Parenting Parenting

Anak Suka Melempar Barang? Berikut Cara Mengatasinya

Morinaga ♦ 13 Agustus 2026
Anak Suka Melempar Barang? Berikut Cara Mengatasinya

Menghadapi anak yang suka melempar barang sebaiknya dilakukan dengan tenang, konsisten, dan tanpa langsung memarahi Si Kecil. Di usia dini, melempar sering menjadi cara anak mengeluarkan emosi yang belum bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. Bunda bisa menenangkan anak lebih dulu, bantu ia menamai perasaannya, lalu arahkan energinya ke kegiatan yang lebih aman.

Bunda mungkin sudah hafal adegannya. Mainan dilempar saat permintaannya tidak dituruti, atau gelas didorong jatuh ketika Si Kecil lelah dan mulai rewel. Reaksi pertama biasanya kaget, lalu ingin segera melarang. Padahal perilaku ini punya alasan yang masuk akal, dan justru di situ letak peluang Bunda untuk membantunya belajar.

Penyebab Anak Melempar Barang Saat Marah

Melempar barang adalah perilaku yang cukup umum ditemui pada anak usia dini, terutama di masa batita. Pada rentang usia 1 sampai 3 tahun, kemampuan mengelola emosi dan berbahasa Si Kecil masih dalam tahap awal perkembangan. Oleh karena itu, dorongan naluriah untuk bertindak secara fisik sering kali datang jauh lebih cepat. Hal ini mendahului kemampuannya untuk mencerna situasi melalui proses berpikir atau berbicara.

Bagian otak anak yang bertugas mengatur kontrol impuls dan emosi bernama korteks prefrontal. Bagian krusial ini nyatanya memang belum matang dan belum berfungsi secara sempurna di usia tersebut. Akibatnya, emosi yang meledak-ledak sangat gampang langsung berubah wujud menjadi tindakan fisik. Sebuah tinjauan medis menjelaskan bahwa kemampuan regulasi emosi anak hanya akan tumbuh secara perlahan seiring berjalannya waktu. Anak juga masih sangat bergantung pada peran pendampingan orang dewasa di sekitarnya (Harrington et. al., 2020).

Penyebab spesifik anak melempar barang tentu bisa bermacam-macam bergantung pada kondisinya saat itu. Berikut adalah beberapa faktor utama yang sering kali memicu anak meluapkan emosinya secara destruktif:

  • Frustrasi terselubung: Si Kecil merasa amat kesal karena keinginannya belum terpenuhi atau belum sanggup ia utarakan secara jelas.
  • Mencari perhatian: Tindakan ini sering dilakukan sebagai bentuk protes ketika anak merasa diabaikan oleh orang di sekitarnya.
  • Faktor fisik: Anak sedang merasa sangat kelelahan, lapar, mengantuk, atau merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya.
  • Rangsangan berlebih: Suasana lingkungan yang terlalu ramai dan bising sangat mudah memicu ketidaknyamanan sensorik bagi Si Kecil.

Ada satu prinsip penting yang harus selalu dipegang teguh oleh Bunda di masa ini. Sikap anak yang melempar barang sama sekali bukan indikator bahwa ia adalah anak nakal. Ia justru sedang memberi sinyal kuat bahwa ada emosi mengganjal yang butuh ia utarakan. Ia membutuhkan bantuan dan tuntunan penuh kasih dari Bunda untuk perlahan mengenali emosi tersebut.

Cara Menghadapi Anak yang Suka Melempar Barang

Cara Bunda merespons kejadian krisis ini sangat memengaruhi bagaimana Si Kecil belajar mengelola emosinya kelak. Anak usia dini pada dasarnya selalu meniru teknik regulasi dari sosok orang dewasa di dekatnya. Oleh karena itu, tingkat ketenangan Bunda adalah percontohan pertama yang paling cepat ia serap.

Tenangkan Diri Dulu Sebelum Menegur

Saat anak sedang melempar barang atau tantrum, nada suara dan ekspresi wajah Bunda memberikan pengaruh yang sangat besar. Respons Bunda yang terkesan keras atau sering membentak justru sering membuat anak makin sulit merasa tenang. Hal ini terjadi karena anak secara tidak sadar ikut terpancing oleh luapan emosi negatif yang ia tangkap dari Bunda.

Oleh karena itu, cobalah turunkan dulu intensitas situasi yang sedang memanas tersebut secara perlahan. Tarik napas panjang, samakan posisi tubuh dengan tinggi mata Si Kecil, lalu tunggulah sejenak dengan sabar. Beri kelonggaran waktu sampai gelombang emosinya sedikit mereda sebelum Bunda mulai memberikan arahan. Anak yang merasa ditemani saat bersedih biasanya akan jauh lebih cepat kembali tenang secara alami.

Bantu Anak Menyebut Apa yang Ia Rasakan

Banyak perilaku impulsif dan agresif muncul murni karena anak belum memiliki kosakata yang pas untuk perasaannya. Di titik inilah Bunda bisa mengambil peran aktif dengan membantu menamai wujud emosi tersebut untuknya. Cobalah melontarkan pertanyaan empati seperti, “Kamu kesal ya karena mainan baloknya susah dipasang?” atau “Adik merasa kecewa karena harus berhenti main?”.

Praktik menamai perasaan ini ternyata terbukti memiliki efek yang sangat signifikan untuk menenangkan anak. Penelitian ahli menunjukkan bahwa praktik mengubah emosi menjadi susunan kata sangatlah berguna bagi psikologis anak. Cara ini mampu mengurangi aktivitas di amigdala, yakni titik di dalam otak yang aktif saat kita merasa marah atau cemas (Lieberman et. al., 2007). Bagi Si Kecil, kebiasaan positif ini sangat sukses melatihnya mengenali aneka ragam emosi sejak usia sedini mungkin.

Alihkan Energinya ke Kegiatan yang Aman

Anak usia dini sejatinya selalu dibekali dengan jumlah cadangan energi harian yang luar biasa besar. Energi ekstra yang belum habis ini kadang meluap secara tidak terkendali lewat berbagai macam gerakan fisik. Daripada sekadar memberikan larangan keras, berikanlah ia saluran alternatif yang lebih sehat untuk berekspresi.

Ada beberapa ide menyalurkan energi yang sederhana dan bisa langsung Bunda terapkan di rumah. Ajak ia bermain lempar dan tangkap bola yang empuk di area halaman rumah yang aman. Bunda juga bisa memintanya meremas bongkahan playdough, atau menggambar bebas menggunakan krayon di atas kertas berukuran besar. Apabila anak butuh ruang gerak luas, ajaklah ia sekadar berlari atau melompat sebentar di taman.

Buat Aturan Sederhana dan Konsisten

Anak senantiasa membutuhkan batasan aturan yang jelas dan pasti di dalam kesehariannya. Panduan aturan ini akan memandunya untuk mengetahui secara persis perbuatan mana yang tergolong aman dilakukan. Aturan yang paling efektif untuk anak batita biasanya berkalimat pendek, cukup logis, dan sangat mudah diingat. Aturan dasar ini wajib diterapkan dengan tingkat konsistensi yang sangat ketat oleh semua anggota keluarga di rumah.

Selalu sampaikan aturan ini dengan bahasa lugas yang mudah dipahami oleh Si Kecil kapan pun. Bunda bisa membuat batasan penegasan seperti, “Bola karet boleh dilempar ke keranjang, tapi piring makan sama sekali tidak boleh.” Kalau anak nekat melempar piringnya, berikan ia konsekuensi ringan yang diterapkan secara berulang tanpa pandang bulu. Sikap Bunda yang menyita mainannya sementara akan jauh lebih ampuh untuk memberinya pemahaman dibandingkan sekadar membentak.

Anak yang Belajar Mengelola Emosi Tumbuh Lebih Percaya Diri

Ketika Si Kecil mulai mahir mengenali emosinya, ia akan lebih mudah menyalurkannya dengan cara yang sehat. Manfaat jangka panjang dari kematangan ini akan terbawa jauh melampaui fase balitanya. Anak akan tumbuh menjadi individu yang jauh lebih asyik saat bermain dan sangat kooperatif mengikuti aturan. Ia juga akan terampil dalam menyesuaikan dirinya saat dihadapkan pada situasi pergaulan yang baru.

Kemampuan mengendalikan emosi ini rupanya juga amat jitu dalam membangun level rasa percaya diri anak. Anak yang telanjur mahir menyelami perasaannya sendiri cenderung lebih gampang merasakan empati pada orang di sekitarnya. Keterampilan penguasaan sosial emosional luar biasa inilah yang kelak menjadi fondasi karakter terkuatnya. Di sinilah letak andil yang paling besar bagi peran seorang Bunda. Pendampingan yang sabar akan turut membentuk pola kebiasaan emosional yang positif sampai ia beranjak dewasa kelak. Kematangan mental di fase ini merupakan elemen krusial dari pilar POTENSI dalam menuntaskan tumbuh kembang Si Kecil.

Mood yang Nyaman Membantu Anak Lebih Kooperatif

Bunda perlu memahami bahwa kemampuan anak menahan diri tidak akan terbentuk dengan sendirinya. Tingkat kestabilan mood, perasaan nyaman secara fisik, dan tingkat fokusnya ikut menjadi penentu yang sangat besar. Kondisi prima ini yang menentukan seberapa besar pertahanan anak agar tidak mudah terpancing amarah. Anak yang cukup waktu tidur dan perutnya kenyang terbukti jauh lebih jarang meledak emosinya dibandingkan anak kelelahan.

Sebuah fakta medis menegaskan bahwa kenyamanan tubuh selalu berkaitan erat dengan kondisi di saluran pencernaan anak. Ada sebuah jalur komunikasi instan dua arah antara usus dan otak yang dinamakan gut-brain axis. Kajian di jurnal Gastroenterology memaparkan bahwa mikrobiota saluran cerna turut mendikte jalur sinyal terkait kestabilan mood (Margolis et. al., 2021).

Serotonin di sini berperan amat dominan sebagai salah satu jembatan penghubung antara saraf pencernaan dan otak. Sebagian besar kapasitas produksi serotonin tubuh rupanya memang berlangsung secara sentral di organ saluran cerna. Karenanya, terjaganya keseimbangan bakteri baik selalu menjadi kunci penentu kelancaran proses ini (Layunta et. al., 2021). Memastikan asupan menu harian anak selalu kaya serat dan tinggi NUTRISI menjadi sebuah langkah preventif wajib dari Bunda. Hal ini akan memastikan Si Kecil terbebas dari sensasi perut tidak nyaman penyebab tantrum.

Dukungan NUTRISI Harian untuk Keseimbangan Emosi Si Kecil

Fase suka melempar barang pada anak ini pasti akan memudar seiring dengan pertambahan usianya. Puncak kematangan ini akan ditandai dengan semakin lantangnya ia merangkai kata demi meluapkan emosi hatinya secara mandiri. Anak balita sama sekali tidak memerlukan barikade larangan yang keras dari orang dewasa di rumahnya. Ia hanya menanti uluran tangan penuh kasih Bunda yang sabar dan hadir menemani hari-hari belajarnya. 

Pemberian susu pertumbuhan bisa menjadi alternatif paling ideal untuk menyempurnakan asupan harian gizi seimbang anak. Meski bernutrisi tinggi, susu tidak ditujukan untuk menggantikan kedudukan makanan padat wajib setiap harinya. Beberapa komponen gizi seperti alpha-lactalbumin terbukti sangat esensial bagi pemenuhan triptofan harian tubuh. Triptofan merupakan bahan baku utama bagi kelancaran hormon serotonin. Asupan bernutrisi ini dikaitkan erat dengan penciptaan suasana hati yang gembira pada tubuh orang dewasa. Walaupun pengujian pada populasi anak kecil masih terus dikembangkan, khasiatnya tetap tidak bisa dipandang sebelah mata (Layman et. al., 2018).

Bunda tentunya masih bisa menggali lebih dalam soal serba-serbi NUTRISI dan peranan saluran cerna ini. Jelajahi informasi lengkap mengenai pilihan dukungan yang pas bagi anak usia 1–3 tahun mengenai Morinaga Chil Kid Platinum untuk Kecerdasan dan Daya Tangkap Si Kecil. Jangan pernah ragu untuk meminta diagnosis dokter anak apabila Si Kecil mendadak sering rewel akibat gangguan buang air besar yang menyiksa.

Referensi

  • Harrington, E. M., Trevino, S. D., Lopez, S., & Giuliani, N. R. (2020). Emotion regulation in early childhood: Implications for socioemotional and academic components of school readiness. Emotion, 20(1), 48-53.
  • Lieberman, M. D., Eisenberger, N. I., Crockett, M. J., Tom, S. M., Pfeifer, J. H., & Way, B. M. (2007). Putting feelings into words: Affect labeling disrupts amygdala activity in response to affective stimuli. Psychological Science, 18(5), 421-428.
  • Margolis, K. G., Cryan, J. F., & Mayer, E. A. (2021). The microbiota-gut-brain axis: From motility to mood. Gastroenterology, 160(5), 1486-1501.
  • Layunta, E., Buey, B., Mesonero, J. E., & Latorre, E. (2021). Crosstalk between intestinal serotonergic system and pattern recognition receptors on the microbiota-gut-brain axis. Frontiers in Endocrinology, 12, 748254.
  • Layman, D. K., Lonnerdal, B., & Fernstrom, J. D. (2018). Applications for alpha-lactalbumin in human nutrition. Nutrition Reviews, 76(6), 444-460.