Gizi & Nutrisi Gizi & Nutrisi

Kenapa anak makan lahap tapi berat badan tidak naik?

Morinaga
Morinaga ♦ 12 Agustus 2026

Ditinjau oleh dr. Reza Fahlevi, Sp.A

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis anak untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

dr. Reza Fahlevi, Sp.A

About the author

dr. Reza Fahlevi, Sp.A adalah seorang spesialis anak yang berdedikasi dan berpraktik di beberapa rumah sakit terkemuka di Jakarta. Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran Spesialis Anak dari Universitas Indonesia (UI). Sebagai anggota aktif dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Reza dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan anak yang berbasis bukti (evidence-based) kepada masyarakat.

Kenapa anak makan lahap tapi berat badan tidak naik?

Anak yang makan lahap tapi berat badannya tidak naik biasanya mendapat energi dan protein yang belum cukup padat untuk kebutuhannya, membakar banyak energi lewat aktivitas, atau mengalami gangguan yang menghambat penyerapan gizi, seperti infeksi berulang, cacingan, dan intoleransi makanan. Pemantauan rutin di grafik pertumbuhan membantu Bunda dan dokter anak menilai apakah kondisinya perlu ditangani.

Situasi ini sering membingungkan, karena piring Si Kecil selalu habis dan camilannya jalan terus, tetapi angka di timbangan posyandu bulan ini sama saja dengan bulan lalu. Rasa cemas itu wajar. Pada banyak anak, penyebabnya bisa ditelusuri dan diperbaiki bersama dokter anak tanpa langkah yang rumit.

Kenapa anak makan lahap tapi berat badan tidak naik?

Berat badan bertambah ketika energi yang masuk dan benar-benar terserap lebih besar daripada energi yang dipakai tubuh untuk bergerak, melawan penyakit, dan tumbuh. Porsi yang banyak belum tentu berarti energinya cukup. Semangkuk besar nasi dengan sayur bening memang membuat perut penuh, tetapi kalori dan proteinnya relatif sedikit untuk anak yang sedang aktif.

Secara umum ada tiga jalur yang membuat berat badan anak susah naik. Asupannya belum cukup padat gizi, kebutuhan energinya sedang tinggi (misalnya karena sangat aktif atau sedang melawan infeksi), atau makanan sudah masuk tetapi tidak terserap dengan baik karena ada gangguan di saluran cerna (Nemours KidsHealth, 2026a). Sering kali beberapa faktor kecil bertumpuk sekaligus, dan kadang dokter pun tidak menemukan satu penyebab tunggal.

Kenaikan berat badan yang pelan juga tidak otomatis berarti ada masalah. Tiap anak punya ritme tumbuh sendiri, jadi arah kurva pertumbuhannya dari bulan ke bulan lebih bermakna dibanding satu angka timbangan.

Penyebab dari piring dan jadwal makan

Penyebab yang paling sering justru ada di menu sehari-hari. Piring yang didominasi nasi dan sayur berkuah, dengan sedikit lauk hewani dan lemak, membuat anak cepat kenyang sebelum kebutuhan energi dan proteinnya terpenuhi. Camilan manis atau minuman kemasan yang diberikan dekat jam makan juga mengurangi ruang di perut untuk makanan utama.

Jumlah susu dan jus perlu ikut dihitung. Panduan NICE tentang gangguan pertumbuhan pada anak mengingatkan bahwa terlalu banyak minuman padat energi, termasuk susu, bisa menurunkan nafsu anak terhadap makanan lain (NICE, 2017). Anak yang terlihat lahap minum kadang justru menyisakan lauk dan sayurnya.

Tingkat aktivitas juga berpengaruh. Anak usia 1 sampai 3 tahun yang hampir tidak berhenti berlari dan memanjat membakar banyak energi setiap hari, dan kalau asupannya tidak ikut menyesuaikan, sisa energi untuk menambah berat badan menjadi tipis.

Gangguan pencernaan dan reaksi terhadap makanan

Kalau menu sudah cukup baik tetapi berat badan tetap jalan di tempat, dokter anak biasanya mulai menilai kondisi kesehatan Si Kecil. Diare yang berulang atau berlangsung lama, refluks, dan penyakit celiac dapat membuat tubuh sulit menyerap kalori dan zat gizi dari makanan. Sensitivitas terhadap makanan tertentu, misalnya intoleransi protein susu sapi, juga bisa mengganggu kenaikan berat badan (Nemours KidsHealth, 2026a).

Tanda yang patut dicatat antara lain diare, kembung, muntah, atau anak rewel setelah makan jenis makanan tertentu. Tulis polanya di buku catatan atau ponsel, lalu bawa catatan itu saat konsultasi. Sebaiknya Bunda tidak menghapus satu kelompok makanan dari menu atas inisiatif sendiri, karena langkah itu justru bisa mengurangi keragaman gizi yang ia butuhkan untuk tumbuh.

Bisakah cacingan dan infeksi berulang jadi penyebabnya?

Keduanya bisa menjadi penyebab. Tubuh memakai banyak energi saat melawan infeksi, sehingga anak yang sering batuk pilek atau diare bisa kesulitan menambah berat badan (Nemours KidsHealth, 2026a). Panduan NICE juga menyebut infeksi saluran kemih dan penyakit celiac sebagai kondisi yang perlu dipertimbangkan dokter saat menilai anak dengan pertumbuhan yang melambat (NICE, 2017). Setelah sembuh dari sakit, banyak anak butuh beberapa minggu untuk mengejar kembali berat badannya.

Cacingan sering terlewat karena gejalanya samar. Menurut WHO, cacing usus memakan jaringan tubuh termasuk darah sehingga anak kehilangan zat besi dan protein, dapat menurunkan nafsu makan, dan memperburuk penyerapan zat gizi (World Health Organization, 2023). WHO menganjurkan pemberian obat cacing secara berkala bagi anak prasekolah dan usia sekolah di daerah berisiko, jadi tanyakan jadwal obat cacing Si Kecil kepada bidan atau dokter.

Penyebab lain lebih jarang, tetapi tetap perlu diketahui. Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroid) bisa membuat berat badan anak turun (Nemours KidsHealth, 2026b), dan penyakit jantung, paru, atau gangguan hormon lain dapat meningkatkan kebutuhan kalori. Kondisi seperti ini hanya bisa dipastikan lewat pemeriksaan dokter, kadang dengan tes darah, urine, atau tinja.

Cara membaca grafik pertumbuhan di Buku KIA

Grafik pertumbuhan di Buku KIA atau KMS adalah alat paling sederhana untuk melihat apakah berat badan Si Kecil benar-benar bermasalah. Grafik untuk balita ini mengacu pada WHO Child Growth Standards, standar pertumbuhan anak usia 0 sampai 5 tahun yang memuat berat badan menurut umur, panjang atau tinggi badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan (World Health Organization, 2006).

Yang dilihat adalah arah titik-titiknya. Kurva yang naik mengikuti lengkung garis di sekitarnya adalah tanda yang baik, sedangkan kurva yang mendatar beberapa bulan berturut-turut atau turun memotong garis di bawahnya perlu dibicarakan dengan petugas posyandu atau dokter. Untuk anak di atas satu tahun, NICE menyebut penimbangan umumnya tidak perlu lebih sering dari sebulan sekali, karena menimbang terlalu sering lebih banyak menambah cemas daripada informasi (NICE, 2017).

Bawa Buku KIA setiap kali ke posyandu, puskesmas, atau dokter anak, supaya semua hasil penimbangan tercatat di satu tempat. Bunda juga bisa mencatat hasil timbang di alat pemantau tumbuh kembang Parenthings untuk melihat polanya di rumah.

Kapan Si Kecil perlu diperiksa dokter anak

Segera periksakan Si Kecil kalau berat badannya turun cepat, kurvanya terus menurun melewati garis pertumbuhan, atau ia juga terlihat lambat bertambah tinggi. Tanda lain yang perlu diperiksa adalah diare atau muntah yang terus berulang, demam yang sering kambuh, anak tampak lemas dan pucat, atau berat badan tetap tidak naik meski pola makan sudah diperbaiki beberapa bulan. NICE menyebut tanda penyakit yang mendasari, kurangnya respons terhadap perbaikan pola makan, pertumbuhan tinggi badan yang lambat, dan penurunan berat badan yang cepat sebagai alasan merujuk ke dokter spesialis anak (NICE, 2017).

Saat konsultasi, dokter biasanya menanyakan riwayat makan, riwayat sakit, dan pola buang air besar, lalu mengukur berat dan tinggi badan untuk diplot di grafik. NICE menyarankan orang tua mencatat jenis dan jumlah makanan anak beserta situasi di waktu makan selama beberapa hari, karena catatan seperti ini membantu dokter menyusun rencana yang tepat (NICE, 2017). Membawa anak ke dokter tidak berarti Bunda gagal, karena dokter bisa melihat gambaran yang tidak tampak dari rumah.

Langkah di rumah supaya berat badannya naik

Jadwal makan yang teratur membantu rasa lapar Si Kecil lebih terbaca. NICE mencontohkan pola tiga kali makan utama dan dua kali selingan sehari, dengan suasana makan yang santai, makan bersama keluarga, membiarkan anak makan sendiri meski berantakan, dan menghindari paksaan saat makan (NICE, 2017). Usahakan waktu makan tidak terlalu singkat dan tidak berlarut-larut (NICE, 2017).

Isi setiap piring dengan makanan yang padat gizi. Tambahkan lauk hewani seperti telur, ikan, ayam, atau hati ayam di setiap makan utama, lalu tambahkan lemak sehat seperti minyak, santan, mentega, atau alpukat ke bubur dan lauk agar energinya naik tanpa porsi harus membesar. Camilan seperti pisang, roti dengan selai kacang, keju, atau tempe goreng lebih bermakna daripada keripik atau biskuit manis. Ide menu bisa Bunda lihat di kumpulan resep Morinaga.

Berikan minuman, termasuk susu, setelah makan atau di sela waktu makan, dan jangan menjelang jam makan supaya perut tidak keburu penuh. Untuk anak usia 1 sampai 3 tahun, susu pertumbuhan seperti Morinaga Chil Kid Platinum bisa menjadi salah satu pelengkap menu dalam jumlah wajar, tetapi tidak menggantikan makanan utama dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter bila berat badan tetap tidak naik. Fokus NUTRISI Si Kecil tetap ada di makanan keluarga yang beragam dan rutinitas makan yang konsisten, yang pengaruhnya biasanya baru terlihat di grafik setelah beberapa bulan.

Referensi

  • Nemours KidsHealth. (2026a). Failure to thrive (Reviewed by R. C. Gupta). https://kidshealth.org/en/parents/failure-thrive.html
  • National Institute for Health and Care Excellence. (2017). Faltering growth: Recognition and management of faltering growth in children (NICE guideline NG75). https://www.nice.org.uk/guidance/ng75/chapter/Recommendations
  • World Health Organization. (2023, January 18). Soil-transmitted helminth infections [Fact sheet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/soil-transmitted-helminth-infections
  • Nemours KidsHealth. (2026b). Hyperthyroidism (Reviewed by A. W. Gannon). https://kidshealth.org/en/parents/hyperthyroidism.html
  • World Health Organization. (2006). WHO child growth standards. https://www.who.int/tools/child-growth-standards