Parenting Parenting

Tanda Anak Mengalami Pica Disorder yang Wajib Bunda Ketahui

Morinaga ♦ 5 November 2026
Tanda Anak Mengalami Pica Disorder yang Wajib Bunda Ketahui

Ciri utama anak mengalami pica disorder adalah kebiasaan memakan benda yang bukan makanan seperti es, tanah, kapur, kertas, atau rambut secara berulang. Kebiasaan unik ini berlangsung secara konsisten selama minimal satu bulan penuh pada anak yang telah berusia di atas dua tahun. Perilaku ini bukan sekadar fase rewel makan biasa, melainkan sebuah sinyal peringatan penting dari tubuh Si Kecil. Bunda perlu mewaspadai perilaku menelan benda asing ini karena bisa menjadi pertanda Si Kecil kekurangan zat gizi vital seperti zat besi dan zinc.

Mengenali tanda pica sejak dini sangat penting untuk membantu Bunda membedakan antara fase eksplorasi oral yang wajar dan masalah hidden hunger. Kelaparan tersembunyi akibat kekurangan zat besi dan zinc ini memerlukan penanganan NUTRISI yang tepat dan segera dari orang tua. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kelangkaan zat gizi penting tersebut dapat memengaruhi kelancaran tumbuh kembang Si Kecil secara keseluruhan. Pemahaman yang baik mengenai kondisi ini akan memudahkan Bunda dalam mengambil langkah pencegahan yang efektif demi memelihara kesehatan Si Kecil.

Apa Saja Ciri-ciri Pica Disorder pada Anak?

Ciri utama dari pica disorder adalah konsumsi benda nonmakanan secara berulang dan menetap selama minimal rentang waktu satu bulan. Bunda dapat mengenali beberapa contoh benda nonmakanan yang kerap dikonsumsi oleh anak penderita pica disorder berikut ini:

  • Es batu atau serpihan es secara berlebihan.
  • Tanah, debu, atau lumpur dari halaman rumah.
  • Kapur tulis, serpihan cat dinding, atau kertas.
  • Helai rambut, benang, sabun, atau potongan kain.

Selain kebiasaan memakan benda yang tidak wajar, Bunda juga wajib memperhatikan beberapa tanda fisik penyerta yang muncul akibat anemia. Gejala fisik ini umumnya ditandai dengan tampilan wajah dan kulit Si Kecil yang tampak pucat, kondisi tubuh yang mudah lelah dan lemas saat beraktivitas, serta bentuk kuku yang melengkung cekung menyerupai sebuah sendok.

Secara acuan medis yang berlaku, diagnosis pica disorder baru relevan diterapkan pada Si Kecil yang telah melewati usia dua tahun. Batas rentang usia ini ditetapkan sesuai dengan standar medis perkembangan kemampuan kognitif dan sensorik anak. Pengawasan yang cermat dari orang tua sangat dibutuhkan agar benda-benda berbahaya tidak sampai masuk ke dalam saluran pencernaan anak. Apabila gejala perilaku dan perubahan fisik tersebut terlihat bersamaan, Bunda sebaiknya segera membawa Si Kecil ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Kapan Kebiasaan Memasukkan Benda ke Mulut Menjadi Pica?

Perbedaan utama antara perilaku eksplorasi sensorik yang normal dan gangguan pica terletak pada faktor usia anak serta konsistensi menelan benda asing. Bunda dapat memahami perbedaan mendasar antara kedua kondisi tersebut melalui perbandingan berikut ini:

Parameter Perbandingan Eksplorasi Normal Pica Disorder
Rentang Usia Terjadi pada bayi di bawah usia 2 tahun Terjadi pada anak di atas usia 2 tahun
Perilaku Utama Sekadar mengunyah atau mengemut benda Menelan benda nonmakanan secara sengaja
Konsistensi Perilaku Bersifat sementara dan mudah dialihkan Menetap dan berulang minimal 1 bulan
Dampak Kesehatan Bagian alami dari tumbuh kembang anak Indikasi anemia atau kekurangan zat gizi

Kondisi memasukkan benda ke mulut baru dikategorikan sebagai pica apabila kebiasaan menelan benda nonmakanan terus berlanjut secara menetap setelah Si Kecil berusia di atas dua tahun. Bunda sebaiknya tidak panik berlebihan ketika Si Kecil sedang mengalami fase tumbuh gigi yang sering membuat Si Kecil ingin menggigit berbagai benda. Namun, Bunda tetap harus meningkatkan kewaspadaan apabila pola menelan benda asing ini terjadi berulang kali dan menjadi kebiasaan harian. Evaluasi asupan harian Si Kecil perlu dilakukan secara menyeluruh jika kebiasaan menyimpang tersebut tidak kunjung mereda seiring bertambahnya usia anak.

Mengapa Hidden Hunger Bisa Memicu Perilaku Pica pada Anak

Kekurangan zat besi dan zinc yang tidak terdeteksi atau dikenal dengan istilah hidden hunger merupakan salah satu pemicu utama munculnya pica disorder. Temuan penelitian ilmiah membuktikan bahwa kadar zat besi dan zinc plasma pada anak yang mengalami pica cenderung jauh lebih rendah dibandingkan anak tanpa pica. Defisiensi mineral penting ini dapat mengganggu fungsi indera perasa sehingga memicu dorongan tidak wajar untuk mengunyah benda tertentu. Oleh karena itu, kecukupan NUTRISI makro dan mikro menjadi kunci utama dalam memelihara keseimbangan fungsi organ serta perilaku makan Si Kecil.

Kondisi hidden hunger sering kali sulit disadari oleh orang tua karena Si Kecil dapat terlihat tetap aktif serta memiliki berat badan yang normal. Padahal, kekurangan mikronutrisi yang berlangsung lama di dalam tubuh dapat menghambat POTENSI tumbuh kembang Si Kecil secara optimal. Jika tidak segera diatasi, masalah kekurangan gizi tersembunyi ini juga berisiko menurunkan daya tahan tubuh Si Kecil terhadap penyakit. Bunda perlu lebih proaktif dalam memastikan menu harian Si Kecil menyajikan ragam makanan bergizi seimbang setiap hari.

Dampak Pica terhadap Kesehatan Anak

Kebiasaan konsumsi benda nonmakanan akibat pica dapat menimbulkan berbagai gangguan pada saluran pencernaan Si Kecil, mulai dari sembelit hingga sumbatan usus. Keparahan dampak kesehatan ini sangat tergantung pada jenis, ukuran, serta sifat dari benda asing yang tertelan oleh Si Kecil. Beberapa risiko medis yang sering muncul meliputi konstipasi kronis, obstruksi usus, hingga luka pada dinding cerna akibat benda yang tajam atau keras. Komplikasi pencernaan ini tentu akan mengganggu proses penyerapan zat gizi harian yang sangat dibutuhkan oleh tubuh Si Kecil.

Selain gangguan pencernaan, ada pula bahaya tambahan yang sangat membahayakan keselamatan Si Kecil seperti risiko infeksi cacing parasit dari tanah atau keracunan timbal akibat memakan serpihan cat. Kondisi keracunan zat kimia maupun infeksi parasit membutuhkan tindakan medis darurat agar tidak menimbulkan komplikasi organ yang lebih berat. Mengenali ciri pica sejak awal sangat penting agar dampak buruk pada kesehatan pencernaan Si Kecil dapat dicegah sedini mungkin. Pengawasan lingkungan bermain serta pemberian makanan yang sehat menjadi perlindungan terbaik untuk menjaga keselamatan Si Kecil.

Cara Mengatasi Pica pada Anak

Langkah utama untuk mengatasi pica yang dipicu oleh hidden hunger adalah melalui intervensi gizi seimbang yang kaya akan kandungan zat besi dan zinc. Berikut ini beberapa sumber makanan kaya zat besi dan zinc yang sangat baik untuk disajikan kepada Si Kecil:

  • Daging merah tanpa lemak dan hati ayam.
  • Telur ayam segar.
  • Sayur bayam dan sayuran hijau lainnya.
  • Kacang-kacangan dan olahannya.

Sebelum melakukan penanganan mandiri di rumah, Bunda sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak. Dokter akan melakukan evaluasi medis menyeluruh dan pemeriksaan tes darah untuk memastikan tingkat kekurangan zat besi atau zinc pada Si Kecil. Setelah diagnosis dipastikan, pemenuhan zat besi harian Si Kecil juga dapat ditunjang melalui pemberian susu pertumbuhan yang diformulasikan tinggi zat besi. Langkah pendampingan gizi ini bermanfaat untuk melengkapi kebutuhan harian Si Kecil sekaligus mendukung perkembangan fisik serta kecerdasannya.

Pemilihan asupan harian yang tepat merupakan bagian penting dari strategi pencegahan hidden hunger agar Si Kecil terhindar dari risiko pica disorder. Bunda perlu bersikap cermat dalam memilih produk konsumsi harian yang sanggup memenuhi standar kebutuhan gizi Si Kecil pada masa pertumbuhannya. Bunda dapat mempelajari panduan selengkapnya mengenai pilihan susu tinggi zat besi untuk Si Kecil sebagai panduan praktis dalam menyusun menu harian. Mari berikan perhatian penuh pada pemenuhan gizi harian agar Si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat, aktif, dan cerdas.

Referensi

  • Pica. (2025, August 7). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22944-pica
  • Attia, E., & Walsh, B. T. (2025, September 8). Pica. Merck Manual Consumer Version. https://www.merckmanuals.com/home/mental-health-disorders/feeding-and-eating-disorders/pica
  • Nemours Kids Health. (2023, September). Pica. KidsHealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/pica.html
  • Singhi, S., Ravishanker, R., Singhi, P., & Nath, R. (2003). Low plasma zinc and iron in pica. Indian Journal of Pediatrics, 70(2), 139–143. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12661808/