Artikel Terbaru Artikel Terbaru

7 Cara Tepat Pencegahan Stunting pada Si Kecil

Morinaga Platinum ♦ 17 Februari 2022

7 Cara Tepat Pencegahan Stunting pada Si Kecil

Stunting merupakan gangguan kondisi pertumbuhan yang umumnya ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibanding anak seusianya. Munculnya masalah ini bisa disebabkan kurangnya nutrisi selama masa kehamilan dan juga di saat awal kehidupan Si Kecil.

Dampak stunting juga dapat mengganggu perkembangan otak sehingga kecerdasan dan kemampuan kognitifnya kurang berkembang dengan baik. Untuk menghindari masalah ini pada Si Kecil, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat Bunda terapkan sejak dini. Ingin tahu solusi lengkapnya? Yuk baca artikel ini. 

Stunting Terjadi pada Usia Berapa?

Stunting umumnya terjadi pada Si Kecil yang berusia di bawah 5 tahun. Munculnya gangguan ini mayoritas disebabkan oleh gizi buruk dan sering mengalami infeksi secara berulang terutama di 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan). Dampak terjadinya masalah ini pada Si Kecil akan menyebabkan gangguan kognitif, kemampuan otak kurang optimal, gangguan berat badan, dan rentan mengalami penyakit kronis.

Ciri-ciri Anak Stunting

Secara umum, ciri-ciri anak stunting bisa dilihat dari kondisi tubuhnya yang cenderung pendek ketika mencapai usia sekitar 2 tahun. Jika dibandingkan dengan teman sebaya yang memiliki jenis kelamin sama, perawakan anak penderita stunting terlihat lebih pendek dan kurus. Kendati demikian, tidak semua anak yang memiliki perawakan pendek masuk dalam kategori penderita stunting ya, Bun!

Inilah beberapa ciri-ciri anak stunting yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi penderitanya:

  • Berat badan yang tidak mengalami kenaikan, bahkan cenderung menurun
  • Mudah terserang penyakit infeksi
  • Tumbuh kembang anak lambat
  • Mengalami keterlambatan pertumbuhan gigi
  • Sulit fokus dan memiliki daya ingat rendah
  • Perawakan tubuh lebih pendek dibandingkan teman sebaya

Tanpa banyak disadari, ciri-ciri anak penderita stunting juga bisa dilihat ketika Si Kecil sudah tumbuh remaja atau dewasa. Selain pertumbuhannya yang tidak optimal, Si Kecil akan mengalami gangguan bicara, tingkat kecerdasan yang menurun hingga kesulitan belajar.

Penyebab Stunting pada Anak

Terlepas dari gizi buruk dan gangguan kesehatan ketika hamil, ada banyak faktor lain yang menjadi penyebab stunting pada anak di Indonesia. Berikut merupakan beberapa penyebabnya:

Keterbatasan Pelayanan Kesehatan

Salah satu penyebab stunting di Indonesia adalah keterbatasan pelayanan kesehatan. Walaupun zaman sudah semakin maju, pada kenyataannya tidak semua daerah di Indonesia memiliki layanan kesehatan yang memadai. Padahal, ketersediaan infrastruktur kesehatan bisa menjadi solusi untuk mengurangi stunting pada anak lewat deteksi penyakit dini atau edukasi yang diperlukan oleh orang tua ketika masa kehamilan.

Pengetahuan Orang tua yang Terbatas

Penyebab stunting pada anak berikutnya adalah keterbatasan ilmu dan pengetahuan dari orang tua. Di era digital seperti sekarang, informasi terkait kesehatan anak sebenarnya bisa diakses dengan lebih mudah. Fasilitas ini bisa menjadi pendukung berbagai informasi yang disampaikan oleh puskesmas atau posyandu yang tersebar di desa-desa. 

Kondisi Sanitasi Kurang Baik

Kesulitan dalam mengakses sanitasi dan air bersih juga bisa menjadi faktor pemicu stunting pada anak. Penyakit yang berpotensi menyebabkan infeksi bisa muncul dari pemanfaatan air sumur yang tercemar untuk kebutuhan minum dan masak sehari-hari. Tanda-tanda paling umum yang bisa terjadi yakni anak sering diare dan menderita cacingan, dampaknya asupan nutrisi di dalam tubuh Si Kecil tidak akan terserap secara optimal.

Infeksi Kronis

Infeksi merupakan penyakit yang sering mengganggu kesehatan anak usia dini. Cara melawannya yakni dengan meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil sehingga ia tidak mudah jatuh sakit. Apabila Si Kecil mengalami gejala infeksi dan tidak segera ditangani secara medis maka hal ini akan berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Resiko paling besar yang bisa terjadi salah satunya adalah stunting atau gizi buruk.

Malnutrisi

Dalam beberapa kasus, stunting terjadi disebabkan karena kekurangan suplai nutrisi dalam rentang waktu 1,000 hari pertama usia Si Kecil, dihitung sejak anak masih berada di dalam kandungan sampai dengan usia 2 tahun.

Pencegahan Stunting pada Anak

Cara mencegah stunting pada anak sebenarnya bisa dilakukan dalam dua tahap, yakni semenjak Si Kecil masih berada di dalam kandungan dan setelah anak lahir. Saat hamil, Bunda perlu memperhatikan asupan gizi serta menghindari kebiasaan buruk yang bisa mengganggu kesehatan ibu dan janin. Sementara untuk cara mencegah stunting setelah anak lahir bisa dilakukan dengan menerapkan berbagai kebiasaan berikut ini:

Mencukupi Kebutuhan Gizi 

Tidak hanya kebutuhan nutrisi anak yang harus dipenuhi, tapi juga kebutuhan gizi untuk ibu yang masih menyusui. Oleh sebab itu, orang tua wajib mencukupi kebutuhan gizi anak dengan lengkap. Selain mengoptimalkan menu harian, tambahkan juga susu serta vitamin yang baik untuk kesehatan.

Tercukupinya kebutuhan gizi tak hanya bagus sebagai pencegahan stunting, tetapi juga memiliki peran penting untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil, mulai dari menguatkan sistem imun, menjaga kesehatan tulang dan gigi, serta mengoptimalkan perkembangan otak. Untuk Bunda yang ingin tahu informasi lengkapnya, baca artikel berikut yuk: Peran Penting Terpenuhinya Kebutuhan Gizi pada Anak

Rutin Melakukan Pemeriksaan Kesehatan

Baik selama masa kandungan maupun ketika sudah lahir, pemeriksaan kesehatan wajib dilakukan secara rutin. Selain berfungsi untuk mendeteksi penyakit sejak dini, aktivitas ini juga penting dilakukan karena ada beberapa penyakit bawaan dari ibu yang bisa meningkatkan risiko terjadinya stunting.

Pemberian ASI Eksklusif

Dilansir dari laman IDAI, Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan terbukti mampu mendukung tumbuh kembang Si Kecil. Kandungan ASI yang terdiri dari berbagai macam nutrisi seperti protein, vitamin, lemak, dan antibodi juga mampu membantu melawan virus maupun bakteri agar tidak semakin berkembang. Cek kandungan ASI selengkapnya di sini: Kandungan ASI dan Manfaatnya untuk Kesehatan Bayi.

Memberikan Asupan Makanan Tambahan

Pemberian makanan tambahan (PMT) bisa Bunda lakukan ketika Si Kecil menginjak usia 6 bulan. PMT atau biasa disebut juga sebagai MPASI (Makanan Pendamping ASI) wajib diberikan untuk memenuhi berbagai kebutuhan gizi anak, sehingga proses pertumbuhan dan perkembangannya bisa lebih optimal.

Ikut Program Imunisasi Lengkap

Demi mencegah dan meminimalisir potensi terkena infeksi penyakit berbahaya, Bunda harus memberikan imunisasi kepada Si Kecil. Program imunisasi anak sendiri terdiri dari beberapa tahap, misalnya ketika Si Kecil masih berusia dibawah 1 tahun ada program imunisasi berupa 1 dosis hepatitis B, 4 dosis polio, 1 dosis campak, 1 dosis BCG atau tuberkulosis, dan 3 dosis imunisasi DPT (difteri, pertussis, tetanus) hepatitis. Cari tahu selengkapnya seputar imunisasi anak di artikel berikut ini: Imunisasi Anak: Manfaat, Jadwal, & Risiko Keterlambatannya

Menjalankan Sistem Pola Asuh yang Baik

Menjalankan pola asuh yang baik tidak kalah penting dari pemenuhan nutrisi. Pasalnya, lingkungan keluarga dan kebiasaan orang tua bisa menjadi faktor pemicu yang menghambat pertumbuhan Si Kecil.

Salah satu kesulitan pada sistem pola asuh ini ialah ketika Bunda sulit untuk menyapih Si Kecil dari ASI. Banyak kasus stunting ditemukan karena anak mengalami kekurangan nutrisi akibat lebih suka menyusu daripada memakan MPASI, padahal usianya sudah melebihi 1 tahun.

Ini sebenarnya bisa dicegah jika keluarga menerapkan pola asuh kolaborasi antara ibu dan ayah, di mana ayah dapat membantu mengalihkan anak dari ibu pada saat-saat ketika anak lebih ingin menyusu.

Dengan membantu mengalihkan perhatian anak dari payudara ibu, anak akan lebih cepat menyukai MPASI sehingga kebutuhan nutrisinya pun lebih banyak terpenuhi. Yuk, Bunda, ajak Ayah ikut belajar cara menyapih anak dari ASI di sini: Cara Menyapih Anak Usia 6 Bulan hingga 2 Tahun

Sebagai orang tua, Bunda bisa melengkapi pengetahuan terkait metode pola asuh anak yang baik serta memahami berbagai ilmu kesehatan anak. Pemahaman terkait hal ini sedikit banyak mampu membentuk kesadaran akan pentingnya ketercukupan nutrisi agar anak bebas dari stunting.

Faktor yang seringkali memicu buruknya pola asuh orang tua sendiri bisa disebabkan oleh jarak kehamilan yang masih terlalu dekat atau bisa juga karena kondisi mental orang tua masih terlalu muda.

Menjaga Kebersihan Sanitasi

Menjaga kebersihan air dan sanitasi menjadi salah satu tindakan tidak langsung untuk mencegah stunting. Lingkungan tempat tinggal yang bersih dan sehat tentu akan menjaga anak dari potensi serangan infeksi akibat virus maupun bakteri.

Stunting pada anak merupakan gangguan kesehatan yang saat ini menjadi salah satu perhatian di Indonesia. Kondisi ini bisa diperangi bersama-sama seiring meningkatnya kesadaran tentang pentingnya asupan gizi anak dari orang tua. Jika Bunda menemukan tanda-tanda bahwa Si Kecil mengalami kondisi ini, sebaiknya segera konsultasikan ke Puskesmas atau dokter terkait ya, Bun!

Selain itu, Bunda juga bisa mengupayakan agar asupan nutrisi Si Kecil terpenuhi sempurna, baik dengan menyediakan makanan bergizi maupun mengonsumsi susu pertumbuhan. Ingin tahu apa saja nutrisi yang diperlukan untuk Si Kecil saat masa balita? Yuk baca artikel ini: Daftar Nutrisi Tumbuh Kembang Anak yang Perlu Bunda Penuhi.

Referensi:

  • WHO. Stunting in a nutshell. Diakses pada tanggal 21 Maret 2023. https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell
  • Our World in Data. What is childhood stunting?. Diakses pada tanggal 21 Maret 2023. https://ourworldindata.org/stunting-definition
  • Kemkes. Mengenal Apa Itu Stunting. Diakses pada tanggal 21 Maret 2023. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1388/mengenal-apa-itu-stunting