Gizi & Nutrisi Gizi & Nutrisi

5 Manfaat Madu untuk Anak dan Fakta soal Kecerdasan Otaknya

Morinaga ♦ 21 Juli 2022
5 Manfaat Madu untuk Anak dan Fakta soal Kecerdasan Otaknya

Madu boleh diberikan kepada anak berusia di atas 1 tahun dan dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang, tetapi madu tidak membuat anak cerdas secara langsung. Manfaat yang paling kuat buktinya adalah meredakan batuk dan membantu tidur saat batuk. Untuk bayi di bawah 1 tahun, madu tidak boleh diberikan sama sekali karena risiko botulisme.

Banyak orang tua tumbuh dengan kebiasaan sesendok madu setiap pagi, dan wajar kalau Bunda ingin meneruskannya ke Si Kecil. Supaya kebiasaan itu tetap aman dan masuk akal, ada baiknya Bunda tahu mana manfaat yang didukung penelitian dan mana yang sekadar cerita turun-temurun.

Apakah madu bisa membuat otak anak lebih cerdas?

Jawaban jujurnya, belum ada bukti bahwa madu meningkatkan kecerdasan atau daya ingat anak. Klaim soal madu untuk otak umumnya berasal dari penelitian madu Tualang asal Malaysia. Sebuah tinjauan atas penelitian tersebut mencatat perbaikan memori pada hewan percobaan dan pada sejumlah kecil orang dewasa, lalu menyimpulkan bahwa mekanismenya masih berupa hipotesis dan perlu diteliti lebih jauh (Othman dkk., 2015).

Hasil seperti itu menarik untuk dunia riset, tapi belum bisa diterjemahkan menjadi saran untuk Si Kecil. Jenis madunya spesifik dan subjeknya bukan anak balita. Jadi kalau Bunda mencari madu untuk kecerdasan otak anak atau madu untuk daya ingat anak, madu belum bisa diandalkan untuk tujuan itu.

Perkembangan otak anak dipengaruhi banyak hal sekaligus, mulai dari gizi harian yang lengkap, tidur yang cukup, sampai stimulasi lewat bermain dan bercakap-cakap dengan orang tua. Madu bisa hadir di piring Si Kecil sebagai makanan biasa, tanpa beban harapan bahwa ia akan mengubah kemampuan belajarnya.

Kandungan madu dan vitamin di dalamnya

Sebagian besar isi madu adalah gula alami, terutama fruktosa dan glukosa, ditambah sedikit air. Vitamin seperti vitamin B dan vitamin C, juga mineral seperti zat besi dan kalium, memang ada, tetapi jumlahnya kecil sekali dibandingkan sayur, buah, telur, atau ikan. Sesendok madu tidak bisa menggantikan sumber vitamin dari makanan utama Si Kecil.

WHO memasukkan gula yang secara alami ada di dalam madu ke dalam kelompok gula bebas, sama seperti gula pasir yang ditambahkan ke makanan dan minuman. WHO menyarankan agar asupan gula bebas pada orang dewasa dan anak dijaga di bawah 10 persen dari total energi harian, dan idealnya di bawah 5 persen (World Health Organization, 2015). Karena itu madu tetap perlu diperlakukan seperti gula, walaupun asalnya dari alam.

Madu juga mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang bersifat antioksidan, dan kadarnya berbeda-beda tergantung jenis bunga sumber nektarnya. Kandungan ini sering disebut dalam klaim kesehatan madu, padahal porsi yang dikonsumsi anak terlalu kecil untuk diharapkan memberi efek besar.

Lima manfaat madu untuk anak di atas 1 tahun

Manfaat pertama dan yang paling banyak diteliti adalah meredakan batuk. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut madu dapat membantu mengencerkan lendir dan melonggarkan batuk pada anak berusia 1 tahun ke atas (American Academy of Pediatrics, 2022). Manfaat kedua berkaitan dengan yang pertama, yaitu tidur yang lebih tenang. Tinjauan Cochrane menemukan bahwa anak batuk yang diberi madu cenderung mengalami lebih sedikit gangguan tidur dibandingkan anak yang tidak diberi apa-apa (Oduwole dkk., 2018).

Manfaat ketiga adalah energi. Gula alami dalam madu cepat diserap tubuh, sehingga sedikit madu bisa menjadi tambahan energi untuk anak yang aktif bergerak, asalkan porsinya tetap kecil. Manfaat keempat datang dari senyawa antioksidan yang sudah disebut sebelumnya, yang menjadi bagian dari keragaman zat yang Si Kecil dapat dari makanan alami.

Manfaat kelima lebih praktis. Setetes madu bisa membuat yoghurt tawar, oatmeal, atau irisan buah lebih mudah diterima oleh anak yang sedang memilih-milih makanan. Ini cara yang wajar untuk mengenalkan makanan sehat, selama madu dipakai sebagai penambah rasa dan tidak sampai membuat Si Kecil terbiasa dengan rasa yang terlalu manis.

Madu untuk batuk pada anak usia 1 tahun ke atas

Batuk yang membangunkan seisi rumah pukul dua pagi adalah momen yang dikenal hampir semua orang tua. Untuk anak berusia 1 tahun ke atas, AAP menyarankan Bunda mempertimbangkan madu sebanyak 2 sampai 5 mL sesuai kebutuhan untuk membantu meredakan batuk (American Academy of Pediatrics, 2022). Madu bisa diberikan langsung dari sendok takar atau dilarutkan dalam air hangat.

Tinjauan Cochrane atas enam uji klinis dengan 899 anak menyimpulkan bahwa madu kemungkinan meredakan batuk lebih baik dibanding plasebo bila diberikan sampai tiga hari, dan hasilnya kira-kira setara dengan dekstrometorfan, salah satu bahan sirup batuk (Oduwole dkk., 2018). Para peneliti juga mencatat bahwa kualitas buktinya rendah sampai sedang, dan sebagian besar anak dalam penelitian hanya menerima madu selama satu malam.

Madu membantu meringankan rasa tidak nyaman, tetapi tidak mengatasi penyebab batuk. Segera bawa Si Kecil ke dokter anak bila batuknya disertai napas cepat atau berbunyi, demam tinggi, tampak lemas, sulit minum, atau batuk tidak membaik setelah beberapa hari.

Kenapa bayi di bawah 1 tahun tidak boleh diberi madu

Madu dapat mengandung spora bakteri penyebab botulisme. Sistem pencernaan bayi belum matang, sehingga spora tersebut bisa tumbuh di ususnya dan menghasilkan racun yang melemahkan otot. CDC menegaskan bahwa madu tidak boleh diberikan kepada anak yang berusia kurang dari 1 tahun, termasuk produk yang dibuat dengan madu dan dot yang dicelup madu (Centers for Disease Control and Prevention, 2026).

Aturan ini berlaku untuk semua jenis madu, termasuk madu murni, madu hutan, maupun madu yang dicampur ke dalam bubur MPASI. Memanaskan madu atau mencampurnya ke makanan hangat tidak membuatnya aman untuk bayi. Kalau ada anggota keluarga yang menyarankan madu untuk bayi yang rewel atau batuk, Bunda punya alasan kuat untuk menolaknya dengan halus.

Untuk bayi, ASI adalah makanan terbaik. ASI eksklusif dianjurkan sampai usia 6 bulan, lalu dilanjutkan bersama MPASI yang sesuai sampai usia 2 tahun atau lebih. Bila bayi batuk, pilek, atau sulit tidur, konsultasikan langsung ke dokter anak atau bidan sebelum memberi apa pun di luar ASI dan MPASI.

Berapa kali sehari anak boleh minum madu

Tidak ada anjuran resmi yang menetapkan berapa gram madu per hari untuk anak sehat. Yang ada adalah batas gula bebas dari WHO, dan madu termasuk di dalamnya (World Health Organization, 2015). Artinya, sesendok kecil madu sesekali sudah cukup, terutama bila Si Kecil juga mendapat gula dari kue, minuman kemasan, atau camilan manis lain di hari yang sama.

Untuk batuk, panduan AAP memakai takaran 2 sampai 5 mL sesuai kebutuhan, dan dalam penelitian madu umumnya diberikan sebelum tidur (American Academy of Pediatrics, 2022; Oduwole dkk., 2018). Di luar kondisi batuk, cukup jadikan madu sebagai pemanis sesekali, tidak setiap kali Si Kecil makan atau minum.

Bila Si Kecil punya kondisi kesehatan tertentu, seperti kelebihan berat badan, kadar gula darah yang perlu dipantau, atau riwayat alergi, bicarakan dulu dengan dokter anak atau ahli gizi sebelum menjadikan madu kebiasaan harian.

Madu sebelum tidur dan kesehatan gigi Si Kecil

Banyak keluarga memberi madu menjelang tidur, terutama saat anak batuk. Kebiasaan ini boleh untuk anak berusia 1 tahun ke atas, dengan satu catatan penting. Madu itu lengket dan manis, sehingga mudah menempel di permukaan gigi dan menjadi makanan bagi bakteri penyebab gigi berlubang.

Urutan yang aman adalah memberi madu lebih dulu, lalu menyikat gigi Si Kecil sebelum ia benar-benar tidur. Kalau Si Kecil sudah keburu terlelap, setidaknya beri ia beberapa teguk air putih. Hindari kebiasaan tidur sambil mengemut dot atau botol berisi air madu, karena gigi akan terpapar gula sepanjang malam.

Menyikat gigi dua kali sehari dan pemeriksaan rutin ke dokter gigi tetap menjadi dasar perawatan gigi anak. Madu sebelum tidur bisa masuk ke dalam rutinitas itu tanpa mengorbankan gigi susu yang sedang tumbuh.

Nutrisi yang benar-benar mendukung otak Si Kecil

Kalau tujuan Bunda adalah mendukung perkembangan otak, fokuskan perhatian pada NUTRISI harian yang lengkap. Zat besi, DHA dan omega 3, kolin, protein, serta yodium termasuk zat gizi yang dibutuhkan otak yang sedang tumbuh pesat di usia 1 sampai 3 tahun. Sumbernya bisa dari ikan, telur, daging merah, hati ayam, kacang-kacangan, serta sayur berwarna hijau tua.

Variasi menu jauh lebih berarti daripada satu bahan makanan tertentu. Piring yang berisi makanan pokok, lauk hewani, sayur, dan buah setiap hari memberi Si Kecil bahan baku yang ia perlukan untuk tumbuh, sementara bermain, membaca bersama, dan tidur yang cukup membantu otaknya memakai bahan baku tersebut. Kreasi menu bisa Bunda temukan di kumpulan resep Morinaga.

Untuk anak usia 1 sampai 3 tahun, susu pertumbuhan seperti Morinaga Chil Kid Platinum bisa menjadi salah satu pelengkap pola makan bergizi seimbang, dengan makanan keluarga yang beragam tetap sebagai sumber gizi utama. Madu pun punya tempatnya di dapur, sebagai pemanis sesekali dan penolong saat batuk, sementara urusan kecerdasan tetap bertumpu pada gizi lengkap, stimulasi, dan kasih sayang sehari-hari.

Referensi

  • Othman, Z., Zakaria, R., Hussain, N. H. N., Hassan, A., Shafin, N., Al-Rahbi, B., & Ahmad, A. H. (2015). Potential role of honey in learning and memory. Medical Sciences, 3(2), 3-15. https://doi.org/10.3390/medsci3020003
  • World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. World Health Organization. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK285538/
  • American Academy of Pediatrics. (2022). Coughs and colds: Medicines or home remedies? HealthyChildren.org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chest-lungs/Pages/Coughs-and-Colds-Medicines-or-Home-Remedies.aspx
  • Oduwole, O., Udoh, E. E., Oyo-Ita, A., & Meremikwu, M. M. (2018). Honey for acute cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2018(4), CD007094. https://doi.org/10.1002/14651858.CD007094.pub5
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Botulism prevention. CDC. https://www.cdc.gov/botulism/prevention/index.html