tarik napas dalam-dalam sejenak. Suara yang pelan dan tubuh yang tenang menjadi role model langsung tentang cara mengelola emosi.

Akui Perasaan, Tegaskan Batasan

Validasi perasaan Si Kecil dengan kalimat sederhana, misal “kamu lagi marah ya karena tadi temannya menyalip antrean?”. Setelah ia merasa didengar, baru tegaskan batas perilakunya: tapi memukul tidak boleh, sakit. Dua langkah ini, validasi dan batasan, perlu hadir bersamaan agar tidak melahirkan bingung antara empati dan disiplin.

Ajak Bicara Setelah Kondisinya Benar-benar Reda

Diskusi tentang perilaku jauh lebih efektif dilakukan setelah Si Kecil tenang, bukan di puncak emosi. Pilih momen netral seperti saat makan malam atau menjelang tidur. Tanyakan dengan lembut apa yang membuat ia marah tadi sore, dan bantu ia menemukan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan itu.

Tetapkan Batasan dengan Konsistensi

Konsisten adalah kata kunci. Aturan tentang memukul harus tetap sama di rumah, di taman, di rumah nenek, dan di pesta ulang tahun. Saat Bunda goyah karena tidak enak di depan orang lain, Si Kecil belajar bahwa aturan itu bisa ditawar.

Dorong Permintaan Maaf Tanpa Paksaan

Setelah Si Kecil benar-benar reda, ajak ia melihat dampak perilakunya. Dorong, bukan paksa, untuk meminta maaf. Jika ia masih ragu, Bunda bisa mencontohkan dengan mengucapkan maaf bersama-sama. Pengalaman empati ini membangun pondasi sosial emosional yang akan ia bawa seumur hidup.

Membantu Si Kecil Tumbuh dengan Kecerdasan Emosional yang Kuat

Perilaku memukul adalah fase yang bisa dilewati lebih mulus saat Bunda memahami akar penyebabnya dan merespons dengan konsisten. Kemampuan mengelola emosi dan mengekspresikan perasaan secara sehat adalah bagian dari pembelajaran sosial emosional yang dibangun setiap hari, bukan dalam semalam. Setiap percakapan yang Bunda lakukan dengan sabar adalah bagian dari ATENSI yang ikut membentuk kepribadiannya.

Untuk panduan menyeluruh tentang mendukung perkembangan sosial emosional Si Kecil, Bunda bisa cek di sini: Pentingnya Pembelajaran Sosial dan Emosional bagi Si Kecil. Si Kecil yang cerdas secara emosional adalah Si Kecil yang lebih mudah beradaptasi, di kelas maupun di luarnya.

Referensi

  • Yuliyanti, E., Al Hasbi, H., Sutanta, S., & Sari, I. W. (2023). Hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan penanganan temper tantrum pada anak usia balita. Jurnal Kebidanan, 12(2), 182-191. https://ejurnal.stikeseub.ac.id/index.php/jkeb/article/view/646 
  • Masitah, M. (2024). Strategi orang tua dalam mengasuh anak usia dini yang berperilaku tantrum [Skripsi, Universitas Islam Negeri Mataram]. Repositori UIN Mataram.
  • Moriguchi, Y., & Hiraki, K. (2013). Prefrontal cortex and executive function in young children: A review of NIRS studies. Frontiers in Human Neuroscience, 7, 867. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3865781/