Parenting Parenting

Penanganan Kejang Demam pada Anak di Rumah yang Tepat

Morinaga ♦ 2 Oktober 2026
Penanganan Kejang Demam pada Anak di Rumah yang Tepat

Langkah pertama saat Si Kecil kejang demam adalah tetap tenang, lalu baringkan ia di permukaan datar yang aman, miringkan tubuhnya ke satu sisi, longgarkan pakaian di sekitar leher, dan jangan masukkan apa pun ke dalam mulutnya. Lihat jam dan catat kapan kejang mulai. Menjaga jalan napas tetap terbuka jauh lebih penting daripada mencoba menghentikan gerakan tubuhnya (IDAI, 2016).

Rasanya memang tidak sesederhana itu waktu kejadian. Mata Si Kecil mendelik, tubuhnya kaku lalu menyentak, dan Bunda mungkin sempat membeku beberapa detik di pinggir kasur. Wajar. Sebagian besar kejang demam berhenti sendiri dalam beberapa menit, dan urutan di bawah ini bisa dijalankan tanpa alat khusus.

Apa yang Terjadi Saat Anak Kejang Demam?

Kejang demam adalah kondisi kejang yang muncul saat suhu tubuh Si Kecil (usia 6 bulan–5 tahun) meningkat drastis, namun bukan disebabkan oleh infeksi di otak. Jika kejang berlangsung kurang dari 15 menit, melibatkan seluruh tubuh, dan tidak berulang dalam waktu 24 jam, kondisi ini disebut kejang demam sederhana. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), jenis kejang ini tergolong jinak dan umumnya tidak memerlukan prosedur medis lanjutan yang rumit, seperti EEG atau pemindaian kepala.

Sebenarnya, kejang terjadi akibat lonjakan aktivitas listrik sementara di otak karena suhu tubuh yang meningkat. Jadi, Bunda tidak perlu mencoba menghentikan gerakan kejang tersebut secara paksa. Fokus utama Bunda saat kejang berlangsung hanyalah dua hal: memastikan Si Kecil aman dari cedera dan menjaga jalan napasnya tetap terbuka.

Urutan Pertolongan Pertama Kejang Demam di Rumah

Bunda, saat Si Kecil mengalami kejang, jangan panik. Ikuti urutan pertolongan berikut dengan tenang. Tidak perlu khawatir jika urutannya sedikit meleset, yang terpenting adalah keselamatan Si Kecil tetap terjaga.

  1. Amankan Si Kecil di tempat datar: Lantai merupakan tempat paling aman agar Si Kecil tidak terjatuh. Jauhkan barang-barang keras seperti meja atau kursi di sekitar tubuhnya (Cleveland Clinic, 2024).
  2. Miringkan tubuh Si Kecil ke satu sisi: Posisi ini membantu air liur atau muntahan mengalir keluar, sehingga jalan napasnya tetap bersih. Ganjal kepalanya dengan bantal tipis atau tangan Bunda agar lebih nyaman.
  3. Beri ruang agar Si Kecil bernapas lega: Longgarkan kancing baju atau kain yang melilit area leher dan dada agar ia bisa bernapas dengan lebih bebas.
  4. Catat durasi kejang: Cek waktu di ponsel atau jam dinding saat kejang dimulai dan berakhir. Informasi durasi ini sangat membantu dokter untuk menentukan penanganan selanjutnya (IDAI, 2016).
  5. Temani sampai ia benar-benar sadar: Setelah kejang berhenti, Si Kecil mungkin merasa lemas, bingung, atau tertidur. Ini adalah proses pemulihan yang wajar (Cleveland Clinic, 2024). Dampingi ia dengan pelukan lembut dan suara yang menenangkan. Ingat, jangan berikan apa pun melalui mulut, termasuk air minum, sampai ia benar-benar sadar sepenuhnya.

Segera hubungi ambulans atau bawa Si Kecil ke IGD jika kejang berlangsung 5 menit atau lebih, atau jika Bunda melihat tanda bahaya yang akan dibahas nanti (NHS, 2023). Tetap fokus pada keselamatan Si Kecil, ya. Jika dokter pernah meresepkan diazepam rektal (obat lewat dubur) karena Si Kecil punya riwayat kejang, gunakanlah sesuai panduan yang sudah diberikan (IDAI, 2016). Namun, jika tidak ada instruksi tersebut, mohon jangan memberikan apa pun melalui mulut, termasuk obat atau minuman.

Empat Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Sebagian besar tindakan yang keliru saat kejang sebenarnya lahir dari naluri alami Bunda untuk menolong Si Kecil. Niat Bunda tentu sangat baik, namun ada beberapa tindakan yang justru berisiko mencederai Si Kecil. Berikut ini hal-hal yang perlu dihindari agar Bunda tetap bisa memberikan pertolongan yang aman.

Sendok atau Jari di Mulut Anak

Lidah menempel kuat pada dasar mulut dan tidak akan masuk ke tenggorokan, meski rahangnya tampak kaku. Mohon jangan memaksa memasukkan sendok, jari, atau kain ke dalam mulutnya, karena berisiko mematahkan gigi, melukai gusi, atau justru menyumbat jalan napas. NHS secara tegas melarang orang tua memasukkan apa pun ke mulut anak yang sedang kejang (NHS, 2023).

Menahan Tubuh yang Sedang Kejang

Gerakan menyentak saat kejang memang terlihat menakutkan, tapi tidak bisa dihentikan dengan pelukan atau pegangan erat. Menindih atau menahan lengan dan kaki Si Kecil justru berisiko mencederai sendi dan ototnya. Cleveland Clinic juga menyarankan untuk tidak menahan gerakan tersebut (Cleveland Clinic, 2024). Tugas Bunda cukup lindungi kepalanya agar tidak terbentur.

Memberikan Minum atau Obat Sebelum Anak Sadar

Saat kejang, refleks menelan Si Kecil belum bekerja dengan baik. Memberikan air putih atau sirup obat saat itu sangat berbahaya karena cairan berisiko masuk ke saluran napas dan paru-paru. Hal ini justru jauh lebih berisiko daripada demam itu sendiri. Jadi, mohon bersabar dan tunggu sampai Si Kecil benar-benar bangun, bisa merespons, dan menelan dengan normal.

Air Dingin Tidak Menghentikan Kejang

Menyiram, mengompres, atau memandikan Si Kecil dengan air dingin tidak akan menghentikan kejang. NHS juga menyarankan untuk tidak menurunkan suhu tubuh dengan cara ini atau melepas semua pakaiannya (NHS, 2023). Hal ini justru membuat tubuh Si Kecil menggigil dan bekerja lebih keras. Kompres hangat hanya disarankan untuk kenyamanan setelah ia sadar, dan untuk cara menurunkan demam yang tepat, selalu ikuti saran dokter anak.

Kapan Harus ke IGD atau Memanggil Ambulans

Meski sebagian besar kejang demam berhenti dengan sendirinya dalam waktu 2–3 menit (NHS, 2023), Bunda perlu segera mencari bantuan medis di IGD jika menemui kondisi berikut:

  • Kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
  • Kejang berulang dalam 24 jam yang sama, atau muncul kembali sebelum Si Kecil sadar sepenuhnya.
  • Ada gangguan pernapasan, seperti napas tersengal, berhenti sejenak, atau bibir dan wajah yang tampak membiru.
  • Si Kecil tidak kunjung sadar atau masih terlihat sangat mengantuk lebih dari satu jam setelah kejang berhenti.
  • Ini adalah kejang pertama Si Kecil, sehingga dokter perlu memastikan penyebab demamnya bukan karena infeksi serius (AAP, 2011).
  • Usia Si Kecil di bawah 6 bulan atau di atas 5 tahun, karena memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di luar rentang usia kejang demam biasa.
  • Kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh, atau satu sisi tubuh tampak lemah setelah kejang reda.

Jika Bunda merasa ragu atau khawatir, jangan ragu untuk segera ke IGD. Tidak ada dokter yang akan menyesalkan keputusan Bunda untuk datang lebih cepat.

Menjaga Suhu Tubuh Setelah Kejang Reda

Kejang memang sudah berhenti, namun perhatian Bunda tetap dibutuhkan. Beberapa anak mungkin mengalami kejang demam kembali, terutama yang berusia di bawah 12 bulan, memiliki riwayat kejang dalam keluarga, atau kejang saat suhu tubuh belum terlalu tinggi (IDAI, 2016).

Setiap anak memiliki ambang batas suhu yang berbeda, sehingga tidak ada cara pasti untuk mencegah kejang berulang. Ingat, obat penurun demam seperti parasetamol bertujuan memberikan kenyamanan, bukan mencegah kejang, dan dosisnya harus sesuai anjuran dokter berdasarkan berat badan Si Kecil, ya (IDAI, 2016; Cleveland Clinic, 2024). 

Berikut hal yang bisa Bunda lakukan di rumah untuk menjaga kenyamanan Si Kecil:

  • Pantau suhu berkala: Ukur suhu tubuhnya setiap 2–4 jam, bahkan saat ia tertidur, dan catat hasilnya untuk membantu dokter memantau pola demamnya.
  • Berikan kompres hangat: Kompres di area lipatan ketiak dan paha jika Si Kecil terlihat gelisah karena demam. Ini sangat membantu kenyamanannya.
  • Penuhi kebutuhan cairan: Tawarkan minum sedikit demi sedikit sesering mungkin, bisa berupa air putih, ASI, atau kuah sup untuk mencegah dehidrasi.
  • Pilih pakaian yang nyaman: Pakaikan baju katun yang tipis. Hindari selimut tebal karena bisa memerangkap panas. Jika ia menggigil, cukup gunakan kain selapis yang mudah dibuka.

Langkah-langkah sederhana ini adalah wujud kasih sayang Bunda yang sangat berarti bagi pemulihan Si Kecil. Saat demam mulai reda beberapa hari kemudian dan nafsu makan Si Kecil kembali, Bunda bisa mulai menyajikan makanan sehat dengan menu seimbang secara bertahap untuk mendukung pemulihan nutrisinya.

Demam berikutnya mungkin datang lagi, dan Bunda yang sudah pernah melewati satu malam seperti ini setidaknya sudah hafal urutannya. Pelajari apa saja yang memicu kejang susulan dan cara mengantisipasinya di Risiko Kejang Demam Bisa Kembali Saat Suhu Tubuh Naik.

Referensi

  • Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Rekomendasi penatalaksanaan kejang demam. UKK Neurologi IDAI. https://www.idai.or.id/buku/rekomendasi-penatalaksanaan-kejang-demam
  • American Academy of Pediatrics, Subcommittee on Febrile Seizures. (2011). Febrile seizures: Guideline for the neurodiagnostic evaluation of the child with a simple febrile seizure. Pediatrics, 127(2), 389-394. https://doi.org/10.1542/peds.2010-3318
  • Cleveland Clinic. (2024). Febrile seizure. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/febrile-seizure
  • NHS. (2023). Febrile seizures. https://www.nhs.uk/conditions/febrile-seizures/