Ketahui Yuk Gejala Kekurangan Vitamin pada Anak

Morinaga Platinum ♦ 1 Februari 2017

Ketahui Yuk Gejala Kekurangan Vitamin pada Anak

Kekurangan vitamin, sering disebut juga avitaminosis. Gejalanya bisa beragam, tergantung vitamin apa yang mengalami kekurangan asupannya.

Tahukah Bunda, kekurangan alias defisiensi vitamin pada Si Kecil bisa berdampak buruk pada tumbuhkembangnya. Selain itu, kesehatannya juga dapat terganggu. Banyak cara yang dapat Bunda gunakan untuk mengetahui apakah asupan vitamin Si Kecil sudah seimbang lho. Tetapi, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter gizi lho untuk mendapatkan hasil yang lebih valid.

Kasus defisiensi vitamin pada anak memang sering terjadi. Sebab, memang sulit menakar kecukupan vitamin dan mikronutrien lainnya dari menu makanan sehari-hari. Nah, supaya Bunda dapat memperkirakan apakah Si Kecil tercukupi kebutuhan vitaminnya, kenali tanda avitaminosis berikut ini.

Kekurangan Vitamin A

Defisiensi vitamin A terjadi pada anak-anak yang kekurangan ASI, kekurangan susu (setelah masa ASI eksklusifnya selesai), jarang makan kuning telur, buah, sayuran, dan hati.

Gejala kekurangan vitamin yang satu ini antara lain pertumbuhannya terhambat dan mudah mengalami infeksi. Kulitnya juga tampak menebal dan kasar. Sering juga dijumpai bahwa Si Kecil mengalami rabun senja, artinya mata mulai buram begitu sore hari.

Dokter yang memeriksanya akan dapat melihat bahwa Si Kecil mengalami keratomalasia. Keratomalasia adalah kondisi mata terkikis pada bagian korneanya, oleh karena kekurangan air mata yang diakibatkan defisiensi vitamin A.

Untuk menjaga kesehatan mata Si Kecil dan mencegah kondisi seperti keratomalasia akibat defisiensi vitamin A, penting untuk memberikan asupan nutrisi yang cukup. 

Selain itu, jika Si Kecil mengalami gejala mata merah, yuk cari tahu penyebab dan cara mengatasinya pada artikel ini agar Bunda dapat mengambil tindakan yang tepat untuk menjaga kesehatan mata Si Kecil: Penyebab Mata Merah pada Anak dan Cara Mengatasinya.

Kekurangan Vitamin D

Defisiensi vitamin D ditandai gejala tulang kaki yang terlihat bengkok meskipun Si Kecil tidak pernah mengalami trauma. 

Ini disebabkan Si Kecil tidak memperoleh ASI, makanan, atau paparan sinar matahari yang cukup. Akibatnya, tak ada sinar matahari yang membantu metabolisme kalsium dan fosfor. Sehingga kalsium dan fosfor yang sudah diasup oleh Si Kecil tidak bisa terserap oleh usus dengan optimal.

Dampaknya, tak ada cukup kalsium untuk membentuk tulang dan gigi. Dokter akan melihat bahwa tulang Si Kecil tidak tumbuh dengan wajar. Lempeng tulangnya membesar, sehingga persendiannya ikut membesar. Penyakit ini, umumnya disebut rakitis.

Agar kondisi ini tidak terjadi, Bunda perlu menjaga asupan vitamin ini dengan menyajikan makanan terbaiknya. Selain itu, memahami angka kebutuhan vitamin D harian juga tak kalah penting. Dengan mengetahui hal ini, tentu asupannya terjaga dan manfaat vitamin ini dapat berdampak pada tumbuh kembangnya. Untuk informasi lengkap terkait hal ini, yuk baca artikel berikut: Vitamin D untuk Anak: Manfaat dan Sumber Terbaiknya

Kekurangan Vitamin E

Defisiensi vitamin E nampak ketika Si Kecil kurang gesit ketika melakukan gerakan sederhana, misalnya mengambil benda. Sebab, dia tidak memakan cukup vitamin E, padahal vitamin E berfungsi penting untuk kordinasi ototnya.

Bunda perlu tahu bahwa vitamin E juga berguna untuk melindungi nutrisi asam lemak esensial dan vitamin A yang telah diasup oleh Si Kecil. Penting sekali bagi Bunda untuk memberi sumber utama vitamin E ini, yaitu ASI, susu, buah, sayuran, gandum, kuning telur, hati, dan mentega.

Kekurangan Vitamin K

Anak yang mengalami defisiensi vitamin K umumnya gampang mimisan dan mudah memar. Ini terjadi karena proses pembekuan darah dalam tubuh yang seharusnya berlangsung pada anak normal, tidak terjadi dengan baik pada Si Kecil. 

Pembekuan darah ini dibantu oleh vitamin K, maka Si Kecil sangat perlu memperoleh sumber vitamin yang satu ini. Sumber vitamin K ialah susu, sayuran, hati, dan daging.

Kekurangan Vitamin C

Gejala defisiensi vitamin C juga mirip seperti vitamin K, yaitu gampang mimisan dan mudah memar.  Sebab vitamin C juga sama-sama berperan dalam proses pembekuan darah dalam tubuh. Baca artikel berikut yuk Bun untuk mengetahui Penyebab Mimisan Pada Anak dan Cara Mengatasinya

Salah satu penyakit yang umum terjadi karena defisiensi ini ialah penyakit scurvy. Gejalanya ialah lemas, anemia, bintik-bintik merah pada kulit, dan adanya gusi yang mudah berdarah juga.

Bunda dapat menghindari ini dengan banyak memberikan sumber vitamin C, antara lain ASI, susu, busah, dan sayuran. Vitamin C sendiri juga berfungsi untuk meningkatkan penyerapan zat besi, sehingga jika kekurangan, maka dapat terjadi penyakit anemia karena kekurangan zat besi pada Si Kecil.

Kekurangan Vitamin B12

Defisiensi vitamin B12 antara lain tampak dari gejala berupa gampang lelah, lesu, dan pucat. Sebab Si Kecil kekurangan sel darah merah, dan sel ini dibentuk dari vitamin B12.

Dokter yang memeriksanya juga akan mendapatkan bahwa fungsi saraf Si Kecil ini cenderung berkurang, sehingga ia cenderung kesulitan menjalankan fungsi motorik tubuhnya. Dampaknya, perkembangan motoriknya terganggu dan ia mengalami kegagalan tumbuh kembang.

Vitamin B12 tidak hanya berfungsi pada saraf-saraf motorik saja, tetapi juga berfungsi pada saraf lainnya, termasuk saraf otak. Vitamin B12 merupakan salah satu dari sekian banyak vitamin yang mendukung kecerdasan otak, sehingga penting sekali untuk memenuhi kebutuhannya. Yuk, Bunda, lihat vitamin-vitamin yang menyokong fungsi otak ini di sini: Vitamin untuk Meningkatkan Kecerdasan Otak Anak

Sebetulnya, Si Kecil sudah memiliki vitamin B12 dalam tubuhnya sejak lahir, karena didapatkannya semenjak dari dalam kandungan Bunda. Namun, jumlah ini akan berkurang setelah usia 8 bulan, dan Bunda perlu menggantikannya dengan ASI, susu, daging, kuning telur, dan produk olahan susu lainnya.

Bunda, kekurangan vitamin memang berdampak besar bagi kesehatan Si Kecil. Tapi dengan mengenali tanda-tandanya dan evaluasi medis yang tepat, dampak negatifnya juga dapat dicegah. Jika dokter telah mengkonfirmasinya, segera evaluasi pola makan Si Kecil ya, Bunda.