Anak usia 4 tahun sebaiknya tidak rutin mengonsumsi susu pertumbuhan untuk usia 1 tahun. Sesekali, seperti saat persediaan di rumah habis, sehingga terpaksa memberika satu atau dua gelas susu tersebut tidak membahayakan. Hindari pemberian susu formula yang tidak sesuai usia secara terus-menerus, mengingat komposisi kalori, protein, dan mikronutrisinya dirancang khusus untuk kebutuhan batita dengan pola makan terbatas.
Perbedaan ini didasari oleh kebutuhan tubuh Si Kecil. Saat berusia 1 tahun, anak masih dalam tahap belajar makan menu keluarga dan sangat bergantung pada susu. Sementara itu, anak usia 4 tahun sudah lebih aktif; berlari seharian, memanjat, mulai mengenal huruf, serta makan tiga kali sehari ditambah camilan. Produsen menyusun tahapan susu berdasarkan fase perkembangan ini, dengan berpedoman pada Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI (2019).
Kenapa Kemasan Susu Pertumbuhan Memakai Jenjang Usia
Angka Kecukupan Gizi (AKG) menunjukkan jumlah zat gizi harian yang direkomendasikan dan akan meningkat seiring pertambahan usia anak. Merujuk pada tabel AKG dalam Permenkes Nomor 28 Tahun 2019, kebutuhan energi anak usia 1–3 tahun adalah 1350 kkal dengan protein 20 gram per hari. Bagi kelompok usia 4–6 tahun, angkanya meningkat menjadi 1400 kkal dan protein 25 gram. Lonjakan kebutuhan nutrisi paling signifikan terlihat pada kalsium; dari 650 mg menjadi 1000 mg per hari, serta zat besi yang naik dari 7 mg menjadi 10 mg (Kementerian Kesehatan RI, 2019).
Total kebutuhan gizi tersebut harus dipenuhi melalui kombinasi makanan dan minuman sepanjang hari. Susu hanyalah salah satu sumbernya, dengan porsi yang seharusnya semakin berkurang seiring bertambahnya konsumsi makanan padat. Berikut adalah perbandingan kebutuhannya:
- Anak usia 1 tahun: Masa peralihan dari MPASI ke menu keluarga membuat anak sering menolak tekstur baru, sehingga porsi makan mereka masih terbatas. Akibatnya, susu masih memegang peranan besar dalam memenuhi asupan harian, dan formula untuk kelompok usia ini dirancang khusus untuk kondisi tersebut.
- Anak usia 4 tahun: Si Kecil sudah mengonsumsi menu keluarga tiga kali sehari dengan aktivitas fisik yang lebih aktif. Pertumbuhan tulang yang pesat serta perkembangan otak saat di PAUD atau TK meningkatkan kebutuhan kalsium, zat besi, dan energinya, sementara porsi susu sebaiknya mulai dikurangi.
Apa yang Terjadi Jika Anak 4 Tahun Terus Minum Susu Usia 1 Tahun?
Satu atau dua hari tidak akan mengubah kondisi kesehatan Si Kecil secara drastis. Kebiasaan rutin selama berbulan-bulan, terutama jika susu dikonsumsi dalam jumlah banyak hingga menggeser jadwal makan, maka hal tersebut yang perlu diwaspadai. Berikut ini tiga poin penting yang patut Bunda perhatikan:
- Nutrisi otak mungkin tidak sesuai porsi: Zat besi, DHA, dan kolin adalah nutrisi penting untuk perkembangan otak yang kebutuhannya berubah seiring bertambahnya usia (Prado & Dewey, 2014). Formula usia 1 tahun diformulasikan untuk kebutuhan batita, bukan untuk anak prasekolah yang aktivitas belajarnya sudah lebih kompleks.
- Ketidakseimbangan kalori dan lemak: Susu batita umumnya mengandung porsi lemak yang disesuaikan untuk anak yang belum mengonsumsi banyak variasi makanan. Jika anak 4 tahun mengonsumsinya secara rutin bersamaan dengan tiga kali makan utama, asupan kalorinya bisa berlebih. Sebaliknya, susu juga bisa membuat anak terlalu kenyang sehingga keinginan untuk makan berkurang. IDAI mencatat bahwa kebiasaan mengganti makanan dengan susu formula secara berlebihan dapat menghambat anak dalam belajar makan dengan baik (Galuh, 2016).
- Risiko kekurangan kalsium: Kebutuhan kalsium anak usia 4–6 tahun hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 1–3 tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Susu untuk batita tidak dirancang untuk memenuhi angka tersebut. Jika asupan kalsium dari makanan harian juga minim, pertumbuhan tulang bisa terhambat pada masa pertumbuhan pesat ini.
Perlu diingat bahwa susu pertumbuhan hanyalah pelengkap dalam usia berapa pun. Makanan keluarga yang beragam tetap menjadi sumber gizi utama Si Kecil dan tidak ada susu yang dapat menggantikan peran makanan bergizi tersebut.
Apa yang Mungkin Bunda Perlu Perhatikan pada Tubuh Si Kecil?
Tubuh anak tidak memiliki lampu peringatan. Berbagai gejala di bawah ini bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari kurang tidur hingga kebosanan. Gunakan daftar ini sebagai bahan diskusi dengan dokter anak sebelum Bunda menarik kesimpulan apa pun mengenai susu yang dikonsumsi Si Kecil.
- Cepat mengeluh lelah atau lemas: Anak prasekolah biasanya bergerak nyaris tanpa henti. Bila staminanya sering habis sebelum jam tidur siang, dokter dapat menilai apakah asupan energi dan zat besinya sudah pas untuk tingkat aktivitasnya.
- Lapar lagi tidak lama setelah makan: Bisa berarti porsi makannya belum mengikuti tubuh yang makin besar, bisa juga soal pilihan makanannya. Catat pola makannya selama beberapa hari sebelum berkonsultasi.
- Grafik pertumbuhan melandai: Ini satu-satunya tanda yang benar-benar bisa diukur. Timbang dan ukur Si Kecil rutin di posyandu atau saat kontrol, lalu lihat arah garisnya di KMS atau buku KIA. Penilaian status gizi memang dilakukan lewat pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala (Galuh, 2016). Garis yang mendatar beberapa bulan berturut-turut layak dibawa ke dokter anak.
- Sulit fokus saat diajak belajar hal baru: Anak 4 tahun memang gampang bosan, jadi ini tanda yang paling lemah. Kalau muncul bersama tanda lain di atas, sampaikan juga ke dokter.
Cara Memilih Susu Pertumbuhan untuk Anak Prasekolah
Memilih susu pertumbuhan terkadang membingungkan karena banyaknya pilihan di rak minimarket. Bunda bisa menyaring pilihan tersebut dengan memperhatikan poin-poin berikut:
- Cek jenjang usia di bagian depan kemasan: Bunda disarankan mencari kemasan dengan keterangan usia 3 tahun ke atas untuk anak 4 tahun. Prioritaskan informasi ini sebelum memeriksa klaim keunggulan lainnya.
- Perhatikan kandungan gula tambahan: World Health Organization (2015) menyarankan pembatasan asupan gula bebas anak di bawah 10 persen dari total energi harian, atau idealnya di bawah 5 persen. Memilih susu dengan keterangan 0 gram sukrosa, yang rasa manisnya hanya berasal dari laktosa alami susu, memudahkan Bunda menjaga asupan gula Si Kecil tanpa perlu berhitung rumit.
- Periksa nutrisi pendukung otak: Kandungan DHA, zat besi, dan kolin menjadi nutrisi yang paling umum dicari dalam daftar komposisi. Bahan lain seperti fosfolipid dan sfingomielin terkadang juga ditambahkan. Tidak semua nutrisi tersebut harus ada dalam satu produk, sehingga Bunda cukup memastikan pemahaman terhadap label nutrisi yang tertera.
- Dukungan pencernaan dan daya tahan: Prebiotik GOS, Bifidobacterium, dan laktoferin adalah kandungan yang biasa dicantumkan untuk mendukung pencernaan dan daya tahan tubuh anak yang mulai banyak beraktivitas di luar rumah. Anggap ini nilai tambah.
Membaca label dengan cermat merupakan bagian dari rutinitas Bunda sehari-hari, seperti menyusun menu keluarga, menakar porsi, hingga memilih pelengkap yang pas untuk usianya. Susu apa pun yang dipilih akan tetap menjadi pendamping piring makan Si Kecil, dan dokter anak senantiasa menjadi tempat bertanya bila ada hal yang terasa kurang pas. Untuk panduan yang lebih rinci mengenai pemilihan tahapan yang tepat, Bunda dapat melihatnya di Rekomendasi Susu Pertumbuhan untuk Anak 3 Tahun Ke Atas.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. https://peraturan.bpk.go.id/Details/138621/permenkes-no-28-tahun-2019
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Mutu Gizi, Pelabelan, dan Periklanan Susu Formula Pertumbuhan dan Formula Pertumbuhan Anak Usia 1-3 Tahun. https://peraturan.go.id/id/permenkes-no-49-tahun-2014
- Prado, E. L., & Dewey, K. G. (2014). Nutrition and brain development in early life. Nutrition Reviews, 72(4), 267-284. https://doi.org/10.1111/nure.12102
- Galuh, M. (2016). Sulit makan pada bayi dan anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
- World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028